✍🏻 Yanuar Rizky | Analis Ekonomi
Dari pernyataan pers Gubernur BI dan Menkeu setelah pertemuan dengan Presiden, yang menarik adalah:
1. Pernyataan Menkeu “uang kita banyak..” diikuti oleh “kita akan masuk global bond, dalam Yuan Panda Bond, bunganya rendah”.
2. Pernyataan Gubernur BI selaras “untuk mengurangi ketergantungan US Dolar, kami memdorong transaksi Yuan, karena pasar domestik Rupiah teerhadap Yuan sudah banyak”.
3. Pernyataan Gubernur BI “cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk intervensi stabilisasi Rupiah” diikuti oleh “untuk menjaga suply valas yang keluar dari outflow saham dan SBN, BI memghidupkan SRBI untuk menyerap valas masuk dari outflow yanc terjadi”.
Dari 3 pernyataan itu, maka:
1. Tumpuan uang banyak itu ya hutang, mau ke Yuan, mau ke US Dolar ya tetap hutang. Jadi, bahasa terangnya “uang kita banyak dari ngutang”.
*Panda Bond adalah surat utang (obligasi) yang diterbitkan oleh emiten asing di pasar domestik China dengan denominasi mata uang Renminbi (Yuan). Instrumen ini diterbitkan untuk mendapatkan pendanaan dengan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan dolar AS
2. Strategi bunga Yuan yang lebih rendah di pasar surat utang China ya itu mengerem membengkaknya biaya bunga (akibat kurs rupiah yang anjlok terhadap Dolar -red) yang harus dibayarkan APBN, tapi apa akan meningkatkan penerimaan negara yang melebihi tambahan biaya bunga?
3. Mengeser alam bawah sadar masyarakat, yang mulai melakukan natural hedging ke simpanan USD di dalam negeri ke Yuan. Dengan mengarahkan transaksi Yuan. Ini, tentu agar valas yang mau masuk dari Panda Bond dalam Yuan, agar tidak terbebani juga harus ditukar (carry trade) ke US Dolar karena permintaan valas di perbankan di US Dolar. Secara geopolitik, tentu sinyal ini akan ada konsukuensinya ke pasar uang yang lebih luas, moga sudah dihitung.
4. Pun demikian, cadangan devisa lebih dari cukup dan menyerapnya dengan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), itu kan hutang juga dari BI ke pasar, yang bunganya jauh di atas BI rate. Kalau itu dipakai intervensi, apakah akan menjadi biaya atau laba moneter?
Ya, jadi pertumbuhan ekonomi yang dibiayai oleh hutang, ujungnya: bisa bayar atau malah tambah dalam terperosok di masa depan.
Itu intinya, karena transaksi hari ini untuk masa depan, maka bicara optimisme harus juga dibaca di depan kurva, bukan hanya angka-angka statistik hari ini.
Demikian.
________________
Yanuar Rizky adalah seorang analis ekonomi dan pengamat pasar modal terkemuka di Indonesia. Ia dikenal publik melalui analisis kritisnya terhadap kebijakan fiskal, moneter, serta dinamika korporasi dan politik ekonomi di tanah air.