Panen Kritik! Pidato Rais Aam PBNU Miftahul Akhyar Jadi Sorotan Tajam Warga NU Gara-Gara Hal Ini

DEMOCRAZY.ID – Polemik di internal Nahdlatul Ulama (NU) kembali mencuat setelah muncul kritik terhadap pidato Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dalam penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan.

Kritik tersebut disampaikan HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, warga NU sekaligus kiai kampung, yang menyoroti isi pidato berbahasa Arab tersebut.

Dalam catatannya, Khalilur mengaku menyimak langsung pidato KH Miftahul Akhyar melalui siaran kanal NU Online.

Ia kemudian melakukan penelaahan terhadap materi yang disampaikan, khususnya terkait kutipan hadis dan referensi kitab yang digunakan.

Menurut Khalilur, terdapat bagian pidato yang disebut berasal dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali, namun tidak disertai penyebutan sumber rujukan dalam penyampaian pidato.

“Saya menyimak pidato berbahasa Arab Kiai Miftahul Akhyar dalam Munas-Konbes NU di Bangkalan melalui siaran langsung kanal NU Online,” tulis Khalilur dalam catatannya.

Ia menyebut, sebagai lulusan MAN-PK dan santri Denanyar, dirinya merasa memiliki kemampuan untuk menelaah isi pidato berbahasa Arab tersebut.

“Sebagai lulusan MAN-PK dan santri Denanyar, telinga saya masih cukup terlatih untuk menelaah isi pidato semacam itu,” lanjutnya.

Khalilur menilai persoalan utama bukan hanya mengenai sumber kutipan, tetapi juga sejumlah kekeliruan dalam pembacaan teks Arab yang menurutnya muncul dalam pidato tersebut.

Ia mempertanyakan tidak adanya penyebutan kitab maupun pengarang saat menyampaikan materi yang disebut berasal dari karya Imam Al-Ghazali.

“Karena itu, saya merasa pantas untuk bertanya: bukankah praktik seperti ini dalam ilmu balaghah dapat dikategorikan sebagai sariqah—atau, dalam istilah akademik modern, plagiasi?” tulisnya.

Selain persoalan sumber rujukan, Khalilur juga menyampaikan sejumlah catatan mengenai kesalahan penyebutan angka tahun Hijriah, harakat, hingga pelafalan beberapa bagian teks Arab.

Salah satu yang disoroti adalah ketika penyebutan tahun 1448 Hijriah yang menurutnya terbaca menjadi 14.048 Hijriah.

Ia juga menyoroti beberapa bagian lain yang dinilai kurang tepat, seperti pembacaan frasa tertentu yang berkaitan dengan istilah dalam ilmu fikih, sharaf, maupun bahasa Arab.

Dalam catatannya, Khalilur menyebut terdapat sejumlah kekeliruan harakat dan lafal yang menurutnya perlu menjadi perhatian, mengingat posisi Rais Aam PBNU memiliki perhatian besar dalam tradisi keilmuan pesantren.

“Demikian beberapa catatan yang saya temukan dari pidato penutupan Munas-Konbes tersebut. Menurut saya, kekeliruan-kekeliruan semacam ini tidak seharusnya muncul dari seorang Rais Aam PBNU, terlebih ketika yang dibaca hanyalah sebuah teks yang telah tersedia,” tulis Khalilur.

Ia kemudian mengaitkan kritik tersebut dengan harapannya terhadap kepemimpinan NU ke depan.

Menurutnya, sosok pemimpin NU harus mampu menjadi teladan dalam keilmuan, ketelitian, serta menjaga marwah organisasi.

Dalam bagian akhir catatannya, Khalilur menyampaikan pandangan keras terkait kepemimpinan Rais Aam.

“Rais Aam yang plagiat, tidak tahu pasang harkat, dan punya riwayat sebagai penebar pertengkaran di tubuh NU, tidak layak lagi jadi Rais Aam,” tulisnya.

Catatan tersebut menjadi bagian dari dinamika panjang perdebatan publik mengenai arah kepemimpinan PBNU dan harapan warga nahdliyin terhadap figur yang memimpin organisasi tersebut.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya