Siaga Tempur! Tanda-Tanda Perang Iran vs AS-Israel Akan Berlanjut

DEMOCRAZY.ID – Iran pada Kamis (30/4/2026) menyerahkan proposal balasan kepada Amerika Serikat (AS) lewat Pakistan yang berisi 14 poin guna mengakhiri perang.

Seiring dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan mengulas proposal itu, data lalu lintas udara di kawasan Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda peningkatan eskalasi seakan perang akan kembali berkecamuk.

Eksaminasi oleh Anadolu menggunakan data dari Flightradar24 mengungkap bahwa lalu lintas militer AS meningkat beberapa hari belakangan ditandai dengan lalu lalangnya pesawat transport dan pengisian bahan bakar dalam jumlah besar.

Pada Sabtu (2/5/2026), Flightradar24 menangkap penambahan jumlah tak biasa dari pesawat-pesawat AS yang melintas dari Eropa menuju negara-negara di Timur Tengah.

Kebanyakan dari pesawat-pesawat yang terlacak itu adalah jenis pesawat kargo militer C-17A Globemaster III, yang masing-masing mampu membawa hingga 77 ton kargo dan sekitar 100 personel.

Pesawat lainnya dalam data Flightradar24 termasuk Lockheed C-5M Super Galaxy, pesawat transportasi militer terbesar milik Angkatan Udara AS, dengan kapasitas muatan hingga 127 ton; Boeing KC-46 Pegasus, pesawat tanker yang biasa digunakan untuk pengisian bahan bakar jet-jet; dan pesawat transportasi strategis lainnya terlacak bergerak dari Eropa menuju Timur Tengah.

Setidaknya ada 12 pesawat transportasi terlacak menuju Timur Tengah yang diketahui tinggal landas dari Jerman.

Boeing KC-135 Stratotanker juga di antara yang menuju Timur Tengah, dengan sedikitnya empat pesawat terlacak beroperasi di sekitar Israel dan kawasan sekitar.

Sebuah Boeing RC-135 W River Joint, pesawat intel SIGINT juga terpantau beroperasi di ruang udara dekat Bahrain. Beberapa pesawat transportasi lain milik AS juga terlacak lalu lalang di udara Timur Tengah namun belum diketahui tujuan pastinya.

Dilaporkan Channel 12 pada Sabtu (2/5/2026), Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir mengintensifkan komunikasi dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper terkait kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran.

Asesmen kedua pihak menunjukkan bahwa infrastruktur penting Iran, termasuk jaringan energi dan jalan raya, bisa menjadi target serangan jika eskalasi diputuskan, menurut laporan tersebut.

Pada saat yang sama, militer Israel meningkatkan kesiapan pertahanan dan menjaga kewaspadaan tinggi untuk mengantisipasi kemungkinan babak pertempuran berikutnya.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa AS mempertimbangkan opsi serangan terbatas terhadap Iran untuk mendorong kesepakatan terkait program nuklir, meski belum ada keputusan akhir mengenai waktu atau bentuknya.

Koordinasi kedua pihak mencakup pemantauan terhadap upaya Iran memulihkan fasilitasnya.

Serangan kemungkinan akan menyasar instalasi energi, pabrik baja, serta cadangan minyak dan gas.

AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu serangan balasan dari Iran terhadap sekutu AS di Teluk dan penutupan Selat Hormuz.

Kedua pihak kemudian menyepakati gencatan senjata dua pekan yang diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, diikuti pembicaraan di Islamabad pada 11–12 April, tetapi tidak menghasilkan kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa menetapkan batas waktu baru sesuai permintaan Pakistan.

Menurut kantor berita Fars, seorang pejabat militer senior Iran memperingatkan bahwa konflik baru dengan Amerika Serikat kemungkinan besar terjadi.

“Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar terjadi, dan berbagai bukti juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak mematuhi komitmen atau perjanjian apa pun,” kata Mohammad Jafar Asadi, wakil inspektur markas militer, dalam pernyataan yang dikutip kantor berita tersebut pada Sabtu.

“Tindakan dan pernyataan para pejabat AS sebagian besar berorientasi pada media, yang bertujuan pertama untuk mencegah penurunan harga minyak dan kedua untuk keluar dari situasi sulit yang mereka ciptakan sendiri,” tambahnya.

Asadi menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran dalam kesiapan penuh untuk menghadapi setiap petualangan baru dan salah perhitungan oleh AS.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, Teheran pada Kamis (3/5/2026) mengajukan proposal baru kepada Pakistan untuk melanjutkan negosiasi dengan AS guna mencapai kesepakatan mengakhiri perang.

Kendati demikian, masih belum jelas apakah upaya untuk menghidupkan kembali perundingan tersebut akan berhasil.

Sumber: Republika

Artikel terkait lainnya