BOCOR! Trump Teriak-Teriak selama 2 Jam hingga Diusir dari Ruangan Saat 2 Pilot Jatuh di Iran

DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut sempat kehilangan kendali emosi, berteriak-teriak selama dua jam, ketika baru saja mengetahui jet tempur F-15 milik militer AS ditembak jatuh di wilayah Oran pada Jumat 3 April lalu.

‘Drama’ tersebut baru terungkap melalui laporan surat kabat The Wll Street Journal edisi Minggu (19/4) akhir pekan lalu.

Emosi Trump tak terkendali saat diinformasikan dua pilot tempurnya dinyatakan hilang di wilayah Iran.

Menurut sumber internal administrasi, Trump dikabarkan sangat terpukul oleh bayang-bayang sejarah kelam masa lalu.

“Trump berteriak ke arah para pembantunya selama dua jam” segera setelah ia diberitahu bahwa jet tempur tersebut ditembak jatuh, menurut laporan surat kabar tersebut.

Hal ini dipicu oleh ketakutan mendalam sang presiden akan terulangnya tragedi sejarah.

“Gambaran krisis sandera Iran tahun 1979—salah satu kegagalan kebijakan internasional terbesar dalam masa kepresidenan akhir-akhir ini—telah membayangi benaknya,” lapor WSJ mengutip pejabat senior tersebut.

Strategi Staf Gedung Putih Menghadapi Trump

Selama 24 jam yang sangat krusial, para penasihat senior dan pejabat tinggi pemerintah, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, berkumpul di Situation Room, untuk menerima pembaruan menit demi menit terkait misi penyelamatan.

Namun, ada satu sosok penting yang justru absen dari ruangan tersebut: sang Presiden sendiri. Trump sengaja ‘diusir’ dari ruangan itu.

Laporan tersebut mengungkapkan, staf Trump sengaja menjauhkan dirinya dari pusat komando utama.

Trump hanya diberikan pembaruan melalui telepon pada saat-saat tertentu yang dianggap penting.

“Para pembantu menjauhkan presiden dari ruangan saat mereka mendapatkan pembaruan menit demi menit, karena mereka percaya ketidaksabarannya tidak akan membantu,” kata pejabat itu kepada surat kabar tersebut.

Meski demikian, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membela sang presiden dengan menyatakan, Trump tetap menjadi pemimpin yang stabil yang dibutuhkan negara.

“Presiden Trump berkampanye dengan bangga atas janjinya untuk menolak kemampuan rezim Iran mengembangkan senjata nuklir, yang mana operasi mulia ini berhasil mencapainya,” ujar Leavitt dalam sebuah pernyataan resmi.

Operasi Intelijen: Jarum dalam Tumpukan Jerami

Misi penyelamatan itu sendiri digambarkan sebagai operasi yang sangat sulit.

Setelah satu anggota awak berhasil diselamatkan segera setelah melontarkan diri, kru kedua harus menghabiskan waktu lebih dari 24 jam bersembunyi di pegunungan Iran yang berbahaya.

Amerika Serikat berlomba dengan waktu agar pilot tersebut tidak jatuh ke tangan pasukan Iran.

Keberhasilan misi ini dikreditkan kepada kerja keras CIA yang berhasil melacak lokasi pilot tersebut dan memberikan informasi presisi kepada Pentagon.

Pejabat senior administrasi menyebutkan bahwa tanpa teknologi dan kemampuan intelijen, misi ini mustahil berhasil.

“Ini adalah ‘jarum dalam tumpukan jerami’ yang sesungguhnya. Tapi dalam kasus ini, misi itu memperlihatkan jiwa pemberani tentara AS dan kemampuan CIA,” ungkap pejabat tersebut.

Sebagai bagian dari strategi, CIA bahkan dilaporkan meluncurkan kampanye disinformasi dengan menyebarkan berita palsu bahwa pilot tersebut sudah ditemukan, guna mengecoh pasukan pencari Iran.

Setelah dipastikan selamat pada malam 4 April, Trump merayakan keberhasilan tersebut melalui platform Truth Social sekitar tengah malam.

“Pejuang pemberani ini berada di belakang garis musuh di pegunungan Iran yang berbahaya, diburu oleh musuh-musuh kita, yang semakin dekat dan dekat setiap jamnya,” tulis Trump dalam unggahannya.

Retorika Kontroversial dan Pesan ‘Segala Puji bagi Allah’

Namun, ketenangan pasca-penyelamatan tidak bertahan lama.

Keesokan paginya, Trump meluncurkan serangkaian ancaman kasar yang ditujukan langsung kepada pemerintah Iran.

Dalam salah satu unggahan yang penuh dengan kata-kata makian, ia memerintahkan Iran untuk segera membuka jalur pelayaran internasional.

Ia menulis perintah agar Iran “buka Selat itu, dasar b******* gila, atau kalian akan tinggal di Neraka,” dan secara mengejutkan mengakhiri pesan tersebut dengan kalimat “Segala puji bagi Allah.”

Ketegangan semakin meningkat pada 7 April ketika Trump mengancam bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” kecuali Iran setuju untuk membuka selat tersebut.

Retorika yang sangat provokatif dan tidak biasa ini memicu kekhawatiran global, bahkan membuat sejumlah anggota parlemen yang cemas menghubungi Gedung Putih untuk menanyakan kondisi kesehatan mental sang presiden.

Ketika ditanya oleh penasihatnya mengenai pesan yang dianggap aneh tersebut, terutama penggunaan istilah agama Islam, Trump memberikan jawaban yang tak terduga.

Pejabat administrasi mengungkapkan, Trump sengaja memikirkan ide untuk menyertakan pujian kepada Allah sebagai upaya untuk terlihat tidak stabil dan menyerang secara ofensif—sebuah gaya komunikasi yang menurutnya akan dipahami dan direspons oleh pihak Iran.

Hingga saat ini, manuver Trump ini terus menjadi perdebatan hangat di kalangan pengamat politik internasional, di mana banyak yang mempertanyakan efektivitas diplomasi “gila” yang diterapkan oleh sang presiden dalam menghadapi krisis bersenjata di Timur Tengah.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya