Jokowi Curhat ke Prabowo soal Gibran yang Terus Dibully: Setiap Hari Kena Serangan di Medsos!

DEMOCRAZY.ID – Kunjungan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke kediaman Presiden Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, ternyata menyimpan cerita menarik.

Bukan sekadar silaturahmi, pertemuan dua tokoh besar ini disebut-sebut juga membahas nasib politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang belakangan kerap jadi sasaran bully di media sosial.

Dalam beberapa bulan terakhir, Gibran memang menjadi sorotan tajam publik.

Setiap aktivitasnya dari menghadiri acara kenegaraan hingga turun langsung ke masyarakat, selalu saja menimbulkan reaksi beragam.

Sebagian menilai langkah Gibran sebagai bentuk pembelajaran politik, tapi sebagian lainnya menganggapnya pencitraan dini menuju 2029.

Tak heran jika Jokowi, sebagai ayah sekaligus mentor politik Gibran, merasa perlu membicarakan hal itu langsung dengan Prabowo.

“Jokowi Sedih, Gibran Selalu Dibully”

Pengamat sosial politik Adian Radiatus menyebut, Jokowi memang menunjukkan sikap emosional terkait situasi yang dihadapi sang putra sulung.

“Jokowi sedih, setiap kegiatan Gibran selalu dibully,” ujar Adian yang dikutip HukamaNews.com dari Rmol, Senin 6 Oktober 2025.

Menurut Adian, langkah Jokowi melapor kepada Presiden Prabowo bisa dimaknai sebagai bentuk kegelisahan pribadi.

Namun, ia menilai sikap itu juga mengandung ironi tersendiri di tengah posisi Jokowi yang dulunya dikenal sangat kuat secara politik.

“Ironi yang tak layak sama sekali,” tambahnya.

Gibran dan Beban Publik Figur Muda

Sejak menjabat sebagai Wakil Presiden, Gibran memang kerap menjadi target sentimen di ruang digital.

Di X (Twitter) dan TikTok, video kegiatannya sering dijadikan bahan sindiran, bahkan meme.

Bagi sebagian warganet, gaya komunikasinya yang santai dianggap terlalu berani untuk seorang pejabat tinggi negara.

Namun, bagi pendukungnya, Gibran justru merepresentasikan generasi baru politik Indonesia yang berani, cepat tanggap, dan dekat dengan publik muda.

“Gibran itu generasi baru. Masalahnya, publik belum terbiasa dengan gaya kepemimpinan yang lugas tapi informal,” kata analis komunikasi politik dari Universitas Padjadjaran, Dina Widiastuti, saat dihubungi terpisah.

Menurut Dina, tekanan di media sosial terhadap Gibran justru mencerminkan betapa kuatnya ekspektasi masyarakat terhadap figur muda di kursi kekuasaan.

“Kritik keras itu tanda perhatian. Tapi kalau terus-menerus negatif, bisa berdampak pada legitimasi publik,” ujarnya.

Curhat Politik di Tengah Transisi Kekuasaan

Pertemuan Jokowi–Prabowo disebut-sebut berlangsung hangat dan tertutup.

Meski belum ada keterangan resmi dari pihak Istana, sejumlah sumber politik menyebut Jokowi juga membahas dinamika yang terjadi di sekitar keluarganya pasca lengser dari jabatan presiden.

“Setiap hari media sosial selalu riuh dengan hal-hal negatif tentang Jokowi dan keluarganya,” kata Adian menambahkan.

Fenomena “serangan siber” terhadap tokoh politik memang menjadi pola umum dalam lanskap digital Indonesia.

Pasca Pilpres 2024, ruang maya menjadi lebih bising dengan narasi pro dan kontra yang kerap melibatkan nama Jokowi maupun Gibran.

Sosiolog digital dari Universitas Indonesia, R. Ananto Wirawan, menyebut fenomena ini sebagai bentuk “post-power backlash”, yaitu resistensi publik terhadap mantan penguasa yang masih memiliki pengaruh besar di pemerintahan baru.

“Publik seolah ingin memastikan tidak ada ‘bayang-bayang Jokowi’ dalam pemerintahan Prabowo-Gibran. Maka setiap gerak mereka akan terus diawasi,” jelasnya.

Bully atau Kritik Publik yang Perlu Dikelola

Meski tampak sederhana, persoalan “dibully” yang dirasakan Gibran bisa berimbas pada kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.

Beberapa pengamat menilai, semestinya pemerintah membedakan antara kritik konstruktif dengan serangan pribadi.

Langkah Jokowi melapor kepada Prabowo bisa pula dibaca sebagai upaya untuk menormalisasi dinamika politik dan mencegah konflik persepsi di antara pendukung masing-masing.

“Ini bukan sekadar soal Gibran dibully, tapi juga bagaimana menjaga wibawa pemerintahan di tengah era digital yang hiperreaktif,” tutur Adian.

Pertemuan Jokowi–Prabowo mungkin hanya berlangsung beberapa jam, namun pesan yang tersirat cukup dalam: politik Indonesia tengah memasuki fase baru di mana empati, komunikasi, dan citra digital memainkan peran penting.

Publik kini menuntut pejabat tidak hanya kuat di panggung pemerintahan, tetapi juga tangguh menghadapi gelombang opini di media sosial.

Dan bagi Gibran, ujian ini bisa menjadi batu loncatan penting dalam perjalanan politiknya,antara bertahan sebagai simbol regenerasi, atau tumbang oleh derasnya arus persepsi publik.

Sumber: HukamaNews

Artikel terkait lainnya