DEMOCRAZY.ID – Selama berabad-abad, narasi kesaktian para leluhur kita melegenda, mulai dari kebal peluru hingga mampu menghilang.
Namun, muncul sebuah pertanyaan menggelitik yang sering menjadi perdebatan: “Mengapa kita tidak menggunakan santet saja untuk melenyapkan para jenderal Belanda di meja makan mereka?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun jawabannya melibatkan analisis mendalam dari sudut pandang sosiologi, sejarah, hingga prinsip spiritual yang dipegang teguh oleh para pahlawan bangsa.
Secara ilmiah, ilmu hitam seringkali bekerja pada ruang lingkup psikologis.
Para ahli antropologi menyebutkan bahwa serangan gaib memerlukan “frekuensi” yang sama antara pengirim dan penerima.
Tentara Belanda datang dengan pola pikir rasional dan skeptisisme yang tinggi.
“Santet atau guna-guna seringkali membutuhkan media ketakutan dan kepercayaan dari korbannya. Ketika penjajah masuk dengan logika sains, serangan yang bersifat sugestif tersebut kehilangan ‘daya ledaknya’ karena tidak ada resonansi psikologis.”
Alasan logis lainnya adalah struktur kolonialisme itu sendiri. Penjajahan bukan dilakukan oleh satu individu, melainkan sebuah institusi bernama VOC dan Pemerintah Hindia Belanda.
Jika satu Gubernur Jenderal tewas karena sakit misterius, sistem birokrasi mereka akan langsung menunjuk penggantinya dalam hitungan hari.
Para pejuang kita menyadari bahwa yang harus dihancurkan adalah kekuatan militer dan struktur politiknya, bukan sekadar nyawa satu orang per orang melalui jalur belakang.
Mayoritas pemimpin perang di Indonesia adalah tokoh agama dan ksatria yang menjunjung tinggi moralitas.
Bagi mereka, kemerdekaan adalah sesuatu yang suci.
“Menggunakan jasa jin atau ilmu hitam dianggap sebagai tindakan yang menodai kemurnian perjuangan. Para pahlawan seperti Pangeran Diponegoro atau Jenderal Sudirman lebih memilih jalur ‘Jihad’ yang terang-terangan dan mengandalkan perlindungan Tuhan, daripada bermain dengan kekuatan gelap yang dilarang agama.”
Secara teknis-tradisional, santet membutuhkan benda pribadi korban seperti rambut, potongan kuku, atau foto.
Di masa perang, sangat mustahil bagi seorang pejuang untuk mendekati kamar pribadi jenderal Belanda yang dijaga ketat hanya untuk mengambil sehelai rambut.
Risiko tertangkap sangat tinggi, dan strategi gerilya di lapangan jauh lebih efektif serta nyata hasilnya.
Bangsa ini butuh sejarah yang bisa dibanggakan dengan kepala tegak.
Kemerdekaan yang diraih melalui tetesan darah, keringat, dan strategi tempur yang cerdas menciptakan identitas bangsa yang kuat.
Jika Indonesia merdeka karena bantuan dukun, kita tidak akan pernah mengenal kisah heroik Bambu Runcing atau kehebatan taktik Supit Urang.
Sejarah mencatat kita menang karena kita berani menghadapi peluru, bukan karena mengirim paku secara sembunyi-sembunyi.
Sumber: Akurat