DEMOCRAZY.ID – Carolina Landsman, Seorang penulis di surat kabar Haaretz Israel menyampaikan pandangan sangat pesimistis mengenai nasib Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri saat ini, Benjamin Netanyahu.
Landsman berpendapat, akhir karier politik pria tersebut berarti akhir dari negara seperti yang kita kenal.
Gagasan Carolina Landsman berpusat pada apa yang dia gambarkan sebagai keberhasilan Netanyahu dalam mewujudkan nubuat “Negara adalah aku”, hingga kematian politiknya secara otomatis akan berarti kematian negara.
Dia menegaskan, Netanyahu pasti akan pergi, tetapi negara ini akan runtuh bersamanya. Dia menjelaskan “prestasi-prestasinya” dalam menghancurkan negara tidak dapat disangkal.
Penulis tersebut menyatakan penolakannya terhadap semua upaya optimis yang dilakukan Presiden Isaac Herzog atau Mahkamah Agung untuk mengulur waktu atau mencapai kesepakatan hukum.
“Maaf jika saya terdengar sangat pesimis, tetapi nasib kita sudah berada di belakang kita; semuanya sudah terjadi,” kata dia dilansir dari Aljazeera, Ahad (3/5/2026).
Landsman menjelaskan bagaimana Netanyahu telah menyatu dengan negara hingga titik peleburan total.
Dia bukan lagi sekadar Perdana Menteri, menurutnya, melainkan telah menjadi struktur yang membentuk institusi negara, sehingga keruntuhannya berarti keruntuhan negara itu sendiri.
Dia menekankan bahwa pencapaian nyata Netanyahu adalah pembongkaran sistematis.
Hal ini karena dia “berhasil” menghancurkan segalanya, segala hal yang baik; setidaknya, tak tersisa apa pun.
“Tatanan sosial yang hancur, tentara yang terpecah belah, dan para hakim yang ketakutan…,” demikian katanya.
Di ranah internasional, Landsman menyoroti meningkatnya permusuhan terhadap Israel dan kembalinya antisemitisme dalam bentuk “kanan kuno”.
Ini dengan menganggap bahwa kebijakan Netanyahu telah mendorong dunia ke tepi pengulangan tragedi sejarah, merujuk pada apa yang dikenal sebagai “Holocaust”.
Penulis tersebut juga mengkritik apa yang dia sebut “ilusi harapan”, yaitu keyakinan bahwa negara dapat selamat setelah kepergian Netanyahu.
Dia berpendapat, ilusi ini memicu kebijakan “menunda waktu” yang diterapkan oleh berbagai lembaga negara, mulai dari peradilan hingga kepresidenan hingga elit oposisi.
Yang, ironisnya, justru mempertahankan Netanyahu di kekuasaan karena menjaga sistem yang ada yang telah menjadi identik dengan Netanyahu sendiri, menurut penulis.
Landsman mengkritik oposisi, karena menurutnya mereka membenci Netanyahu tetapi justru memperkuatnya melalui kesetiaan mereka kepada negara.
Mereka membayar pajak, bertugas di militer, dan membela Israel di forum-forum internasional, dan karena “negara adalah Netanyahu”, pada kenyataannya mereka justru memperpanjang masa jabatannya.
Nada artikel ini mencapai puncak ketajamannya ketika penulis membandingkan Israel dengan tubuh yang terkena tumor ganas yang tidak lagi dapat disembuhkan.
Dia berpendapat bahwa upaya untuk mengangkat tumor ini (Netanyahu) guna menyelamatkan tubuh (negara) tidak akan berhasil karena tubuh tersebut sudah mati.
Sebelumnya, surat kabar yang sama mengungkap adanya krisis kepercayaan yang nyata antara Kepala Badan Keamanan Umum (Shin Bet) David Zini dan para pejabat senior di jajaran pimpinan badan tersebut.
Surat kabar tersebut mengutip sumber dan pejabat keamanan di Shabak yang mengatakan latar belakang krisis tersebut terletak pada apa yang dipandang di dalam badan tersebut sebagai kurangnya pemahaman Zini terhadap isu-isu profesional, serta gayanya yang menyebabkan hubungan kerja tegang.
Haaretz sebagaimana dikutip Aljazeera, Selasa (28/4/2026) menyebutkan salah satu sumbernya mengutip sebuah insiden yang terjadi tak lama setelah Zini ditunjuk sebagai kepala Shin Bet.
Zini menghubungi Kepala Divisi Investigasi di badan tersebut dan memintanya untuk menemui salah satu tahanan Gerakan Perlawanan Islam Hamas yang sedang menjalani penyelidikan.
Sumber tersebut menyebutkan bahwa selama pertemuan, Zini duduk berhadapan dengan tahanan tersebut dan mengajukan pertanyaan yang mengejutkan banyak pejabat senior badan tersebut.
“Zini bertanya kepada tahanan itu, ‘Bagaimana mungkin Anda belum mengubah pemikiran Anda setelah kegagalan Hamas pada 7 Oktober?'”
Sumber tersebut menjelaskan bahwa pertanyaan Zini dengan jelas menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak memahami apa itu Hamas, dan ideologi ekstremis apa yang dianutnya.
Penulis laporan di surat kabar tersebut mengatakan hampir semua sumbernya menggambarkan suasana di Badan Shabak pada masa kepemimpinan Zini sebagai bermusuhan dan beberapa di antaranya menyebut adanya gaya bicara ala militer.
Hubungan ini, menurut sumber-sumber surat kabar tersebut, disebabkan kecenderungan Zini untuk membungkam mereka yang tidak setuju dengan pendapatnya, serta penolakannya yang terus-menerus untuk mendengarkan sudut pandang yang berbeda dalam diskusi.
Seorang pegawai di badan tersebut menggambarkannya dengan mengatakan.
“Dia acuh tak acuh, mudah marah, dan bertindak seperti komandan pasukan terhadap bawahannya.”
Seorang lainnya menambahkan, “Tanpa alasan, dia tiba-tiba bisa berkata ‘sialan kamu’ dalam diskusi, dan dia bisa bertindak dengan cara yang sangat kasar.”
Surat kabar tersebut mengutip kesaksian pegawai lain mengenai penghinaan Zini terhadap mereka, termasuk memotong pembicaraan mereka selama diskusi dan kehilangan kesabaran terhadap mereka.
Salah satu di antaranya mengatakan, “Kedaulatan Badan Keamanan Umum belum hancur, tetapi sedang menuju ke arah itu.”
Haaretz melaporkan bahwa pembicaraan dengan berbagai sumber mengungkap gambaran yang mengkhawatirkan.
Menurut deskripsi mereka, krisis ini telah mencapai tingkat kedalaman yang memungkinkan untuk menyebut adanya perpecahan nyata di dalam badan Shabak.
Perpecahan yang telah membentuk dua kubu utama: satu dipimpin oleh Zini dan wakilnya, dan yang lain dipimpin oleh para komandan brigade dan divisi.
Salah satu sumber menggambarkan wakil kepala Shin Bet sebagai satu-satunya orang yang didengarkan oleh Zini, “Dan ini adalah masalah,” kata sumber itu.
Dia menambahkan, “Zini, yang tidak memiliki pengalaman apa pun di Shin Bet, telah menjadikannya orang paling berkuasa di badan tersebut. Ini adalah situasi yang sangat sensitif, dan mungkin juga berbahaya.”
Surat kabar tersebut menyebutkan bahwa badan intelijen tersebut khawatir pendekatan Zini akan merugikan salah satu unitnya yang paling sensitif yaitu Divisi Riset yang bertanggung jawab atas pembentukan berbagai pandangan mengenai isu-isu intelijen.
Surat kabar tersebut juga menyoroti ketegangan yang ada antara Zini dan penasihat hukum badan keamanan umum Shabak.
Menurut beberapa sumber, Zini sering bertindak bertentangan dengan pendapat penasihat tersebut, dan terkadang, ketika dipaksa untuk bekerja sesuai dengan rekomendasinya, dia tidak menyembunyikan kritiknya.
Sumber: Republika