Profil Pete Hegseth: Menteri Perang AS Yang ‘Membenci’ Islam, Punya Tato Kafir

DEMOCRAZY.ID – Hubungan pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat memasuki babak baru yang sangat strategis.

Pada Senin (13/4/2026) waktu setempat, Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Perang (Secwar) AS Pete Hegseth bertemu di Pentagon untuk menyepakati pembentukan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (Major Defense Cooperation Partnership/MDCP).

Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan peningkatan signifikan dalam hubungan bilateral kedua negara.

“Kedua pemimpin sepakat untuk meningkatkan hubungan pertahanan menjadi Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama,” lapor Parnell melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) pada Selasa (14/4/2026).

Kesepakatan ini jadi sorotan di tengah isu keterbukaan akses udara RI terhadap militer AS. Selain itu, sosok Pete Hegseth, menteri pertahanan pilihan Donald Trump yang dikenal memiliki latar belakang militer kuat namun penuh dengan catatan kontroversial.

Profil Pete Hegseth

Lahir dengan nama lengkap Peter Brian Hegseth pada 6 Juni 1980 di Minneapolis, Minnesota, ia tumbuh dalam keluarga kelas menengah.

Ayahnya, Brian Hegseth, adalah seorang pelatih bola basket, sementara ibunya, Penelope “Penny” Hegseth, berprofesi sebagai pelatih karier.

Pendidikan dan Karier Militer

Hegseth memiliki latar belakang akademis yang mentereng:

Bachelor of Arts (B.A.) dalam bidang Politik dari Princeton University (2003).

Master of Public Policy (M.P.P.) dari Harvard University (2013).

Di dunia militer, ia bertugas di Army National Guard selama hampir dua dekade (2002–2021) dengan pangkat terakhir Mayor.

Rekam jejak tempurnya mencakup penempatan di Teluk Guantanamo, Irak, dan Afghanistan. Atas dedikasinya, ia dianugerahi dua Bronze Star Medals, Combat Infantryman Badge, dan Expert Infantryman Badge.

Kehidupan Pribadi

Hegseth saat ini menikah dengan Jennifer Rauchet (sejak 2019). Sebelumnya, ia pernah menikah dua kali dengan Samantha Deering (2010–2018) dan Meredith Schwarz (2004–2009). Dari hubungan-hubungan tersebut, ia memiliki tujuh anak (termasuk anak tiri dari Jennifer).

Karier Pete Hegseth

Setelah masa tugas aktifnya, Hegseth memimpin organisasi advokasi veteran seperti Vets for Freedom dan Concerned Veterans for America (CVA).

Namun, namanya semakin meroket saat bergabung dengan Fox News pada 2014, di mana ia menjadi pembawa acara populer “Fox & Friends Weekend” hingga akhir 2024.

Pada November 2024, Donald Trump menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan.

Meskipun sempat menghadapi hambatan dalam proses konfirmasi Senat terkait isu pelecehan seksual dan kebiasaan minum alkohol, ia akhirnya dilantik pada 25 Januari 2025 dengan dukungan suara penentu dari Wakil Presiden JD Vance.

Kontroversi Pete Hegseth

Sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan ke-29, Hegseth melakukan berbagai langkah radikal yang memicu perdebatan luas:

  • Mengubah nama Departemen Pertahanan kembali menjadi “Department of War” (Departemen Perang) untuk memulihkan citra kekuatan militer.
  • Penghapusan DEI: Menghentikan semua kantor keberagaman, ekuitas, dan inklusi (DEI offices), melarang perayaan identitas gender, serta menegakkan kembali aturan fisik (tinggi dan berat badan) yang ketat.
  • Aturan Tempur yang Agresif: Menghapus aturan pelibatan (rules of engagement) yang dianggap “terlalu benar secara politik” demi melepaskan kekuatan militer AS secara penuh.
  • Persenjataan Domestik: Menginstruksikan anggota National Guard di Washington D.C. untuk membawa senjata sampingan sebagai bagian dari agenda anti-kejahatan.
  • Perombakan Kepemimpinan: Baru-baru ini meminta Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Randy George untuk segera pensiun demi penyegaran kepemimpinan yang sesuai dengan visi Trump.

Skandal dan Isu Keamanan Siber

Kepemimpinan Hegseth tidak luput dari badai skandal:

  1. Kebocoran Data Signal: Laporan Pentagon menyebutkan Hegseth menggunakan aplikasi Signal untuk membahas rencana serangan militer terhadap Houthi di Yaman, yang melibatkan istri dan pengacaranya dalam grup chat tersebut. Hal ini dianggap membahayakan keselamatan pasukan AS.
  2. Konflik dengan Senat: Ia mencoba memotong gaji pensiun dan pangkat Senator Mark Kelly sebagai balasan atas kritik sang senator. Langkah ini akhirnya dibatalkan oleh hakim federal karena dianggap inkonstitusional.
  3. Pembatasan Pers: OJK Departemen Pertahanan digugat oleh New York Times terkait pembatasan akses pers di Pentagon.

Pandangan Ideologis dan Geopolitik

Hegseth dikenal sebagai penganut Kristen konservatif garis keras. Ia merupakan anggota Pilgrim Hill Reformed Fellowship, sebuah gereja yang terkait dengan pastor kontroversial Doug Wilson.

Pandangannya sering kali bersifat radikal. Dalam bukunya, Pete Hegseth menegaskan bahwa Islam “bukanlah agama damai”.

Terkait perang dengan Iran yang sedang berlangsung, Hegseth dan Trump berada di jalur yang sama, sering membanggakan kemajuan perang tersebut.

Pete Hegseth pernah viral karena rangkaian foto yang diunggah di platform X. Dikutip via The Guardian, Hegseth memiliki tato bertuliskan “Kafir”.

Istilah ini merupakan kata dalam bahasa Arab yang digunakan dalam agama Islam untuk merujuk pada orang yang tidak beriman. Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, tato tersebut juga terlihat dalam unggahan foto Instagram miliknya pada Juli 2024.

Munculnya tato tersebut memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan di media sosial.

Banyak pihak menilai tindakan Hegseth sangat menyinggung umat Muslim, terutama di tengah upaya militer AS untuk menunjukkan inklusivitas terhadap keberagaman agama.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kontroversi terkait tato yang melibatkan Hegseth.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan ini juga pernah memamerkan tato lain yang menunjukkan ketertarikan pada “estetika tentara salib” (crusader aesthetics), sebuah tren yang belakangan ini semakin populer di kalangan kelompok sayap kanan di Amerika Serikat.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya