DEMOCRAZY.ID – Seruan Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad untuk melawan hoaks justru diwarnai insiden hadirnya peserta diduga mahasiswa palsu.
Peristiwa unik ini menyita perhatian publik tepat saat Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 berlangsung di Jakarta.
Kegiatan yang diinisiasi Polda Metro Jaya tersebut awalnya berjalan khidmat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia.
Namun, kejanggalan muncul saat salah satu peserta yang mengenakan jas almamater diwawancarai awak media.
Kehadiran sosok peserta ini menjadi kontradiksi nyata di tengah pesan persatuan yang disampaikan pejabat negara.
Publik langsung menyoroti ketidaksesuaian identitas sang peserta di tengah acara resmi kepolisian.
View on Threads
Pria yang sempat memberikan orasi semangat kepemudaan itu mendadak gagap saat ditanya nama perguruan tingginya.
Ia mengaku berkuliah di BSI, padahal logo almamater di tubuhnya menunjukkan identitas Universitas Dian Nusantara.
Sorotan tajam netizen pun membanjiri media sosial setelah rekaman wawancara tersebut tersebar luas.
Kejanggalan ini memicu spekulasi terkait keabsahan seluruh rombongan mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut.
Di panggung utama, Raffi Ahmad menegaskan pentingnya menjaga keutuhan bangsa dari berbagai ancaman disinformasi digital.
Ia menyebut perjuangan masa kini telah bergeser dari fisik menuju pertempuran ruang siber.
🚨NEW: Mahasiswa PALSU yg melakukan demo tandingan bersama Willie Salim & Raffi Ahmad sudah diamankan pihak kampus UNDIRA dan melakukan klarifikasi.
Si bro mengaku kalau namanya bukan DINO melainkan BAYU, BAYU mengaku kalau dia dibayar 50K untuk melakukan AKSI tersebut.Menurut pengakuan warga IG, Bayu memang bukan seorang mahasiswa, melainkan penjual kopi keliling di wilayah terminal kalideres.
——————Baca JugaKasian lu Yu, udh dapetnya cuma 50K abis dipake cat rambut, ketangkep pula.😭
SEMESTA TIDAK BERSAMAMU YU
— Nameless (@namelesid) October 29, 2026
“Kalau di zaman dulu mungkin kita melawan dengan bambu runcing, untuk sekarang kita melawan hoaks dari media sosial, melawan ujaran kebencian, melawan provokasi. Yang pastinya jangan sampai pemuda dan pemudi kita terpecah belah,” kata Raffi saat menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia Tahun 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Kamis (29/10).
Sayangnya, pesan pencegahan narasi bohong itu langsung teruji oleh kejadian di lapangan secara instan.
Hadirnya atribut kampus yang tidak sesuai membuat nilai edukasi acara tersebut dipertanyakan publik.
Gelombang tanggapan warganet terus membesar lantaran kepolisian dinilai kurang cermat memverifikasi peserta.
Insiden salah sebut kampus ini pun berubah menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai platform.
View this post on Instagram
Pihak Universitas Dian Nusantara akhirnya angkat bicara guna membersihkan nama baik institusi mereka.
Kampus swasta tersebut memilih jalur unik dalam memberikan respons atas kesimpangsiuran berita.
Melalui akun Instagram resmi @undiraofficial, pengelola kampus mengunggah video parodi yang meniru reka ulang wawancara viral.
Karakter nama dalam video tersebut diubah dari Dino menjadi Doni sebagai bentuk sindiran halus.
Langkah kreatif ini diambil untuk menegaskan batasan antara kampus asli dan oknum di lapangan.
Pihak kampus secara tegas menolak dikaitkan dengan tindakan peserta misterius tersebut.
Manajemen kampus mengonfirmasi bahwa sosok pria dalam video viral bukanlah bagian dari civitas akademika mereka.
Penegasan ini mengakhiri klaim liar yang beredar terkait keterlibatan almamater resmi Undira.
Klarifikasi terbuka tersebut sekaligus menutup spekulasi liar mengenai keterlibatan mahasiswa asli dalam aksi tersebut.
Pihak kampus memastikan identitas pria itu sepenuhnya di luar tanggung jawab mereka.
Peristiwa ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara acara dalam mengundang perwakilan elemen mahasiswa.
Keabsahan peserta menjadi faktor kunci agar pesan persatuan tidak ternoda oleh aksi manipulatif.