Geliat Politik Eks Presiden: Jokowi Bermanuver Politik ke PSI, Disinyalir Karena ‘Tersisih’ di Lingkaran Prabowo!

DEMOCRAZY.ID — Terdepak dan dibuang dari lingkaran utama pengambilan keputusan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo kedapatan tengah panik mencari perlindungan politik baru.

Pengamat politik senior, Hendri Satrio (Hensa), membongkar alasan mendasar di balik manuver nekat Jokowi yang kini merapat dan berupaya membangun panggung politik sendiri melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Hensa menilai, langkah Jokowi menjadikannya PSI sebagai benteng pertahanan terakhir merupakan bukti telanjang bahwa pengaruh politik sang mantan presiden kini kian terpinggirkan dan tidak lagi diperhitungkan di Istana Negara.

Terbuang dari Istana Prabowo: Jokowi Merasa Ditinggalkan!

Hensa membeberkan dua faktor utama yang memaksa Jokowi melancarkan manuver politik tingkat tinggi untuk menyelamatkan eksistensi keluarganya:

  1. Tersisih dari Keputusan Strategis: Jokowi ditengarai merasa sangat tersingkir karena tak pernah lagi diajak berdiskusi atau dimintai pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan politik besar di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

  2. Hantaman Skandal Ijazah Fiktif Gibran: Badai hukum dan tekanan politik terkait skandal ijazah SMA/SLTA bodong yang menyeret sang putra mahkota, Gibran Rakabuming Raka, kian menjepit posisi trah Solo di ujung tanduk.

“Jokowi ditengarai merasa tak lagi diajak diskusi mengambil keputusan-keputusan politik besar di era Pak Prabowo. Jika merasa sudah tidak diajak bicara mengenai langkah-langkah besar, wajar mulai mencari ruang politik sendiri,” ungkap Hendri Satrio, Ahad (18/10/2026).

PSI: Benteng Terakhir Dinasti Solo yang Kian Kerdil

Melihat posisinya yang kian terisolasi dan tak lagi dipedulikan oleh barisan koalisi pendukung Prabowo, Jokowi menolak untuk berdiam diri menjadi penonton di panggung politik nasional.

Bergabung dan memperkuat posisi sang anak bungsu, Kaesang Pangarep, di PSI dipandang sebagai pilihan terdesak demi menjaga sisa-sisa panggung pencitraan.

“Pak Jokowi memutuskan membangun panggung baru, bukan diam. PSI merupakan kendaraan politik yang masuk akal,” tegas Hensa.

Dari Penguasa Tunggal Menjadi “Gembel Politik”

Manuver Jokowi merapat ke partai sekelas PSI justru kian mempertegas kejatuhan bobot politik trah Solo pasca-lengser.

Dari sosok yang dulunya memegang kendali penuh atas instrumen negara dan partai-partai besar, Jokowi kini terpaksa mengemis legitimasi lewat partai semenjana demi mempertahankan diri dari ancaman proses hukum dan pemakzulan sang anak.

Ketika Presiden Prabowo secara bertahap membersihkan parasit dinasti Solo dari lingkaran kekuasaannya, ambisi Jokowi untuk terus memegang kendali lewat PSI hanyalah usaha sia-sia dari seorang mantan penguasa yang kian kesepian di masa pensiunnya!

Artikel terkait lainnya