Batal Pulang ke Solo Menjadi Rakyat Biasa, Pengamat: Jokowi Bukan Makhluk Bermoral!

DEMOCRAZY.ID — Narasi kepulangan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Solo untuk menjalani masa pensiun sebagai rakyat biasa kembali menuai keraguan di tengah publik.

Alih-alih menarik diri dari pusaran dinamika politik nasional, aktivitas sang mantan kepala negara justru menunjukkan intensitas safari politik yang masif.

Pengamat politik dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai bahwa berbagai pergerakan yang dilakukan Jokowi sulit dilepaskan dari upaya mempertahankan pengaruh.

Komitmen untuk membatasi kekuasaan dinilai berbenturan dengan realitas kepentingan politik keluarga yang masih melekat kuat di struktur kekuasaan saat ini.

“Katanya harus membatasi kekuasaan itu sementara. Sementara ini publik juga melihat bahwa Jokowi itu punya agenda-agenda politik,” ujar Ginting, dikutip dari program ROSI di Kompas TV.

Ginting menyoroti bagaimana posisi strategis orang-orang terdekat Jokowi masih menduduki tampuk kekuasaan penting—mulai dari putra sulungnya Gibran Rakabuming Raka yang menjabat sebagai Wakil Presiden, putra bungsunya Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI, hingga sang menantu Bobby Nasution yang memegang kursi Gubernur Sumatera Utara.

Faktor-faktor inilah yang membuat janji kepulangan murni ke Solo dipertanyakan.

“Artinya tidak berhenti yang katanya mau pulang ke Solo, tapi tetap melakukan safari politik,” tegasnya.

“Jokowi punya kepentingan. Seperti saya bilang, Jokowi punya kepentingan karena anaknya wapres, karena anaknya ketua umum partai, karena menantunya Gubernur Sumatera Utara.”

Kritik Muatan Politik di Balik Pesan Moral

Sorotan tajam tersebut turut dikaitkan dengan pidato yang disampaikan Jokowi dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Dalam kesempatan itu, Jokowi sempat berpesan agar pemegang kekuasaan tidak menggunakan jabatannya untuk menjatuhkan orang lain serta mengingatkan bahwa jabatan bersifat sementara.

Kendati dikemas dalam balutan keagamaan, Ginting menilai pesan tersebut sarat dengan muatan kepentingan politik praktis dan tidak bisa dibaca sekadar sebagai petuah moral biasa.

“Jadi orang melihat ada agenda-agenda politik sehingga ini tidak bisa dikatakan hanya pidato moral dan keagamaan semata,” pungkas Ginting.

“Nuansa politiknya sangat kental. Dia makhluk politik, bukan makhluk moral.”

[VIDEO]

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya