Gegerkan Dunia! Eks Capres AS Blak-blakan Akui Washington Kalah dari Iran Meski Militer Terkuat Bumi

DEMOCRAZY.ID – Mantan anggota kongres Amerika Serikat yang juga pernah mencalonkan diri sebagai presiden, Ron Paul mengakui bahwa negaranya kalah telak dalam melawan Iran meski telah menghabiskan dana triliunan dolar AS.

“Apa yang kita dapat dari militer termahal di dunia? Anggarannya bahkan lebih besar dibanding gabungan belasan negara lain di bawahnya. Hasilnya? Tidak banyak. Anggaran militer Iran bahkan kurang dari satu persen dari milik kita. Namun Iran berhasil menghancurkan atau melumpuhkan seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah,” kata Paul kepada media Amerika dikutip dari laman presstv.ir, Sabtu 16 Mei 2026.

Disebutnya, Iran ternyata mampu menghancurkan puluhan drone mata-mata canggih milik AS yang bernilai jutaan dolar, serta beberapa radar pengintai yang nilainya mendekati miliaran dolar, hanya dengan menggunakan drone buatan mereka sendiri yang biaya produksinya jauh lebih murah.

Paul juga menilai serangan mendadak AS justru berbalik menjadi bumerang.

“Serangan kejutan AS seharusnya membuat Iran takut dan memohon belas kasihan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya,” ujarnya.

Menurut Paul, perang tersebut menunjukkan bahwa meski AS memiliki militer paling mahal di dunia, namun nyatanya pasukan AS kini tak lagi mampu memenangkan perang-perang yang dipaksakan oleh presidennya secara ilegal.

AS ‘Tak Berkutik’

Awal pekan ini, majalah The Atlantic juga menerbitkan artikel yang menyebut kekalahan AS dalam perang melawan Iran tidak bisa diperbaiki ataupun diabaikan.

Hal ini berbeda dengan kekalahan Amerika sebelumnya seperti di Afghanistan dan Vietnam.

“Kekalahan dalam konflik saat ini dengan Iran memiliki karakter yang sepenuhnya berbeda. Kekalahan ini tidak bisa diperbaiki maupun diabaikan,” tulis Robert Kagan dalam artikel tersebut.

Ia menambahkan bahwa situasi ini sekaligus memperkuat posisi China dan Rusia sebagai sekutu Iran, sekaligus melemahkan pengaruh Washington secara signifikan.

“Tidak akan ada lagi kembali ke kondisi seperti sebelumnya, tidak ada kemenangan besar Amerika yang bisa menghapus kerusakan yang sudah terjadi. Selat Hormuz tak akan lagi ‘terbuka’ seperti dulu. Dengan menguasai selat itu, Iran muncul sebagai pemain utama di kawasan dan salah satu pemain penting dunia,” tulisnya.

Artikel itu juga menyebut perang tersebut memperlihatkan Amerika sebagai negara yang tidak bisa diandalkan dan tidak mampu menyelesaikan apa yang telah dimulainya.

“Hal ini akan memicu reaksi berantai di seluruh dunia, karena kawan maupun lawan akan mengingat kekalahan Amerika.”

Artikel tersebut menyoroti pernyataan Presiden Donald Trump yang kerap membicarakan soal siapa yang memiliki “kartu terbaik”, namun menurut penulis belum jelas apakah Trump benar-benar punya kartu kuat untuk dimainkan.

Disebutkan pula bahwa sekitar lima pekan serangan yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi Iran, gagal menggulingkan pemerintahan Iran ataupun memaksanya memberikan konsesi sekecil apa pun.

Pemerintahan Trump disebut berharap blokade terhadap pelabuhan Iran bisa menghasilkan sesuatu yang gagal dicapai lewat serangan militer.

Namun artikel itu menilai pemerintah yang tidak menyerah setelah lima minggu digempur habis-habisan kemungkinan besar juga tidak akan tunduk hanya karena tekanan ekonomi.

Artikel tersebut juga meremehkan kemungkinan keberhasilan jika perang kembali dilanjutkan.

“Pendukung perang gagal menjelaskan mengapa serangan baru akan berhasil mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai lewat 37 hari pemboman,” tulisnya.

Sumber: VIVA

Artikel terkait lainnya