DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik sekaligus filsuf, Rocky Gerung, kembali menggebrak ruang publik melalui sumbangsih pemikiran terbarunya.
Kali ini, ia resmi meluncurkan sebuah buku bertajuk “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”.
Karya literatur yang ditulis berkolaborasi dengan dosen Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman, tersebut hadir untuk mengupas tuntas relevansi serta kontekstualisasi pemikiran proklamator Bung Karno di tengah pusaran dinamika politik modern dan kultur generasi muda saat ini.
Dalam acara peluncurannya, Rocky menegaskan secara gamblang bahwa Marhaenisme bukanlah sekadar artefak politik atau konsep usang dari masa lalu.
Sebaliknya, ia memandang Marhaenisme sebagai sebuah manifesto politik, falsafah bernegara, sekaligus gagasan sosial yang lahir murni dan autentik dari rahim sejarah bumi nusantara.
Di sela-sela pemaparan isi bukunya, Rocky yang selama ini dikenal sebagai kritikus vokal pemerintah, memberikan apresiasi yang tidak biasa kepada PDI Perjuangan (PDIP).
Ia menilai partai berlambang banteng moncong putih tersebut sangat konsisten dalam merawat, mengaktualisasikan, serta mendiseminasikan gagasan-gagasan Marhaenisme kepada publik luas, termasuk memanfaatkan ekosistem digital media sosial.
“Kita beruntung PDIP masih merawat ide Marhaenisme sampai ke media sosial,” ujar Rocky Gerung di hadapan para hadirin.
Melalui pendekatan etika politik yang menjadi ciri khasnya, Rocky juga menyoroti fenomena global yang cukup memprihatinkan di dunia akademis, di mana institusi pendidikan tinggi dinilai mulai bergeser fungsinya demi sekadar memenuhi tuntutan pasar kerja (korporatisasi kampus).
Ia memberikan contoh nyata di luar negeri, di mana banyak program studi konvensional di bidang humaniora mulai dipangkas atau bahkan ditutup, lalu digantikan oleh bidang-bidang praktis yang berkaitan erat dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Di tengah pergeseran orientasi kampus tersebut, Rocky melihat adanya anomali positif di mana partai politik seperti PDIP justru mengambil alih peran edukasi ideologis yang dahulu lekat dengan dunia kampus, khususnya dalam merawat dan meneruskan pemikiran para pendiri bangsa (founding parents).
“Fungsi kampus untuk menghasilkan dan meneruskan pikiran para founding parents kita. Partai ambil alih untuk kebutuhan menghasilkan kader. PDIP mengambil alih universitas karena mau mengolah pikiran,” urai Rocky analitis.
Lebih dalam, Rocky tidak menampik bahwa ada tantangan besar berupa stagnasi kaderisasi berbasis ideologi yang sempat terjadi selama puluhan tahun di Indonesia.
Menurut pandangannya, banyak kalangan di masa lalu enggan atau bahkan takut untuk mendiskusikan Marhaenisme secara terbuka akibat adanya trauma politik masa lalu dan stigma keliru yang kerap mengaitkan paham ini dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Melalui buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”, Rocky bersama Airlangga Pribadi Kusman berkomitmen untuk meluruskan distorsi sejarah tersebut melalui koridor dan pendekatan akademis yang objektif.
“Kemewahan dari PDIP adalah dia punya akar sejarah yang kuat. Tapi bertahun-tahun kaderisasi mandek karena takut bicara Marhaenisme akibat tuduhan PKI. Kita mau bongkar secara akademis, dari pikiran otentik negeri,” tegasnya.
Sebagai penutup, Rocky memberikan sebuah analogi filosofis yang kuat dan puitis mengenai esensi sejati dari nilai-nilai Marhaenisme dalam mengangkat harkat kemanusiaan serta keadilan sosial di Indonesia.
“Marhaenisme itu adalah cara Bung Karno mengangkat pikiran dari gorong-gorong untuk tiba di hotel berbintang,” pungkas Rocky menyudahi presentasinya.