DEMOCRAZY.ID – Pernyataan mengejutkan datang dari fisikawan peraih Nobel, David Gross.
Ilmuwan yang memenangkan Nobel Prize in Physics itu memprediksi peluang umat manusia bertahan hingga 50 tahun ke depan sangat kecil.
Ucapan tersebut ia sampaikan dalam wawancara dengan Live Science, tak lama setelah menerima penghargaan “Special Breakthrough Prize in Fundamental Physics” senilai USD 3 juta.
Alih-alih optimistis soal masa depan sains, Gross justru mengungkap kekhawatiran besar terhadap nasib umat manusia.
“Saat ini, sebagian waktu saya habiskan untuk memberitahu orang-orang bahwa peluang Anda hidup 50 tahun lagi sangat kecil,” ujarnya.
Menurut Gross, ancaman terbesar bukanlah bencana alam atau teknologi, melainkan perang nuklir.
Ia menyebut probabilitas terjadinya konflik nuklir saat ini meningkat menjadi sekitar 2% per tahun-dua kali lipat dibandingkan era Perang Dingin yang diperkirakan hanya 1% per tahun.
Dengan probabilitas tersebut, Gross menghitung “expected lifetime” atau rata-rata waktu sebelum perang nuklir terjadi hanya sekitar 35 tahun.
Perhitungan ini ia ibaratkan seperti konsep “half-life” dalam fisika radioaktif.
Situasi global yang memanas turut memperkuat kekhawatiran tersebut. I
a menyoroti konflik besar di Eropa, ketegangan di Timur Tengah termasuk Iran, serta potensi eskalasi antara India dan Pakistan.
Menurutnya, kondisi dunia saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu karena jumlah negara pemilik senjata nuklir terus bertambah.
“Sekarang ada sembilan negara nuklir. Bahkan tiga saja sudah jauh lebih rumit daripada dua. Perjanjian runtuh, norma hilang, dan senjata semakin tidak terkendali,” jelasnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, Gross menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi memperburuk situasi.
Ia khawatir suatu saat sistem otomatis bisa mengambil keputusan terkait peluncuran senjata nuklir karena kecepatannya yang melampaui manusia.
Ia bahkan menyebut kondisi dunia saat ini “gila” karena minimnya komunikasi dan perjanjian antarnegara dalam satu dekade terakhir.
“Kita memasuki perlombaan senjata yang luar biasa,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa langkah sederhana seperti dialog antarnegara sebenarnya bisa menjadi solusi awal untuk meredam risiko.
Gross juga mengaitkan prediksinya dengan Fermi Paradox, yakni pertanyaan mengapa manusia belum menemukan peradaban cerdas lain di alam semesta.
Menurutnya, kemungkinan besar peradaban tersebut menghancurkan diri mereka sendiri sebelum berkembang lebih jauh.
“Jawabannya adalah mereka bunuh diri sendiri,” katanya lugas.
Di sisi lain, Gross menilai ancaman perubahan iklim masih memiliki harapan untuk diatasi.
Berbeda dengan risiko nuklir yang sangat bergantung pada keputusan politik global, perubahan iklim dinilai masih bisa dikendalikan karena merupakan hasil aktivitas manusia.
“Kita yang menciptakan masalahnya, kita juga yang bisa menghentikannya,” pungkasnya.
Pernyataan David Gross ini menjadi peringatan keras di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Apakah umat manusia masih punya waktu untuk berubah, atau justru bergerak menuju skenario terburuk? Waktu yang akan menjawab.
Sumber: Detik