Kisah Legendaris Final Wimbledon Terhebat Sepanjang Masa: Saat Rafael Nadal Meruntuhkan Kedigdayaan Roger Federer!

DEMOCRAZY.ID – Dunia tenis telah menyaksikan banyak pertandingan besar sepanjang sejarah.

Namun hingga kini, final Wimbledon 2008 antara Rafael Nadal dan Roger Federer masih dianggap sebagai salah satu pertandingan terbaik yang pernah dimainkan.

Laga yang berlangsung di Centre Court, Wimbledon, pada 6 Juli 2008 itu bukan sekadar perebutan gelar Grand Slam.

Pertandingan tersebut menjadi puncak rivalitas dua petenis terbaik dunia yang saat itu tengah berada di masa keemasan karier mereka.

Bahkan, banyak legenda tenis menempatkan duel tersebut sebagai pertandingan terbaik sepanjang masa.

Legenda tenis Swedia, Bjorn Borg, yang menyaksikan langsung laga dari Royal Box, mengaku tak pernah melihat pertandingan yang lebih hebat.

“Itu adalah pertandingan tenis terbaik yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya. Saya sangat beruntung bisa berada di sana dan menjadi bagian dari final itu. Anda tidak akan menemukan pertandingan tenis yang lebih baik dari ini.”

Pujian serupa juga datang dari John McEnroe yang saat itu bertugas sebagai komentator pertandingan.

“Ini adalah pertandingan terbaik yang pernah saya saksikan.”

Final Wimbledon 2008 menjadi pertemuan ketiga secara beruntun antara Nadal dan Federer di partai puncak. Pada dua edisi sebelumnya, Federer selalu keluar sebagai pemenang.

Petenis asal Swiss itu bahkan sedang memburu gelar Wimbledon keenam secara beruntun sekaligus mempertegas statusnya sebagai raja lapangan rumput.

Namun kali ini situasinya berbeda. Federer datang ke London dengan luka yang belum sembuh.

Sebulan sebelumnya ia dihancurkan Nadal di final French Open dengan skor telak 6-1, 6-3, dan 6-0.

Kekalahan itu membekas dalam pikirannya.

“Saya masih memikirkan kekalahan di final French Open. Rafa menghancurkan saya. Dia benar-benar menguasai pertandingan dan membuat saya tak berdaya,” ujar Federer mengenang momen tersebut.

Di sisi lain, Nadal juga membawa beban tersendiri. Dua kali kalah dari Federer di final Wimbledon membuat petenis Spanyol itu menyimpan rasa penasaran yang sangat besar.

Dalam autobiografinya, Nadal mengaku kekalahan di final Wimbledon 2007 membuatnya sangat terpukul.

“Saya benar-benar hancur. Yang paling membuat saya kecewa bukan permainan saya, tetapi mental saya. Saya merasa mengecewakan diri sendiri.”

Karena itu, Nadal datang ke final 2008 dengan satu tekad besar.

“Apa pun yang terjadi kali ini, mental saya tidak boleh runtuh.”

Hujan sempat menunda dimulainya pertandingan. Namun begitu laga dimulai, Nadal langsung tampil agresif.

Strateginya sederhana tetapi efektif, yakni terus mengarahkan bola ke sisi backhand Federer dan memaksanya bermain dalam tekanan.

Hasilnya langsung terlihat. Nadal berhasil merebut dua set pertama dengan skor identik 6-4, 6-4. Saat itu banyak yang mengira pertandingan akan segera berakhir. Namun Federer belum menyerah.

Memasuki set ketiga, Federer mulai menemukan ritme permainan terbaiknya. Ia meningkatkan intensitas serangan dan memaksa Nadal bermain lebih bertahan.

Dua set berikutnya akhirnya berhasil diamankan Federer melalui tie-break dramatis. Skor berubah menjadi 6-4, 6-4, 6-7, 6-7.

Pertandingan pun memasuki set kelima yang kemudian dikenang sebagai salah satu set paling menegangkan dalam sejarah tenis.

Di tengah pertandingan, Nadal mengaku sempat merasakan tekanan luar biasa karena gelar juara sudah terlihat begitu dekat.

“Saya merasa hanya tinggal selangkah lagi dari mimpi terbesar dalam hidup saya.”

Tekanan itu membuat Nadal gagal memanfaatkan sejumlah peluang untuk mengakhiri pertandingan lebih cepat.

Namun petenis Spanyol tersebut mampu bangkit dan menjaga fokus.

Set penentuan berlangsung luar biasa sengit. Kedua pemain saling mempertahankan servis dan terus bertukar pukulan spektakuler.

Hujan kembali beberapa kali menghentikan pertandingan, sementara kondisi lapangan semakin gelap menjelang malam.

Bahkan sistem Hawk-Eye sempat kesulitan mendeteksi bola karena minimnya pencahayaan.

Wasit pertandingan, Pascal Maria, sampai mengaku memiliki perasaan yang tidak biasa saat memimpin laga tersebut.

“Pada satu titik saya berpikir pertandingan ini tidak akan pernah berakhir. Bahkan saya sempat merasa pertandingan ini tidak seharusnya berakhir. Kami tidak menginginkan satu pemenang, kami ingin ada dua pemenang.”

Salah satu momen paling ikonik terjadi ketika Federer menyelamatkan championship point melalui backhand down the line yang luar biasa.

Bertahun-tahun kemudian Federer mengaku itu adalah salah satu pukulan terbaik yang pernah ia lakukan.

“Bukan karena pukulannya, tetapi karena betapa pentingnya momen tersebut dalam pertandingan.”

Pukulan itu membuat Federer tetap hidup dan membawa pertandingan menuju drama yang semakin menegangkan.

Saat skor 7-7 di set kelima, pertandingan terancam ditunda karena kondisi cahaya yang semakin minim. Namun Nadal berhasil mematahkan servis Federer dan unggul 8-7.

Kesempatan emas akhirnya tiba ketika Nadal melakukan servis untuk kejuaraan. Dalam situasi penuh tekanan, Nadal memilih bermain lebih agresif. Keputusan berani itu membuahkan hasil.

Pada match point, Federer gagal mengembalikan bola dengan sempurna dan pukulannya menyangkut di net. Nadal langsung menjatuhkan diri ke rumput Centre Court.

Setelah bertarung selama 4 jam 48 menit, ia akhirnya menang dengan skor 6-4, 6-4, 6-7, 6-7, 9-7 sekaligus merebut gelar Wimbledon pertamanya.

Kemenangan itu tidak hanya mengakhiri dominasi Federer yang telah menjuarai Wimbledon lima kali beruntun, tetapi juga menjadi simbol lahirnya era baru dalam dunia tenis.

Hingga kini, lebih dari satu dekade setelah pertandingan tersebut berakhir, final Wimbledon 2008 masih dikenang sebagai duel sempurna antara dua legenda.

Sebuah pertandingan yang bukan hanya menghasilkan juara, tetapi juga menghadirkan salah satu kisah paling indah dalam sejarah olahraga dunia.

Sumber: VIVA

Artikel terkait lainnya