DEMOCRAZY.ID – Militer Israel (IDF) akhirnya mengonfirmasi keaslian sebuah dokumentasi yang sangat kontroversial, menunjukkan seorang personelnya melakukan tindakan vandalisme terhadap simbol agama Kristen di Lebanon Selatan.
Pernyataan ini muncul setelah sebuah video viral memicu amarah publik global, memperlihatkan seorang tentara menggunakan alat penghancur beton (jackhammer) untuk menghancurkan bagian kepala patung Yesus Kristus di kota Deir Siryan.
Pengakuan ini menjadi tamparan keras bagi narasi resmi militer Israel yang selama ini mengklaim bahwa mereka berupaya melindungi infrastruktur sipil dan tempat ibadah.
Meski militer Israel menyatakan bahwa insiden tersebut kini sedang diselidiki oleh Komando Utara, mereka tetap tidak memberikan rincian mengenai identitas prajurit yang terlibat maupun tindakan disipliner spesifik yang telah diambil.
Insiden penodaan situs suci ini terjadi di tengah klaim berulang dari pihak IDF bahwa mereka “tidak memiliki niat untuk merugikan infrastruktur sipil, termasuk bangunan keagamaan atau simbol-simbol keagamaan.”
Namun, bukti visual dari Deir Siryan menunjukkan realitas yang sangat berbeda di lapangan.
Para kritikus menilai tindakan tersebut bukan sekadar ulah oknum, melainkan cerminan dari kurangnya kontrol disiplin dalam operasi militer di Lebanon Selatan.
Penyelidikan internal yang dijanjikan oleh militer Israel sering kali disambut dengan skeptisisme oleh organisasi hak asasi manusia.
Hal ini dikarenakan rekam jejak penyelesaian kasus serupa yang jarang berakhir dengan hukuman berat bagi pelaku, sementara kerusakan budaya dan emosional yang ditimbulkan bagi komunitas lokal bersifat permanen.
Lebanon |
An Israeli soldier smashing the head of a Jesus Christ statue during operations in southern Lebanon. pic.twitter.com/Sj1m16tj9q
— Younis Tirawi | يونس (@ytirawi) April 19, 2026
Reaksi keras tidak hanya datang dari dunia Arab, tetapi juga dari sekutu terdekat Israel, Amerika Serikat.
Sejumlah tokoh politik dan media di Washington mulai mempertanyakan standar moralitas dari bantuan militer yang terus mengalir ke Tel Aviv.
Mantan anggota Kongres AS, Marjorie Taylor Greene, mengecam keras berita tersebut melalui pernyataan publik yang menyorot status hubungan kedua negara.
Ia mempertanyakan status “sekutu terbesar kita” yang selama ini menerima miliaran dolar uang pajak dan persenjataan dari rakyat Amerika Serikat, sementara tentaranya tertangkap kamera menghancurkan simbol iman Kristen.
Kecaman serupa datang dari Matt Gaetz, tokoh sayap kanan dan mantan anggota Kongres, yang menyebut tindakan tentara Israel tersebut sebagai sesuatu yang “mengerikan.”
Sementara itu, tokoh media terkemuka Ryan Grim memberikan analisis yang lebih tajam mengenai pola perilaku militer di zona konflik.
“Tentara Israel telah mengunggah gambar-gambar kejahatan perang dan penodaan budaya mereka sendiri selama dua setengah tahun berturut-turut tanpa gangguan,” kata Ryan Grim, dikutip via TRT.
Laporan dari media Lebanon menunjukkan bahwa penodaan di Deir Siryan bukanlah kejadian terisolasi.
Kerusakan serupa dilaporkan terjadi di situs Kristen lainnya di desa Ain Ebel, yang berada dalam distrik yang sama.
Selain itu, serangan udara dan artileri Israel dikabarkan telah menghantam sejumlah situs keagamaan di desa Shamaa, distrik Tyre.
Pola kerusakan ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi para pemimpin agama di Lebanon, negara yang memiliki sejarah panjang keragaman dan toleransi antarumat beragama.
Penghancuran simbol-simbol suci ini dianggap sebagai upaya untuk merusak tatanan sosial dan warisan budaya Lebanon secara sistematis.
Eskalasi militer yang meningkat sejak 2 Maret 2026 telah membawa dampak bencana bagi warga sipil Lebanon.
Menurut data terbaru, serangan-serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 2.294 orang di berbagai wilayah Lebanon.
Krisis ini juga memaksa lebih dari 1 juta orang untuk meninggalkan rumah mereka, menciptakan gelombang pengungsi besar-besaran yang kini memenuhi pusat-pusat penampungan di kota-kota besar.
Sumber: Suara