Peringatan Keras Bagi Koalisi Gemoy: Jika Pilpres 2029 Berlangsung Jujur, Prabowo Diprediksi Bakal Tumbang!

DEMOCRAZY.ID – Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Mujani, memprediksi Presiden Prabowo Subianto berpeluang kalah jika kembali maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Ia menilai perubahan politik dapat terjadi apabila pemilu berlangsung secara jujur dan adil tanpa intervensi yang merusak proses demokrasi.

Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) itu merujuk pada hasil survei SMRC pada Juli 2026 yang mencatat elektabilitas Prabowo sebesar 14,5 persen.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang mendasari penilaiannya mengenai peluang politik presiden dalam kontestasi mendatang.

“Jelas sekarang, kalau pemilunya nanti (Pemilu) 2029 itu dilakukan dengan benar, dengan jurdil, dengan prosedur seperti itu, akan terjadi perubahan politik yang lebih baik,” ujar Saiful di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.

Pernyataan Saiful menempatkan kualitas penyelenggaraan pemilu sebagai faktor penting dalam menentukan arah politik nasional.

Menurut dia, peluang pergantian kekuasaan terbuka apabila kompetisi politik berjalan normal dan setiap peserta memiliki kesempatan yang adil.

Namun, ia mengingatkan kemungkinan munculnya langkah-langkah yang dapat menghambat perubahan tersebut.

Salah satu hal yang disorotnya ialah kemungkinan penerapan status darurat militer dengan alasan keamanan negara.

Saiful mengkhawatirkan kebijakan semacam itu dapat menggeser ruang sipil dan mengganggu mekanisme demokrasi apabila digunakan untuk membatasi proses politik.

Karena itu, ia menilai pemilu yang bebas dari tindakan represif dan intervensi menjadi prasyarat bagi terjadinya perubahan kekuasaan secara demokratis.

“Tapi kalau mekanisme pemilunya tidak dirusak, tidak ada darurat militer dan sebagainya, pemilu berjalan dengan normal, maka akan terjadi perubahan,” tuturnya.

Meski demikian, prediksi tersebut tidak serta-merta memastikan Prabowo akan kalah pada Pilpres 2029.

Elektabilitas dalam survei merupakan gambaran dukungan pada waktu pengukuran, bukan hasil akhir pemilihan yang masih akan berlangsung beberapa tahun mendatang.

Peluang Prabowo untuk kembali terpilih akan bergantung pada berbagai faktor, antara lain kinerja pemerintah, dinamika koalisi partai politik, kemunculan calon penantang, serta kondisi ekonomi dan sosial menjelang pemilu.

Di sisi lain, kekhawatiran Saiful mengenai kemungkinan gangguan terhadap proses demokrasi menyoroti persoalan yang lebih luas daripada persaingan elektoral.

Bagi dia, perubahan politik bukan hanya soal siapa yang menang, melainkan juga apakah pergantian kekuasaan berlangsung melalui prosedur yang demokratis, jujur, dan adil.

Artikel terkait lainnya