4 Fakta AS Turunkan Kapal Perang Cari Ranjau di Selat Hormuz, Diduga Ada Ribuan dan Lokasi Misterius!

DEMOCRAZY.ID – Militer Amerika Serikat (AS) mengerahkan kapal perangnya untuk melakukan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz yang diduga dipasang Iran.

Dilansir Al Jazeera, operasi ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang kembali memanas dan mengancam jalur energi global.

Komando Pusat AS United States Central Command (CENTCOM) menyebut misi ini bertujuan membuka kembali jalur pelayaran aman bagi kapal dagang internasional, terutama pengangkut minyak dan gas yang melintasi salah satu jalur paling vital di dunia.

Di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) merespons dengan merilis peta navigasi baru Selat Hormuz yang mengarahkan kapal lebih dekat ke pantai Iran, sekaligus memperingatkan potensi ranjau di zona pelayaran utama.

Berikut 4 fakta penting dari perkembangan terbaru tersebut:

1. Ranjau Laut, Senjata Murah dengan Dampak Besar di Perang Modern

Ranjau laut digambarkan sebagai senjata paling hemat biaya dalam peperangan modern.

Menurut analisis Foreign Research Institute (FPRI) di Philadelphia, ranjau modern dapat diproduksi dengan biaya puluhan ribu dolar, namun mampu menimbulkan kerugian ekonomi dan strategis yang jauh lebih besar.

Para analis maritim memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.000 hingga 6.000 ranjau laut yang sebagian besar diproduksi di dalam negeri.

Ranjau tersebut umumnya dibagi dalam tiga kategori berdasarkan cara kerjanya terhadap target.

Ranjau kontak merupakan desain tradisional seperti M-08 yang berasal dari Perang Dunia I dan meledak saat bersentuhan dengan lambung kapal.

Ranjau dasar laut atau ranjau pengaruh seperti Maham-2 diletakkan di dasar laut dan dipicu oleh sinyal akustik, magnetik, atau tekanan dari kapal yang lewat.

Jenis ini lebih sulit dideteksi dan lebih berbahaya karena dapat meledak tanpa kontak langsung dengan kapal.

Sementara itu, ranjau “pintar” atau roket seperti EM-52 buatan China bekerja dengan sistem peluncuran roket ketika mendeteksi kapal di atasnya pada kedalaman hingga 200 meter.

2. Lokasi Ranjau di Selat Hormuz Masih Misterius, Picu Ketegangan Militer

Tidak ada kepastian mengenai lokasi penempatan ranjau di Selat Hormuz.

Iran belum secara resmi mengonfirmasi apakah atau di mana ranjau telah dipasang di wilayah tersebut.

Namun, keberadaan kapal perang Amerika Serikat yang melakukan pencarian menunjukkan Washington juga belum mengetahui lokasi pasti ranjau tersebut.

Para analis militer menilai penempatan ranjau kemungkinan telah dirancang untuk mengeksploitasi geografi Teluk dan mempersempit jalur pelayaran internasional.

Peta yang dirilis IRGC disebut menunjukkan upaya mengarahkan lalu lintas kapal lebih dekat ke wilayah pantai Iran.

Pensiunan perwira angkatan laut Rumania, Alexandru Cristian Hudisteanu, mengatakan penambangan sistematis dalam skenario militer digunakan untuk menghalangi akses ke wilayah perairan tertentu.

Ia menyebut seluruh selat bisa ditambang atau sebagian jalur diblokir untuk membatasi pergerakan kapal.

Menurutnya, lokasi fisik ranjau sering kali kurang penting dibandingkan efek psikologis yang ditimbulkannya terhadap pelayaran.

3. Ketegangan Selat Hormuz Memuncak, Klaim AS dan Iran Saling Bertolak Belakang

Ketegangan politik di sekitar Selat Hormuz dilaporkan telah mencapai puncaknya.

Pada awal Maret, seorang penasihat senior IRGC menyatakan selat tersebut “tertutup” bagi musuh, meski kapal tertentu tetap diizinkan melintas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pasukan AS telah menghancurkan seluruh 28 kapal penyebar ranjau milik Iran.

Ia juga memperingatkan konsekuensi besar jika ancaman ranjau tidak segera ditangani.

Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) hanya mengonfirmasi serangan terhadap 16 kapal Iran dalam gelombang awal.

Penghancuran seluruh armada kapal penyebar ranjau tersebut belum dapat diverifikasi oleh sumber independen.

4. Tantangan Besar AS dalam Pembersihan Ranjau Laut di Laut Strategis

Proses pembersihan ranjau atau mine countermeasures (MCM) dikenal lambat, metodis, dan berisiko tinggi.

Proses ini melibatkan pencarian ranjau dengan sonar beresolusi tinggi serta penyapuan mekanis atau magnetik untuk memicu ledakan.

Namun, Angkatan Laut AS disebut menghadapi “kesenjangan ranjau” akibat berkurangnya aset khusus MCM dalam beberapa tahun terakhir.

Empat kapal MCM kelas Avenger di Bahrain telah dinonaktifkan pada September, disusul penghentian helikopter MH-53E Sea Dragon pada Agustus.

Strategi AS kini bergantung pada kapal tempur kecil bermodul MCM, namun hanya satu kapal, USS Canberra, yang tersedia di kawasan tersebut.

Para ahli menilai kapal MCM efektif untuk tugas spesifik, tetapi rentan terhadap serangan sehingga membutuhkan perlindungan besar dari kapal perang lain saat beroperasi.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya