Liriknya Bikin Bulu Kuduk Berdiri! Viral Lagu ‘Pesta Para Babi Pembangunan’, Sindiran Sadis untuk Para Penguasa?

DEMOCRAZY.ID – Film dokumenter “Pesta Babi” belum reda dibahas, kini lagu “Pesta Para Babi Pembangunan” viral dan memicu polemik di media sosial.

Setelah sebelumnya ramai diperbincangkan film dokumenter “Pesta Babi”, kini giliran sebuah karya musik berjudul “Pesta Para Babi Pembangunan” yang viral dan menyita perhatian publik.

Lagu yang diunggah melalui kanal YouTube Pari Kesit itu mendadak jadi bahan diskusi panas di berbagai platform digital.

Viralnya lagu ini bukan tanpa alasan. Liriknya yang keras, narasi yang emosional, serta tema yang menyentuh isu sensitif soal pembangunan di Papua membuatnya cepat menyebar.

👇👇

Banyak warganet menilai karya tersebut sebagai bentuk ekspresi keresahan masyarakat adat Papua terhadap dampak proyek-proyek besar yang masuk ke wilayah mereka.

Lagu “Pesta Para Babi Pembangunan” disebut menggambarkan Papua bukan sebagai wilayah kosong yang bisa dieksploitasi begitu saja.

Sebaliknya, lagu ini menegaskan bahwa Papua adalah tanah hidup yang memiliki sejarah panjang, budaya kuat, dan keterikatan mendalam dengan masyarakat adat.

Dalam salah satu narasi yang disampaikan dalam karya tersebut disebutkan:

“Tanah Papua bukan tanah kosong. Ia hidup, bernapas, dan dijaga oleh masyarakat adat sejak leluhur mereka ada,”

Pernyataan ini kemudian menjadi salah satu bagian yang paling banyak dikutip ulang oleh netizen di media sosial.

Banyak yang menilai pesan tersebut menyentuh, terutama dalam konteks konflik kepentingan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.

Lebih jauh, lagu ini menyoroti berbagai persoalan yang disebut muncul akibat proyek pembangunan berskala besar di Papua, mulai dari pembukaan lahan, kerusakan hutan, hingga potensi hilangnya ruang hidup masyarakat adat.

Dalam narasinya, lagu ini menggambarkan bagaimana pembangunan sering kali datang dengan dampak sosial dan lingkungan yang besar.

Hutan yang dibabat, tanah yang dialihfungsikan, hingga perubahan pola hidup masyarakat lokal menjadi isu yang diangkat dalam karya tersebut.

Selain itu, lagu ini juga menyinggung bagaimana nilai-nilai adat perlahan mulai tergerus oleh arus modernisasi dan investasi yang masuk tanpa keterlibatan penuh masyarakat lokal.

Karya musik ini disebut tidak berdiri sendiri. Lagu “Pesta Para Babi Pembangunan” diketahui terinspirasi dari film dokumenter “Pesta Babi” karya jurnalis dan dokumenteris Dandhy Dwi Laksono yang sebelumnya juga ramai diperbincangkan.

Film tersebut dikenal mengangkat isu-isu sosial dan budaya masyarakat adat, serta kritik terhadap kebijakan pembangunan di wilayah timur Indonesia.

Dari situ, lagu ini kemudian muncul sebagai bentuk lanjutan ekspresi artistik yang membawa pesan serupa, namun dalam format musik.

Pari Kesit sebagai pembuat lagu disebut ingin menghadirkan refleksi yang lebih luas tentang pentingnya pembangunan yang tetap memperhatikan hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.

Respons Warganet

Sejak viral, lagu ini langsung memicu reaksi beragam dari publik.

Di satu sisi, banyak yang memberikan dukungan dan menganggap karya ini sebagai bentuk keberanian menyuarakan isu yang selama ini jarang terdengar.

Namun di sisi lain, ada juga yang menilai isu Papua perlu dilihat secara lebih kompleks dari berbagai sudut pandang, termasuk aspek pembangunan nasional.

Perdebatan pun tak terhindarkan di kolom komentar media sosial.

Sejumlah warganet mengaku baru memahami perspektif masyarakat adat Papua setelah mendengar lagu ini.

Berikut beberapa komentar netizen yang ramai beredar.

“Sekarang baru paham kenapa Papua ingin merdeka. Terbanglah tinggi cendrawasihku,” tulis @KisahIslam1989.

“Terima kasih sudah mewakili suara rakyat Papua lewat lagu ini,” ujar @CartelDeMedelin-xj7kb.

“Kami juga mau hidup sejahtera di tanah kami sendiri, Papua. Tanah kami bukan tanah kosong. Selamatkan Papua,” komentar @IshakwabiserIshak-cv3do.

“Semoga yang punya akun ini selalu dalam lindungan Allah agar bisa selalu bersuara lantang untuk kebenaran,” tulis @BEGAGIAFB.

“Saya berharap melalui lagu ini teman-teman di seluruh Indonesia tahu kenapa Papua ingin merdeka,” ujar @SadarStory.

Komentar-komentar tersebut memperlihatkan betapa kuatnya dampak emosional dari lagu ini di kalangan warganet.

Tidak sedikit yang mengaitkannya dengan isu-isu besar seperti keadilan sosial, hak masyarakat adat, hingga masa depan pembangunan di Papua.

Fenomena viralnya lagu ini menambah panjang daftar karya seni yang ikut memantik diskusi publik soal Papua.

Dari film dokumenter hingga musik, semuanya kini menjadi medium untuk menyuarakan keresahan yang selama ini mungkin tidak banyak terdengar di ruang publik arus utama.

Di tengah derasnya perbincangan, isu yang muncul bukan hanya soal musik atau viralitas semata, tetapi juga tentang bagaimana pembangunan seharusnya berjalan.

Apakah sudah cukup melibatkan masyarakat adat? Apakah keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan benar-benar terjaga?

Pertanyaan-pertanyaan ini kini kembali mengemuka di ruang digital, dipicu oleh sebuah lagu yang sederhana namun sarat makna.

Hingga kini, lagu “Pesta Para Babi Pembangunan” masih terus dibagikan di berbagai platform media sosial.

Diskusinya pun belum menunjukkan tanda mereda.

Justru sebaliknya, semakin banyak yang ikut merespons, baik berupa dukungan, kritik, maupun perdebatan panjang di kolom komentar.

Sumber: Holopis

Artikel terkait lainnya