Bagaimana Jokowi Merayu Kader NasDem ke PSI: Rekayasa Politik, Citra Baru, dan Perebutan Arah Politik!

DEMOCRAZY.ID – Politik Indonesia pasca 2024 seperti papan catur yang sedang diguncang dari bawah. Figur-figur lama berpindah posisi, partai-partai mencari arah baru, dan Joko Widodo—meski tak lagi memegang jabatan formal—tetap menjadi tangan tak terlihat yang menggerakkan bidak-bidaknya.

Di tengah dinamika itu, satu fenomena menarik mencuat: arus kader Partai NasDem yang perlahan tapi pasti bergeser ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Perpindahan ini bukan sekadar peralihan rumah politik, melainkan tanda adanya rekayasa strategis di balik layar, yang bertujuan memperpanjang pengaruh Jokowi dalam lanskap politik Indonesia.

PSI yang dahulu dikenal sebagai partai anak muda kota dengan jargon antikorupsi dan meritokrasi, selama ini kerap dipandang sebagai partai eksklusif—ramai di media sosial tapi sepi di lapangan. Mereka punya semangat, tapi belum punya akar.

Jokowi, yang membaca perubahan arah politik pasca kekuasaannya, tampaknya sadar bahwa partai seperti PSI bisa menjadi wadah baru bagi gerakan politik yang ingin ia bentuk: lebih muda, lebih lentur, lebih bersih dari beban masa lalu, tetapi tetap berpihak pada jaringan politik dan ekonomi yang sudah ia bangun selama satu dekade.

Di titik itulah, “rayuan” Jokowi bekerja. Tidak dalam bentuk instruksi langsung, tapi lewat tanda-tanda yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang peka terhadap arah angin kekuasaan.

PSI mulai dibawa ke orbit baru, terutama setelah Kaesang Pangarep—putra bungsu Jokowi—menjadi ketua umum. Jokowi tidak perlu menyebutkan secara eksplisit bahwa PSI adalah “partainya”.

Cukup dengan simbol-simbol, seperti restu halus dalam pertemuan, dukungan moral dari tokoh-tokoh lingkaran istana, atau bahkan kehadiran figur-figur strategis yang sebelumnya dekat dengan Jokowi namun kini berpindah ke PSI.

Kader-kader NasDem menjadi salah satu target dari pergeseran ini.

Sejak partai tersebut mengambil langkah politik yang lebih dekat dengan Anies Baswedan pada Pilpres 2024, hubungan NasDem dan Jokowi merenggang.

Dalam politik, jarak itu berarti peluang—dan Jokowi tampaknya memanfaatkannya dengan baik.

PSI menjadi rumah baru bagi mereka yang merasa tidak lagi searah dengan garis politik NasDem.

Rayuan yang dilakukan bukan dengan janji kekuasaan instan, tapi dengan iming-iming masa depan: menjadi bagian dari proyek politik baru yang disebut sebagai “kelanjutan semangat Jokowi”.

Salah satu contoh paling mencolok adalah Ahmad Ali, mantan Wakil Ketua Umum Partai NasDem, yang kini telah resmi bergabung ke PSI dan menjabat sebagai Ketua Harian DPP PSI periode 2025–2030. Ahmad Ali bukan kader sembarangan.

Ia dikenal sebagai politisi berpengaruh di kawasan timur Indonesia dan tokoh sentral di internal NasDem.

Kepindahannya menandai sesuatu yang lebih besar dari sekadar perpindahan personal.

Ia membawa jaringan, pengalaman, dan legitimasi politik. Dalam berbagai pernyataannya, Ahmad Ali menyebut PSI sebagai “partai masa depan” dan menegaskan bahwa keanggotaannya di NasDem otomatis gugur begitu ia memiliki KTA PSI.

Selain Ahmad Ali, ada pula Bestari Barus, mantan Ketua Fraksi NasDem di DPRD DKI Jakarta, yang kini masuk ke jajaran pengurus DPP PSI sebagai Ketua Bidang Politik.

Kehadirannya menambah bobot pengalaman bagi PSI yang sebelumnya dikenal hanya diisi figur-figur muda.

Lalu, ada Sunny Tanuwidjaja, mantan penasihat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan eks kader NasDem, yang kini bergabung kembali dengan PSI sebagai Ketua Dewan Pakar Nasional.

Nama-nama ini membentuk jembatan antara generasi lama yang berpengalaman dan generasi muda yang energik, menjadikan PSI semakin matang secara struktur maupun jaringan.

Di sisi lain, rumor perpindahan juga mengitari tokoh besar lain dari NasDem, seperti Rusdi Masse, Ketua DPW NasDem Sulawesi Selatan.

RMS, begitu ia dikenal, beberapa kali dikabarkan akan pindah ke PSI setelah menghadiri sejumlah pertemuan bersama Kaesang Pangarep.

Meski hingga kini belum ada pengumuman resmi, kabar itu menandakan bahwa daya tarik PSI mulai menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi basis kuat NasDem.

Jika rumor ini terbukti, maka pergeseran itu akan memiliki dampak besar terhadap peta kekuatan politik di daerah.

Masuknya tokoh-tokoh dari NasDem ke PSI menciptakan efek berlapis.

Pertama, PSI mendapatkan keuntungan struktural.

Tokoh-tokoh lama membawa jaringan yang sudah jadi: tim lapangan, simpul massa, dan pengalaman mengelola mesin partai.

Dengan itu, PSI tak perlu lagi memulai dari nol di banyak wilayah.

Kedua, perubahan citra. Selama ini PSI kerap dianggap partai “kafe” atau “Jakarta-sentris”.

Dengan kehadiran tokoh seperti Ahmad Ali, PSI mulai dipandang lebih serius, lebih membumi, dan lebih berpengalaman.

Ketiga, aspek ideologis: PSI kini mampu meramu idealisme politik muda dengan pragmatisme politik lapangan, menciptakan keseimbangan antara wacana dan kerja nyata.

Jokowi sendiri tampaknya menikmati peran sebagai arsitek di balik layar.

Ia tak perlu memimpin langsung, cukup memastikan bahwa arah partai-partai yang dekat dengannya berjalan sesuai dengan visi yang ia wariskan: stabilitas, keberlanjutan pembangunan, dan konsolidasi politik yang tak bergantung pada satu figur tunggal.

Dengan menjadikan PSI wadah baru bagi loyalis-loyalisnya, Jokowi menciptakan struktur yang bisa bertahan lebih lama dari masa jabatannya. PSI adalah laboratorium politik bagi generasi pasca-Jokowi.

Namun, tak bisa diabaikan bahwa strategi ini menimbulkan kegelisahan di tubuh NasDem.

Bagi Surya Paloh, kehilangan tokoh sekelas Ahmad Ali dan Bestari Barus bukan hanya soal kehilangan kader, tapi juga kehilangan simbol kepercayaan diri.

NasDem yang selama ini berusaha mempertahankan identitasnya sebagai partai tengah kini harus menghadapi kenyataan bahwa sebagian kadernya lebih memilih berlabuh ke partai yang dipimpin putra Jokowi.

Reaksi internal NasDem beragam: ada yang mengecilkan fenomena ini sebagai “dinamika biasa”, ada pula yang menilai ini sebagai ancaman serius terhadap kohesi partai menjelang Pemilu 2029.

Pertarungan antara PSI dan NasDem pun perlahan terbentuk. Bukan sekadar pertarungan elektoral, tetapi pertarungan narasi.

PSI datang dengan wajah baru, dengan semangat muda dan dukungan simbolik Jokowi, sementara NasDem mempertahankan diri sebagai partai yang berani mengambil posisi politik independen.

Dalam lima tahun ke depan, keduanya akan berebut segmen pemilih yang sama: kelas menengah terdidik, urban, dan generasi muda yang jenuh pada politik lama.

Jika PSI berhasil menjaga momentum, merekrut lebih banyak figur berpengaruh, dan memperluas jaringan akar rumput, bukan mustahil mereka akan menembus ambang batas parlemen dan duduk di Senayan pada Pemilu 2029.

Tapi jika tidak, PSI hanya akan menjadi batu loncatan sementara bagi tokoh-tokoh yang ingin tetap dekat dengan pusat kekuasaan.

Dalam permainan politik Indonesia, perpindahan kader tidak pernah netral. Ia selalu punya makna strategis.

Dan dalam kasus ini, perpindahan dari NasDem ke PSI bukan sekadar soal partai, melainkan soal arah politik pasca-Jokowi.

PSI menjadi wadah baru bagi warisan politik yang sedang disiapkan dengan hati-hati: sebuah partai muda dengan darah lama, partai idealis yang mulai belajar pragmatis, partai yang tidak lagi hanya berbicara di media sosial, tapi mulai menanam kaki di tanah.

Jokowi telah menanam benih politik yang panjang: bukan sekadar pemerintahan sepuluh tahun, tetapi sebuah jaringan loyalitas, ide, dan arah baru yang akan terus tumbuh bahkan setelah ia turun dari panggung.

PSI adalah salah satu bentuk nyata dari warisan itu—dan para kader NasDem yang kini bergabung di dalamnya hanyalah permulaan dari babak baru politik Indonesia. ***

Artikel terkait lainnya