Di antara pembudidaya nila, ada keyakinan yang cukup umum bahwa pakan berprotein lebih tinggi akan mempercepat pertumbuhan.
Keyakinan itu benar sampai batas tertentu, lalu berhenti bekerja dan berbalik menjadi beban biaya.
Mengetahui di mana letak batas itu jauh lebih berguna daripada mengetahui merek mana yang angkanya paling besar di pasaran.
Nila adalah ikan omnivora. Di alam ia memakan plankton, lumut, dan bahan nabati, dan saluran pencernaannya memang disusun untuk itu.
Kebutuhan proteinnya karena itu jauh di bawah ikan karnivora.
Patokan yang umum dipakai adalah 25 sampai 32 persen tergantung fase, dengan fase benih di kisaran atas dan fase pembesaran akhir di kisaran bawah.
Pakan berprotein 45 atau 50 persen yang tepat untuk kakap putih tidak akan membuat nila tumbuh dua kali lebih cepat.
Kelebihannya justru dibuang sebagai amonia, yang mencemari kolam sekaligus menaikkan biaya tanpa menambah bobot.
Dengan rentang itu sebagai patokan, pilihan di pasaran menjadi lebih mudah disaring.
Di antara merek yang mencantumkan kandungan protein secara resmi untuk komoditas nila, De Heus memuat TOPAZ HG pada minimal 32 sampai 34 persen dalam bentuk pelet apung, tersedia dalam ukuran butiran 3 mm dan 5 mm.
Suri Tani Pemuka memuat NGA 10 pada 32 persen, juga pelet apung, diformulasikan tanpa tepung ikan dengan penyerapan fosforus yang dioptimalkan sehingga limbah fosfor yang masuk ke air lebih rendah.
Untuk fase benih sebelum pembesaran, PA Gold pada 40 persen menjadi acuan karena ukuran butirannya disesuaikan bukaan mulut ikan kecil.
Merek lain yang banyak dipakai pembudidaya nila, seperti CP Prima dengan lini Hi-Pro-Vite, Tongwei, New Hope, dan Evergreen, tidak mencantumkan kandungan proteinnya di kanal resmi masing-masing.
Untuk merek-merek ini, mintalah lembar data produk dari distributor sebelum angkanya dipakai menyusun anggaran, karena keterangan lisan penjual eceran bukan dasar yang memadai.
Setelah kisaran protein ditetapkan, pertanyaan berikutnya yang jauh lebih menentukan adalah berapa biaya pakan untuk menghasilkan satu kilogram ikan.
Inilah ukuran yang sebenarnya, bukan harga per karung dan bukan pula angka protein.
Hitungannya adalah harga pakan per kilogram dikalikan nilai konversi pakan yang tercapai di kolam Anda.
Pakan yang lebih mahal per kilogram bisa berakhir lebih murah per kilogram panen bila konversinya lebih baik, dan pakan termurah di rak sering menjadi yang paling mahal setelah dihitung sampai panen.
Ada beberapa hal di luar angka protein yang ikut menentukan konversi tersebut, dan sebagian besarnya tidak memerlukan biaya tambahan.
Bentuk pelet termasuk yang paling berpengaruh.
Pelet apung menyisakan pakan yang terlihat di permukaan, sehingga pembudidaya bisa langsung menilai apakah takarannya pas dan menyesuaikan pemberian berikutnya.
Pelet tenggelam umumnya lebih murah tetapi tidak memberi umpan balik secepat itu, sehingga sisa pakan baru ketahuan setelah air memburuk.
Ukuran butiran juga menentukan. Butiran yang terlalu besar tidak termakan dan mengendap, sedangkan yang terlalu halus cepat larut sebelum sempat dimakan.
Produsen yang menyediakan beberapa ukuran dalam satu rangkaian memudahkan pembudidaya mengikuti pertumbuhan ikan tanpa berganti merek di tengah siklus, dan pergantian merek mendadak hampir selalu diikuti penurunan konversi selama beberapa hari.
Yang juga sering diremehkan adalah keteraturan pemberian.
Memberi pakan pada jam yang sama setiap hari, sedikit demi sedikit sambil mengamati respons ikan, memberi hasil jauh lebih baik daripada menebar sekaligus dalam jumlah besar.
Pada kolam padat, oksigen paling rendah terjadi menjelang subuh, dan nila yang kekurangan oksigen akan berhenti makan sehingga pakan yang sudah ditebar terbuang.
Menggeser jam pemberian ke saat oksigen relatif tinggi menaikkan porsi pakan yang benar-benar terkonversi menjadi daging.
Terakhir, sampling bobot setiap sepuluh sampai empat belas hari memungkinkan ransum dihitung ulang mengikuti biomassa terbaru.
Tanpa itu, takaran pakan selalu tertinggal di belakang pertumbuhan, terlalu sedikit di awal lalu berlebihan menjelang panen.
Buku catatan sederhana berisi tanggal, jumlah pakan, dan hasil sampling sudah cukup untuk menunjukkan di fase mana efisiensi mulai bocor.
Jadi dalam memilih merek pakan berprotein tinggi untuk nila, angka tertinggi di pasaran bukan sasaran yang tepat.
Yang dicari adalah kadar yang sesuai fase, dari merek yang mencantumkan angkanya secara terbuka, dengan bentuk dan ukuran butiran yang cocok dengan sistem kolam Anda.
Pembahasan per fase selengkapnya tersedia pada ulasan pakan ikan nila dari STP Aquaculture.
Sebelum memutuskan pembelian berikutnya, hitung dulu biaya pakan per kilogram panen pada siklus yang baru saja selesai, karena angka itulah yang menunjukkan apakah pakan yang sekarang Anda pakai benar-benar ekonomis atau hanya terlihat murah di rak toko.