DEMOCRAZY.ID – Meski kursi RI-1 telah diserahkan, Presiden ke-7 RI Joko Widodo seolah enggan menjauh dari panggung kekuasaan.
Di tengah ramainya safari politik yang ia lakukan, aroma ambisi untuk tetap memegang kendali pun kian menyengat.
Pengamat politik Adi Prayitno bahkan secara blak-blakan menyebut bahwa masa depan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sepenuhnya bergantung pada “restu” sang mantan Presiden.
Bagi Adi Prayitno, citra Gibran dan PSI saat ini hanyalah perpanjangan tangan dari narasi politik Jokowi.
Tak ada wajah lain yang lebih dominan selain sang mantan kepala negara tersebut.
“Kalau melihat PSI sama Gibran hari ini, siapa yang dilihat? Pak Jokowi. Jadi kartu hidup mati Mas Gibran sama PSI hari ini siapa coba? Ya Jokowi,” ungkap Adi dalam sebuah tayangan analisis politik.
Komentar ini menjadi tamparan keras bagi narasi kemandirian politik Gibran maupun PSI.
Seolah-olah, tanpa “bensin” pengaruh Jokowi, kedua entitas politik tersebut akan kehilangan arah di tengah kerasnya arus politik nasional.
Safari politik Jokowi belakangan ini ditafsirkan bukan sebagai silaturahmi biasa, melainkan sebuah pertaruhan nyali.
Setelah memutuskan “bercerai” secara politik dari PDIP, Jokowi kini sedang diuji: apakah kekuatannya masih mampu menembus parlemen untuk PSI, yang selama dua edisi Pemilu selalu gagal total?
“Safari politik ini bagi saya adalah pertaruhan politik Pak Jokowi yang sesungguhnya… setelah tidak lagi bersama PDIP, masih sakti atau tidak?” lanjut Adi.
Tak sekadar membidik kursi parlemen, kabar dari internal PSI justru mengungkap ambisi yang jauh lebih besar.
Ketua DPP PSI, Bestari Barus, secara terbuka mengaku bahwa Jokowi telah memberikan instruksi langsung agar partainya mengawal pemerintahan Prabowo-Gibran hingga dua periode.
Pernyataan ini seolah mematikan rumor tentang potensi “dua matahari” di pemerintahan.
Jokowi tampaknya ingin memastikan bahwa arah kebijakan negara tetap berada dalam genggamannya, dengan memosisikan Prabowo dan Gibran sebagai eksekutor dari visi besar yang ia titipkan.
Duet Prabowo-Gibran yang lahir dari kedekatan politik Jokowi kini disebut-sebut bakal dipaksakan kembali untuk Pilpres 2029.
Jika skenario ini benar-benar berjalan, maka dapat dipastikan bahwa kekuatan politik Jokowi masih menjadi “hantu” yang paling ditakuti oleh lawan-lawan politiknya.
Kini publik hanya bisa bertanya: sampai kapan pengaruh satu orang ini akan terus mendikte arah politik Indonesia?
Dan bagi Prabowo, apakah ia bersedia menjadi “pemain” dalam skenario yang dituliskan oleh pendahulunya tersebut?