Tingkat Kepuasan di Atas 80 Persen, Upaya Merongrong Prabowo Dinilai Enggak Laku!

DEMOCRAZY.ID – Upaya sejumlah pihak yang mencoba merongrong Presiden Prabowo Subianto di tengah situasi geopolitik saat ini, dinilai hanya riak kecil yang tidak berarti.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, menegaskan dinamika politik semacam ini tidak akan mampu mengguncang stabilitas nasional.

Adjie menilai, isu adanya gangguan terhadap kepemimpinan Prabowo perlu dilihat secara proporsional sebagai dinamika biasa di fase awal pemerintahan.

“Isu adanya upaya merongrong Presiden Prabowo Subianto di tengah gejolak geopolitik perlu dilihat secara proporsional. Dalam politik, terutama di fase awal pemerintahan, dinamika seperti ini relatif wajar dan tidak selalu berarti ancaman serius terhadap stabilitas nasional,” kata Adjie, Jumat (27/3/2026).

Faktanya, posisi Prabowo justru sedang di atas angin.

Berdasarkan data survei LSI Denny JA pada Januari 2025, tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap Prabowo masih sangat tinggi, yakni di atas 80 persen.

Angka ini menjadi bukti bahwa legitimasi rakyat masih bulat di belakang Presiden.

Selain dukungan publik yang masif, Prabowo juga dibentengi oleh koalisi pemerintahan yang besar dan dominan di tingkat elite.

Hal ini membuat manuver-manuver politik dari pihak yang berseberangan menjadi tidak relevan.

“Dari perspektif opini publik, sejauh ini belum ada indikasi kuat bahwa isu tersebut mengguncang stabilitas politik secara luas. Ada beberapa alasan; pertama, legitimasi elektoral Prabowo masih kuat sebagai presiden terpilih (survei LSI Denny JA pada januari 2025, approval rating Prabowo masih diatas 80%. Kedua, Koalisi pemerintahan relatif besar dan dominan. Ketiga, Publik cenderung lebih fokus pada isu ekonomi dan dampak global, bukan konflik elite,” jelas Adjie.

Adjie menambahkan, masyarakat saat ini lebih cerdas karena tidak terjebak dalam konflik antarelite.

Isu ekonomi dan dampak global jauh lebih menjadi prioritas warga ketimbang narasi gangguan politik yang sengaja diproduksi.

Namun, ia mengingatkan agar narasi gangguan ini tetap dikelola agar tidak menjadi risiko di masa depan.

Jika terus dibiarkan tanpa kontrol, ada potensi hal ini memengaruhi persepsi ketidakstabilan secara perlahan.

“Namun demikian, jika narasi ‘gangguan’ ini terus diproduksi dan tidak dikelola dengan baik, ada potensi menurunkan kepercayaan publik secara perlahan serta menyebabkan munculnya persepsi instabilitas di kalangan elite. Artinya, bukan ancaman langsung, tapi bisa menjadi risiko jangka menengah jika bereskalasi,” pungkasnya.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya