VIRAL Ceramah Jusuf Kalla di UGM, Pernyataan Konflik Poso-Ambon Picu Polemik!

DEMOCRAZY.ID – Ceramah Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), bertajuk Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar di Masjid UGM menjadi sorotan publik.

Sorotan muncul setelah potongan video ceramah tersebut viral di media sosial.

Dalam narasi yang beredar, Jusuf Kalla dituding menistakan ajaran Kekristenan.

Polemik terutama dipicu oleh pernyataan JK yang membahas konflik Poso dan Ambon serta penggunaan istilah “mati syahid” oleh pihak-pihak yang bertikai.

Enam Poin Utama Ceramah Jusuf Kalla

1. Perdamaian sebagai Amal Tertinggi

JK menekankan bahwa upaya mendamaikan pihak yang berselisih memiliki nilai amal yang sangat tinggi, bahkan lebih utama dari ibadah tertentu.

Ia mengutip hadis Rasulullah yang menyebutkan bahwa mendamaikan orang yang bertikai merupakan perbuatan mulia.

Saya diminta berbicara tentang pendamaian. Ada hadist Rasulullah yang intinya begini.

Rasul bertemu dengan para sahabatnya dan Rasulullah bertanya: ‘Apakah ada di antara Anda mengetahui apa amal yang lebih baik daripada salat dan puasa?’ Sahabat berjawab, ‘Tidak tahu Rasulullah.’

Rasulullah berkata, “Tindakan atau upaya yang amalnya lebih tinggi daripada salat dan puasa adalah orang yang mendamaikan orang yang berselisih. Jadi mendamaikan orang dalam hal ini (berselisih) tentu mempunyai amal yang tinggi. Karena itu kenapa Rasulullah artinya perdamaian itu hal yang sangat penting, Itulah pandangan tentang pedamaian dari Rasulullah,” ujar Jusuf Kalla, mengutip YouTube Masjid Kampus UGM.

2. Perdamaian dan Konflik Saling Berkaitan

Menurut JK, untuk menciptakan perdamaian, akar konflik harus dipahami terlebih dahulu.

Ia menyoroti bahwa dunia saat ini masih dipenuhi konflik, termasuk di negara-negara dengan mayoritas Muslim.

3. Kritik terhadap Konflik Global

JK juga menyinggung konflik global, termasuk ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Ia menilai penggunaan kekerasan oleh tokoh-tokoh dunia dapat memperburuk situasi dan memicu eskalasi konflik.

4. Akar Konflik di Indonesia

JK menjelaskan bahwa sebagian besar konflik di Indonesia berakar dari ketidakadilan.

Ia mencontohkan sejumlah konflik besar seperti PRRI/Permesta, DI/TII, hingga konflik Poso dan Ambon yang awalnya dipicu ketidakpuasan, namun berkembang menjadi konflik agama.

5. Pernyataan “Mati Syahid” yang Jadi Polemik

Bagian ini menjadi sorotan utama.

JK menjelaskan bahwa konflik Poso dan Ambon sulit dihentikan karena kedua pihak menggunakan narasi agama untuk membenarkan kekerasan.

Ia menggambarkan bahwa pada saat itu, baik pihak Islam maupun Kristen memiliki keyakinan keliru bahwa membunuh lawan atau mati dalam konflik akan membawa mereka ke surga.

Pernyataan inilah yang kemudian dipotong dan tersebar di media sosial tanpa konteks utuh, sehingga memicu polemik.

6. Peran Indonesia dalam Perdamaian Dunia

JK menegaskan bahwa Indonesia memiliki kewajiban konstitusional untuk berkontribusi dalam perdamaian dunia.

Ia menyinggung peran Soekarno melalui Konferensi Asia Afrika sebagai tonggak diplomasi perdamaian global.

Penjelasan Juru Bicara JK

Juru bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan bahwa isi ceramah tersebut bukan pandangan pribadi JK, melainkan gambaran realitas sosial saat konflik Poso dan Ambon terjadi.

Menurutnya, pada masa itu kedua pihak yang bertikai memang menggunakan narasi agama untuk membenarkan tindakan kekerasan.

“Pak JK hanya menyampaikan realitas sosiologis saat konflik berlangsung, bukan pendapat pribadi,” ujar Husain.

Ia menambahkan, konflik tersebut menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar, yakni sekitar 2.000 orang di Poso dan 5.000 orang di Ambon.

Husain menegaskan, dalam ceramahnya JK justru mengingatkan bahwa tidak ada agama yang membenarkan pembunuhan sebagai jalan menuju surga.

“Pak JK menegaskan bahwa jika saling membunuh, tidak ada yang masuk surga, melainkan sebaliknya,” katanya.

Inti Pesan Ceramah

Husain menyebut ceramah tersebut merupakan lesson learned dari pengalaman JK dalam menyelesaikan konflik.

Pendekatan yang dilakukan adalah dengan meluruskan pemahaman yang keliru di kedua pihak, sehingga konflik dapat dihentikan.

Dengan demikian, polemik yang muncul dinilai berangkat dari potongan pernyataan yang tidak utuh dan keluar dari konteks.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya