

DEMOCRAZY.ID – Nama pengusaha nasional Haji Isam (Andi Syamsuddin Arsyad) disebut secara langsung dalam film dokumenter Pesta Babi.
Film investigasi karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale tersebut membahas berbagai mega-proyek di Papua Selatan.
Dalam film ini, nama Haji Isam disebut dan disorot karena keterlibatannya melalui perusahaannya (Jhonlin Group) dalam proyek cetak sawah jutaan hektare di Merauke, serta jejak bisnisnya di sektor kelapa sawit dan nikel di Tanah Papua.
Saya coba rangkumkan yang saya dapat dari media tentang Haji Isam:
👇👇
Saya coba rangkumkan yang saya dapat dari media tentang Haji Isam.
*Haji Isam membangun Jhonlin Group dari bisnis hauling & tambang batu bara di Kalimantan, lalu berkembang jadi salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.
*Dekat dengan elite lintas rezim, dari era… pic.twitter.com/1S1MnUy38C— Ardianto Satriawan (@ardisatriawan) May 18, 2026
Nama Haji Isam yg muncul dlm film dokumenter Pesta Babi tentu bukan nama yg asing. Dlm penelitian ICW, Haji Isam masuk dlm daftar afiliasi bisnis yg bermain di proyek2 transisi energi—sebuah ilusi yg tampak memperbaiki, padahal merusak.
Cek selengkapnya:https://t.co/1Bp7wPq1or pic.twitter.com/tt81sMrqdH
— Indonesia Corruption Watch (@antikorupsi) May 12, 2026
@storybanua.com Film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tengah menjadi sorotan hangat masyarakat. Karya ini mengupas tuntas soal proyek sawit, tambang nikel, hingga agenda transisi energi di tanah Papua. Tak hanya itu, dokumenter ini juga memunculkan nama Haji Isam, seorang pengusaha asal Kalimantan Selatan. Film ini digarap oleh jurnalis investigasi Dandhy Dwi Laksono bersama sang antropolog, Cypri Jehan. Di balik layar, produksinya melibatkan sejumlah lembaga seperti Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, serta Greenpeace Indonesia. Lewat film tersebut, berbagai proyek yang katanya demi ketahanan pangan dan transisi energi justru dinilai mengancam kawasan hutan adat serta ruang hidup penduduk setempat. Dokumenter ini juga membeberkan data soal pembukaan hutan seluas jutaan hektare yang dikaitkan dengan ulah korporasi raksasa. Salah satu cuplikan paling menghentak adalah ketika nama Haji Isam ikut disinggung. Dalam film itu, pengusaha yang dikenal akrab dengan lingkaran kekuasaan nasional disebut memiliki keterkaitan dengan jejaring bisnis proyek strategis di Papua. Tak cuma sektor sawit, dokumenter ini pun mengulas soal tambang nikel dan industri energi terbarukan. Alur ceritanya menilai bahwa proses transisi energi berisiko memicu eksploitasi sumber daya alam dalam porsi yang luar biasa besar. Sejak diputar, film ini memicu perdebatan di berbagai wilayah. Sejumlah jadwal nonton bareng dilaporkan dibubarkan aparat keamanan. Kondisi ini kemudian melahirkan kritik tajam dari berbagai kalangan karena dianggap menghambat ruang dialog publik terkait isu Papua. #storybanua #habarbanua ♬ suara asli – STORY BANUA