Kiamat Diplomasi! Donald Trump ‘Ludahi’ Proposal Damai AS-Iran: “Itu Sampah, Jangan Berani Kasih Saya Sampah”

DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran di tengah mandeknya upaya penghentian perang antara kedua negara.

Trump secara terbuka menolak proposal terbaru yang dikirim Teheran terkait gencatan senjata dan menyebut dokumen tersebut sebagai “dokumen sampah”.

Al Jazeera melaporkan Trump mengatakan kesepakatan damai antara AS dan Iran kini berada dalam “kondisi kritis” setelah dirinya membaca respons terbaru dari pemerintah Iran.

“Gencatan senjata itu sekarang yang paling lemah setelah saya membaca dokumen sampah yang mereka kirimkan kepada kami. Saya bahkan belum selesai membacanya,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Pernyataan itu memperkuat kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu tersebut akan semakin panjang dan sulit dihentikan.

Iran Ajukan Sejumlah Tuntutan Besar

Proposal Iran sendiri berisi sejumlah tuntutan utama yang dinilai Washington terlalu berat dan sulit diterima.

Teheran meminta penghentian perang di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon yang masih menjadi arena konflik antara Israel dan Hizbullah.

Selain itu, Iran juga menuntut pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat, pembukaan kembali jalur perdagangan minyak Iran, pencairan aset-aset yang dibekukan, hingga jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan militer terhadap wilayahnya.

Pemerintah Iran juga meminta pengakuan atas hak dan kedaulatannya di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik utama distribusi minyak dunia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan tuntutan tersebut merupakan hak sah Iran sebagai negara berdaulat.

“Satu-satunya hal yang kami tuntut adalah hak-hak sah Iran,” kata Baghaei seperti dikutip Al Jazeera.

Trump Singgung Uranium Iran

Dalam pernyataannya, Trump juga mengungkap isu sensitif terkait program nuklir Iran.

Ia mengklaim Iran sempat menyatakan bersedia menyerahkan persediaan uranium yang telah diperkaya kepada Amerika Serikat, namun kemudian tidak memasukkan poin tersebut dalam proposal resmi mereka.

The Times of Israel melaporkan Trump menyebut hanya Amerika Serikat dan China yang memiliki kemampuan teknis untuk mengambil material nuklir tersebut dari fasilitas bawah tanah Iran.

Trump bahkan menyebut Iran siap memberikan “debu nuklir” kepada AS sebelum akhirnya berubah sikap dalam dokumen resmi yang dikirim ke Washington.

Meski demikian, Iran hingga kini belum pernah secara terbuka mengakui siap menyerahkan persediaan uranium yang dimilikinya.

Trump tetap menegaskan bahwa tujuan utama pemerintahannya adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.

“Saya punya rencana. Rencananya adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.

Ketegangan Ganggu Jalur Minyak Dunia

Kebuntuan diplomatik antara Washington dan Teheran kini semakin berdampak terhadap ekonomi global.

Ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz membuat arus perdagangan minyak dan gas dunia terganggu.

Iran diketahui terus menutup akses di selat tersebut, sementara Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Situasi ini memicu kekhawatiran kenaikan harga energi dunia apabila konflik kembali meningkat menjadi perang terbuka.

Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, mengakui sektor energi negaranya menghadapi tantangan besar akibat perang dan blokade Amerika Serikat.

Namun ia menegaskan ekspor minyak Iran masih terus berjalan meski berada di bawah tekanan internasional.

AS dan Israel Bahas Langkah Selanjutnya

Di tengah mandeknya negosiasi, Trump menggelar rapat keamanan tingkat tinggi di Ruang Situasi Gedung Putih untuk membahas langkah berikutnya terhadap Iran.

The Times of Israel melaporkan pertemuan tersebut dihadiri Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Direktur CIA John Ratcliffe, hingga utusan khusus Steve Witkoff.

Pada saat yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengadakan konsultasi keamanan di Yerusalem.

Para pejabat militer Israel disebut terus menyatakan kesiapan mereka untuk kembali melanjutkan perang kapan saja apabila diplomasi gagal.

Ketegangan semakin meningkat setelah Inggris dan Prancis mengumumkan rencana pertemuan militer multinasional untuk membahas keamanan navigasi di Selat Hormuz.

Prancis bahkan telah mengirim kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle ke kawasan tersebut, sementara Inggris mengerahkan kapal perusak HMS Dragon.

Iran Sebut AS Ancaman Perdamaian Dunia

Di sisi lain, Iran menuding Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan keberadaan pangkalan militer AS di Timur Tengah justru menjadi sumber utama ketegangan kawasan.

“Iran telah menunjukkan bahwa mereka adalah kekuatan yang bertanggung jawab di kawasan ini. Kami tidak melakukan intimidasi, tetapi kami menentang intimidasi,” katanya.

Iran juga memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak mengirim lebih banyak kapal perang ke kawasan Teluk karena dinilai dapat memperbesar risiko konflik.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa negosiasi damai antara Washington dan Teheran akan segera menemukan titik temu.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya