Utang Tembus Rp8.000 Triliun, Purbaya Masih Santai: Rakyat Tercekik, Pejabat Kok Malah Tenang?

DEMOCRAZY.ID – Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali jadi sorotan tajam.

Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) per Mei 2026 menunjukkan angka fantastis: utang Indonesia membengkak hingga US$444,4 miliar atau setara dengan Rp8.026 triliun! Angka ini melonjak 3,7 persen secara year-on-year.

Namun, di tengah kekhawatiran publik soal beban utang yang terus menggunung, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa justru tampil tenang.

Ia menegaskan dengan nada percaya diri bahwa fiskal Indonesia dalam kondisi “sangat sehat” dan mampu melibas seluruh kewajiban utang tanpa kendala.

Anda Pertanyakan S&P?

Purbaya bahkan menantang balik pihak-pihak yang meragukan kemampuan bayar negara.

Menurutnya, jika Indonesia benar-benar di ambang krisis atau ketidakmampuan bayar, lembaga pemeringkat internasional seperti S&P pasti sudah memberikan sinyal bahaya.

“Kalau kita dianggap nggak mampu, pasti sudah unstable atau negatif. Atau mungkin sudah downgrade. Jadi Anda mempertanyakan S&P? Secara teoretis, ya cukup. Nggak ada masalah,” tegas Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).

Strategi “Smart Move”: Pindahkan Ratusan Triliun ke Bank

Yang paling mengejutkan dari pernyataan Purbaya adalah klaim bahwa kas pemerintah justru sedang “kelebihan”.

Ia mengungkapkan strategi pengelolaan kas yang agresif dengan memindahkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Bank Indonesia ke sektor perbankan.

Purbaya mengungkap ada dana sekitar Rp130 triliun yang “menganggur” hingga akhir tahun dan tidak akan digunakan.

Ia memilih memindahkan dana tersebut ke perbankan untuk memompa likuiditas ekonomi nasional.

“Saya masih kebanyakan duit kan sampai dibagi-bagi. Dari SAL saya pindahin ke perbankan, itu artinya apa? SAL itu nggak dipakai kan? Sekitar Rp130 triliun sampai akhir tahun, nggak akan dipakai, karena kalau mau pakai harus izin DPR,” ungkapnya.

Bantah Tambahan Belanja

Purbaya menepis anggapan bahwa langkah pemindahan dana ini adalah bentuk tambahan belanja pemerintah.

Ia mengklaim ini hanyalah taktik cash management yang jenius agar dana negara tidak mati di Bank Indonesia, namun tetap menghasilkan return yang sama.

“Saya tidak pakai, cuma saya pindahin aja dengan return yang sama dengan kalau uang saya taruh di BI. Jadi saya tidak ada kerugian, tapi pada saat yang bersamaan saya bantu perekonomian. Smart move,” pungkasnya dengan nada bangga.

Kini, publik menunggu apakah langkah smart move ala Menkeu Purbaya ini benar-benar mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ancaman utang yang terus merangkak naik, ataukah ini sekadar “obat penenang” di tengah panasnya isu fiskal nasional?

Artikel terkait lainnya