DEMOCRAZY.ID – Kecelakaan pesawat kerap menyisakan sedikit orang yang selamat.
Bagi para penyintas, lolos dari maut dalam peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.Satu dari sedikit orang itu adalah Sumitro Djojohadikusumo, besan Presiden ke-2 Soeharto dan ayah Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto.
Ia selamat dari kecelakaan pesawat pada 1947, sebuah pengalaman yang mendorongnya untuk terus memberikan manfaat bagi semua orang.
Kisah tersebut dituturkan langsung oleh Sumitro dalam biografinya berjudul Sumitro Djojohadikusumo, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000).
Diceritakan, pada 1947, Sumitro melakukan perjalanan dari San Francisco menuju New York menggunakan pesawat Douglas DC-6.
Perjalanan itu dilakukan untuk menjemput istrinya, Dora Marie Sigar.
Namun, di tengah perjalanan, pesawat mengalami masalah hingga akhirnya terjatuh keras di dekat Pegunungan Rocky.
Beruntung, benturan keras itu ternyata tak membuat Sumitro kehilangan nyawa.
“Yang ia ingat, tubuhnya berusaha melompat sebelum pesawat membentur bumi dan pecah berkeping-keping,” tutur Sumitro kepada penulis biografinya Aristides Katoppo berjudul Sumitro Djojohadikusumo, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000).
Akibat kecelakaan tersebut, Sumitro hanya mengalami luka gores di jari tengah tangannya.
Sementara itu, 32 dari 63 penumpang tewas.
Sumitro sendiri mengklaim, “tidak habis mengerti bagaimana bisa selamat.”
Setelah kejadian itu, Sumitro mengenang dirinya langsung dievakuasi dan diterbangkan menggunakan pesawat lain.
Namun, pengalaman tersebut meninggalkan trauma mendalam.
Sejak saat itu, ia selalu merasa cemas setiap kali harus bepergian menggunakan pesawat.
“Hingga 2-3 tahun setelahnya, Sumitro masih takut terbang,” tulis Aristides Katoppo.
Trauma itu membuat Sumitro lebih waspada selama penerbangan.
Ingatan mengenai kecelakaan tersebut kerap muncul kembali ketika berada di udara.
Ia bahkan mudah panik apabila melihat orang merokok di pesawat.
Tak hanya itu, Sumitro juga jadi terbiasa mendengarkan suara mesin sebelum pesawat lepas landas.
Ia juga tak segan menegur pilot apabila mendengar suara mesin yang menurutnya terdengar aneh.
“Walau ada turbulence, kalau mesin bagus ya tenang,” ungkap Sumitro.
Dari pengalaman tersebut, Sumitro merasa Tuhan telah memberinya ‘bonus’ nyawa.
Apalagi, sebelumnya ia juga pernah divonis tidak akan berumur panjang.
Kesempatan hidup yang kembali diberikan kepadanya membuat Sumitro ingin menjalani sisa hidup dengan memberikan manfaat.
“Dalam perjalanan hidup Sumitro yang panjang, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengabdi kepada bangsa dan cita-cita kerakyatan. Itulah mungkin sebabnya sehingga Tuhan berbaik hati memberinya beberapa kali bonus nyawa,” tulis Aristides Katoppo.
Manfaat itu kemudian tercatat dalam sejarah.
Sumitro dikenal sebagai salah satu ekonom paling berpengaruh di Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian pada Kabinet Natsir (1950-1951), Menteri Keuangan pada Kabinet Wilopo (1952-1953) dan Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1956).
Di era Orde Baru, Sumitro kembali dipercaya menjadi Menteri Perdagangan dalam Kabinet Pembangunan I (1968-1973) serta Menteri Riset dalam Kabinet Pembangunan II (1973-1978).