Dosen NTU Singapura Blak-Blakan Soroti MDIS Tempat Gibran Kuliah: Jalur Pintas yang Kualifikasinya Diragukan!

Signature: 8BzaJg+zzY6T2XopxlWo1a3WMRZdMNWw6bcxpqWSmCG7JdihNfKgRtr+EK/NUDP1aZ688jnIb2A/seiQ0FvK2b67xHjlRwftkkz8N7xXPF0zKCTaHqoTy2gX2+Qjh/98jPEyRQ1VMWywPPoZxaJdupl7yHKCB8q185BPwAynuluDqzv/UxrQj3kganhVcgqPV834GONYBEBDosoShHcf3LzkygXO2tYF+UbNFRZ2b7IOkXdo9FLMHdmESGDn3OVN677noVZR10L46ooR65XwnMwCTMs0X80zuN1X7zZCUAphA504UCfS5973ByTCXol/Bz2sP5Cdf7yq0FwEMwtp7etOnIy18AOQXCrQ4RVOq6XBu1zHmP9ptXqDS2jYQptP3IeqIRMDmEcxfUL1GbioZ1ZzNPhecHzSJ8n/QGiy+vHgY7bbBCO83Fem3THBMRmfDnIARZ5SppVUVWr4jHJdRppGSFywJc9JIb0CgKTPrFpd2+Hm3XeSiBh7yF6PJdBHwkyPhsZgDZ/IIvTKkfIOembg29MS5/wLi57AIuA9ZMXXj8rOfkXc1Toygo6bkbASbxwTnjvymvUEVYkn7BMIEyZoXwGwDLEBqM6X8x64ifMCocFelCxAUxMj+T5Enpy72+HfIyKXIJwyH/X0voUrPT3piWOAqpWbQnPl/Cy9UvBt3C0e0Cf6eXAU9Kz4YG5Z9fDXyqGJ0lqUyAQLENb/g8QUCr16h02+zsChqaVTqFjvudR59Z6/DiEqbw37SPZM4rMNF8OgMi/iwa+Ww1C6qfmQ+fgNc+zLC8p6gL+TmqeIZyD781osTNS60hkp/e0LNyRfWjXMUE+rxwTU00RL5VvSFyBLqS9kUAUEnnWTab4aqINzmwXjSMEPZkf7vPEswUwGzRswIaf7azM8A8Ccdq93aZ+ASKNo8VnXFKvhUfWoJygH5POlBq1Qa1R0UVUX2ZJ5+t3X4CX0DHhGyJ30U/rCbTMi/ZTa5R3Z43NpvWg=

DEMOCRAZY.ID – Akademisi atau dosen NTU Singapura, Zulfikar Amir, blak-blakan membongkar institusi pendidikan di mana Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pernah menimba ilmu.

Selain UTS Insearch yang selama ini disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan setingkat lembaga kursus, kampus tempatnya meraih gelar sarjana juga mulai dikuliti.

Salah satunya oleh akademisi NTU Singapura, Zulfikar Amir.

Pada program Rakyat Bersuara, Zulfikar Amir, mengungkap bahwa alumni MDIS ternyata menjadi lulusan yang terpinggirkan terutama jika harus ikut bersaing dalam mendapatkan pekerjaan di pemerintahan.

Karena itu, warga Singapura yang tidak bisa tertampung pada perguruan tinggi dengan reputasi bagus, biasanya memilih keluar negeri seperti Australia, China, Amerika Serikat, atau ke Inggris.

“Sisanya lagi yang nilai akademiknya rendah dan kurang modal ambillah private education institution itu tadi seperti MDIS,” kata Zulfikar Amir.

Lebih lanjut dia menjelkaskan bahwa masyarakat Singapura adalah warga yang sangat meritokratik sehingga sangat diskriminatif terhadap orang-orang yang memilih jalan pintas dalam menempuh pendidikan.

“Jadi, lulusan private education institution seperti MDIS biasanya agak sulit mendapatkan pekerjaan di pemerintah, karena dianggap tidak memiliki kualifikasi sesuai dengan yang lulusan L level yang kemudian masuk universitas ternama tuh,” jelas Zulfikar Amir.

Lebih lanjut dia menyebut bahwa private education institution seperti MDIS menyelenggarakan program-program yang biasanya diperuntukkan untuk mahasiswa asing, yang ingin datang ke Singapura, ingin mengecap kehidupan di Singapura, mendapatkan fasilitas pendidikan, hingga ingin dianggap sebagai mahasiswa lulusan Singapura.

 Dia juga menjelaskan bahwa advance diploma di Singapura juga tidak sama dengan sertifikat SMA di Singapura.

“Jadi mengakatan bahwa sertifikat advance diploma setara dengan E level atau advance level, itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal,” tandas Zulfikar Amir.

Alasannya, advance diploma kontennya sama seperti pendidikan kursus.

Merespons penjelasan itu, Pakar Hukum Tata Negara, Prof Denny Indrayana menyatakan bahwa sekiranya dia bisa lebih awal bertemu dengan akademisi NTU Singapura tersebut, bisa jadi dia termasuk ahli yang dihadirkan pada persidangan di MK.

“Tapi sedihnya kalau begitu, tadi kan kalau mau jadi public official di Singapura kira-kira kalau dari MDIS nggak bisa tuh,” tanya Denny Indrayana.

“Agak sulit,” timpal Zulfikar Amir.

“Di Indonesia jadi wakil presiden,” tandas Denny Indrayana.

Artikel terkait lainnya