DEMOCRAZY.ID – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjadi perbincangan di media sosial setelah wajahnya tidak terlihat dalam sejumlah foto kegiatan Presiden Prabowo Subianto pasca terkuaknya skandal penyadapan ilegal yang diduga dilakukan eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan sejumlah petinggi Polri.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keberadaan Teddy, bahkan berkembang rumor mengenai kemungkinan pergantian posisi Sekretaris Kabinet.
Spekulasi itu mencuat ketika akun resmi Sekretariat Kabinet mengunggah dokumentasi rapat terbatas yang dipimpin Prabowo bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
“Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa siang, 3 November 2026, membahas perkembangan ekonomi nasional dan penguatan ketahanan energi,” demikian keterangan unggahan tersebut.
Listyo Sigit Prabowo dan Ahrie Sonta menyadap presiden dengan memasukkan nomor teddy ke server LIMS tahun 2025 lalu mau menghapus jejak di oktober 2026 ini tapi ceroboh ga hapus activity log 😁,
dan baru ketahuan 30 oktober kemarenBaca Jugatanpa basa basi tanggal 4 november jadi tersangka njirrr☠️☠️
— Lambe Saham (@LambeSahamjja) November 3, 2026
Dalam foto-foto yang dipublikasikan, Prabowo terlihat memimpin pembahasan bersama jajaran menteri.
Namun, sosok Teddy tidak tampak dalam dokumentasi tersebut sehingga memancing rasa penasaran warganet.
Sejumlah pengguna media sosial kemudian mempertanyakan keberadaan Seskab di tengah ramainya pemberitaan mengenai dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo.
Bahkan, muncul spekulasi bahwa posisi Teddy berpotensi digantikan.
Buna Teddy tiba2 leyap bak ditelan bumi setelah Listyo Sigit jadi tersangka & di tahan di Mabes Polri. isu yg berhembus kencang posisi Buna teddy akan diganti dengan Kapten Dali Darulqutni sebagai Seskab pendamping Prabowo
Kalau bener PS mulai ada perlawanan soal ini dukung https://t.co/GYu7gJvQmCBaca Juga— ᴴᵃʳʳʸ ᵁᵈⁱⁿ ᴮᵃʳᵇᵃʳᵒˢˢᵃ ⁽ᴬᴰᴱᴷ ᵁᴰᴵᴺ⁾ (@HarryRusuh2) November 4, 2026
Spekulasi mengenai keberadaan Teddy mulai terjawab melalui unggahan dokumentasi kegiatan Presiden lainnya pada hari yang sama.
Teddy terlihat mendampingi Prabowo ketika memberikan taklimat kepada sekitar 400 peserta Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia (P3MDI) Batch 1 Tahun 2026 di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dalam foto kegiatan tersebut, Teddy tampak berdiri di samping kiri Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Kemunculannya sekaligus menunjukkan bahwa Teddy masih mengikuti agenda Presiden di Istana.
KALO TEDDY BENERAN DALANGNYA JD MASUK AKAL DONG VIDEO ITU KAN DULU DIA AJUDANNYA PAK JOKOWI & DIKASIHIN KE PRABOWO. BERITA YANG HAH HEH HOH INI ‼️ https://t.co/F2o6BE5Fg4
— lovegood (@lovegoodness_) November 3, 2026
Kehadiran Teddy dalam kegiatan tersebut juga diperkuat keterangan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria.
Arif mengaku dihubungi langsung oleh Seskab untuk mendampingi Prabowo dalam pertemuan dengan peserta P3MDI.
“Hari ini saya baru tadi siang dihubungi oleh Pak Seskab untuk bisa hadir pada acara hari ini untuk mendampingi Bapak Presiden untuk berjumpa dengan para peserta Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan,” kata Arif seperti diberitakan Antara, Selasa (3/11/2026).
Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa Teddy masih menjalankan koordinasi agenda Presiden, setidaknya dalam kegiatan P3MDI tersebut.
Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto terus menjadi perhatian publik.
Perkara ini menyeret sejumlah pejabat tinggi Polri dan memunculkan pertanyaan mengenai penggunaan kewenangan penyadapan di lingkungan kepolisian.
Berdasarkan informasi penyidikan yang disampaikan Polri, tiga orang ditetapkan sebagai tersangka, yakni mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta, dan Irjen Eko Hadi Santoso.
Sementara itu, Irjen Slamet Uliandi disebut masih menjalani pemeriksaan.
Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Asep Safrudin mengungkapkan, dugaan penyadapan tersebut tidak hanya menyasar nomor telepon Presiden Prabowo.
Sejumlah pejabat negara, tokoh politik, petinggi media, tokoh organisasi masyarakat (ormas), pengusaha, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga diduga menjadi sasaran.
“Terhadap para tersangka tersebut diduga telah melakukan penyadapan tanpa prosedural atau illegal tapping terhadap nomor telepon Presiden Republik Indonesia, pejabat negara, tokoh-tokoh politik, kemudian media, tokoh ormas, LSM, dan para pengusaha,” kata Asep di Mabes Polri, Selasa (3/11/2026).
Menurut Asep, aktivitas penyadapan itu diduga berlangsung sepanjang 2025 hingga 2026.
Penyidik menduga tindakan tersebut dilakukan tanpa berkaitan dengan kepentingan penegakan hukum.
Selain itu, penyidik menemukan dugaan penghapusan catatan aktivitas penyadapan atau log pada Oktober 2026.
Penghapusan tersebut diduga dilakukan untuk menghilangkan jejak aktivitas penyadapan.