DEMOCRAZY.ID – Kapal cepat bersenjata milik Iran yang dikenal sebagai “armada nyamuk” kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Meski berukuran kecil, armada ini dinilai menjadi ancaman serius bagi Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan kapal komersial yang melintas di jalur vital tersebut.
Istilah “armada nyamuk” merujuk pada kumpulan kapal serang cepat dengan kemampuan manuver tinggi dan kecepatan ekstrem.
Kapal-kapal ini dilengkapi senapan mesin, rudal antikapal, hingga drone, yang digunakan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengeklaim telah menghancurkan angkatan laut Iran dengan menenggelamkan 158 kapal perang.
Namun, ia mengakui bahwa Iran masih memiliki kapal serang cepat, meskipun tidak dianggap sebagai ancaman besar.
Sejumlah analis militer justru menilai sebaliknya. Chris Long, mantan perwira Angkatan Laut Inggris, menyebut kapal cepat Iran sebagai senjata utama IRGC untuk patroli dan operasi militer di Selat Hormuz, termasuk pemasangan ranjau.
Sebelum konflik terbaru, IRGC diperkirakan memiliki antara 3.000 hingga 5.000 kapal serang cepat.
Laporan Wall Street Journal menyebut lebih dari 60% armada tersebut masih utuh setelah hampir dua bulan pertempuran dengan AS dan Israel.
Kapal-kapal ini sering disembunyikan di gua bawah tanah di sepanjang pesisir Iran.
Kecepatan tinggi dan manuver lincah memungkinkan mereka menghindari deteksi satelit serta melancarkan serangan mendadak.
Pakar IRGC dari Universitas Tennessee, Saeid Golkar, menyebut strategi ini sebagai bentuk perang asimetris di laut.
“Angkatan laut IRGC beroperasi seperti pasukan gerilya di laut. Mereka fokus pada serangan cepat dan mundur dengan segera,” ujarnya.
Strategi tersebut berkembang sejak Perang Iran-Irak pada 1980-an.
Saat itu, IRGC mengambil peran agresif dalam menyerang kapal tanker minyak, memicu keterlibatan militer AS untuk mengamankan jalur pelayaran.
Pengalaman menghadapi superioritas militer AS dalam Perang Teluk mendorong Iran mengembangkan taktik non-konvensional.
IRGC kini memiliki sekitar 50.000 personel dan membagi operasinya ke dalam lima zona di Teluk Persia.
Selain itu, Iran juga membangun sedikitnya 10 pangkalan tersembunyi untuk melindungi armada ini.
Salah satu yang paling penting berada di Farur, yang menjadi pusat operasi pasukan khusus angkatan laut.
Dalam perkembangannya, IRGC tidak hanya mengandalkan kapal kecil. Mereka juga mengembangkan kapal lebih besar, kapal selam mini, hingga kapal tanpa awak.
Beberapa model kapal bahkan diklaim mampu melaju hingga 185 km/jam.
Meski demikian, armada ini tetap menjadi ancaman utama karena taktik “serbuan” yang sulit diprediksi.
Kapal-kapal kecil dapat menyerang dari berbagai arah dalam waktu singkat, menyulitkan sistem pertahanan konvensional.
Insiden terbaru terjadi pada 18 April, ketika kapal cepat IRGC mendekati dua kapal komersial di dekat Selat Hormuz.
Mereka melepaskan tembakan peringatan dan diduga meluncurkan drone yang merusak sebuah kapal kontainer.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun kejadian ini menegaskan risiko tinggi bagi pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Pakar dari American Enterprise Institute, Nicholas Carl, menilai ancaman armada ini tetap signifikan meskipun AS memiliki kehadiran militer besar di kawasan.
Ia menekankan bahwa risiko akan meningkat jika Iran menggunakan taktik serangan massal dengan puluhan kapal cepat secara bersamaan.
Sementara itu, kapal perang AS cenderung menghindari patroli langsung di Selat Hormuz yang sempit.
Armada AS lebih banyak ditempatkan di Teluk Oman atau Laut Arab untuk tetap mengendalikan jalur pelayaran tanpa menghadapi risiko serangan jarak dekat.
Mantan Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Gary Roughead, menyebut armada Iran sebagai ancaman yang sulit diprediksi.
“Mereka adalah kekuatan yang sangat mengganggu. Kita tidak pernah tahu apa yang mereka rencanakan,” katanya.
Penggunaan drone semakin meningkatkan tingkat bahaya.
Teknologi ini relatif murah namun mampu memberikan dampak signifikan terhadap kapal perang bernilai miliaran dolar.
Dengan kondisi geopolitik yang terus memanas, keberadaan “armada nyamuk” Iran diperkirakan akan tetap menjadi faktor kunci dalam dinamika keamanan di Selat Hormuz.
Sumber: BeritaSatu