DEMOCRAZY.ID – Situasi di Iran kian tak terkendali. Gelombang unjuk rasa yang telah memasuki hari ke-10 pada Selasa (6/1/2026) berubah menjadi medan pertempuran berdarah antara rakyat dan aparat.
Sedikitnya 29 nyawa melayang dan lebih dari 1.200 orang dijebloskan ke penjara di tengah memanasnya suhu politik global pasca-serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela.
Laporan Iran International mengungkap fakta mengerikan di lapangan: pasukan keamanan Iran tak segan melepas tembakan ke arah massa.
Angkatan bersenjata beratribut lengkap kini menduduki titik-titik vital di berbagai kota guna meredam amuk massa yang telah menyebar ke lebih dari 250 lokasi di 27 provinsi.
Awalnya, protes yang meletup sejak 28 Desember ini dipicu oleh kekecewaan publik atas inflasi tinggi yang mencekik ekonomi warga. Namun, respons represif negara mengubah narasi demonstrasi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat berupaya mengambil jalan tengah melalui dialog dan janji pemulihan ekonomi.
Sayangnya, titah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei agar para demonstran ‘ditempatkan pada tempatnya’ justru menyiram bensin ke dalam api.
Kini, tuntutan rakyat bukan lagi soal perut, melainkan desakan terbuka untuk penggulingan rezim Khamenei.
Kementerian Dalam Negeri Iran pun tak tinggal diam. Mereka resmi melabeli para peserta aksi sebagai ‘perusuh’ dengan dalih adanya perusakan gedung pemerintah dan fasilitas publik.
Yang membuat Teheran makin terjepit adalah faktor eksternal. AS dan Israel —dua musuh bebuyutan Iran— terlihat ‘menikmati’ kekacauan ini.
Presiden AS Donald Trump bahkan secara terang-terangan menyatakan kesediaannya turun tangan membantu rakyat Iran menggulingkan kekuasaan para Mullah.
Eskalasi di Teheran ini terjadi hanya selang beberapa hari setelah AS melancarkan operasi militer di Venezuela.
Banyak pengamat menilai, Iran kini masuk dalam radar bidikan Trump selanjutnya.
Indikasi ini kian kuat setelah Senator AS Lindsey Graham mengunggah foto Trump di platform X sedang memegang topi hitam bertuliskan ‘Make Iran Great Again’.
Sebuah kode keras bahwa setelah Caracas, Teheran mungkin menjadi target operasi ‘polisi dunia’ berikutnya.
Sumber: Inilah