DEMOCRAZY.ID – Pakar telematika Roy Suryo mulai angkat bicara mengenai proses penangkapannya terkait kasus dugaan penyebaran informasi mengenai ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Setelah memperoleh penangguhan penahanan dan dibebaskan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada 22 Juni 2026, Roy kini aktif menceritakan pengalamannya melalui berbagai kanal media dan podcast.
Meski mengaku kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih, Roy tetap membagikan kisah saat dirinya diamankan oleh penyidik Polda Metro Jaya di kediamannya yang berada di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, pada Jumat pagi, 19 Juni 2026.
Dalam sebuah wawancara yang diunggah di kanal YouTube milik Refly Harun, Roy menggambarkan suasana penangkapan yang menurutnya mengingatkan pada adegan dalam film Pengkhianatan G30S/PKI.
“Situasinya kayak gitu. Jadi, ada orang diambil dari rumahnya, kemudian merangsek sampai kamar tidur,” kata Roy Suryo.
Menurut Roy, dirinya baru tiba di rumah sekitar pukul 02.00 WIB setelah menghadiri sebuah kegiatan di Bandung, Jawa Barat.
Karena kelelahan, ia sempat tertidur di kursi sebelum terbangun untuk menunaikan salat Subuh.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 07.00 WIB, suasana rumah mendadak ramai. Bunyi bel dan ketukan pintu yang keras membuatnya terkejut.
Roy mengaku sempat memantau kondisi di luar rumah melalui kamera CCTV. Awalnya, ia mengira kedatangan sejumlah orang tersebut berkaitan dengan pengiriman paket.
Namun, setelah diperhatikan lebih lanjut, ia menyadari bahwa kedatangan mereka berkaitan dengan proses penangkapan dirinya.
Dalam keterangannya, Roy juga menyoroti penampilan para petugas yang sebagian menggunakan penutup wajah.
Ia mengaku baru merasa tenang setelah mengenali suara salah satu perwira polisi yang berada di lokasi.
Menurutnya, tanpa mengenali sosok tersebut, situasi yang terjadi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman karena petugas datang dengan atribut yang tidak mudah dikenali dari jarak jauh.
“Kalau saya tidak mengenali salah satu suara itu, mungkin saya akan marah. Mungkin saya enggak bisa membedakan lagi antara perampok dengan petugas kepolisian karena mereka menggunakan tutup kepala,” ucapnya.
Roy juga mengaku sempat mempertanyakan identitas yang diperlihatkan petugas saat proses penangkapan berlangsung.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu alasan yang kemudian mendasari langkah hukumnya untuk menguji prosedur penangkapan yang dilakukan penyidik.
Selain menceritakan pengalaman penangkapannya, Roy Suryo juga diketahui telah mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Permohonan tersebut diajukan untuk menguji sah atau tidaknya tindakan penangkapan dan penahanan yang sebelumnya dilakukan oleh penyidik Polda Metro Jaya.
Gugatan tersebut telah terdaftar dengan nomor perkara 99/Pid.Pra/2026/PN JKT.SEL.
Dalam berkas permohonan, pihak termohon pertama adalah Pemerintah Republik Indonesia melalui jajaran Polda Metro Jaya dan penyidik yang menangani perkara tersebut.
Sementara itu, termohon kedua adalah Pemerintah Republik Indonesia melalui Kejaksaan Agung RI dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.
Hingga kini, rincian lengkap petitum atau tuntutan dalam permohonan praperadilan tersebut belum dipublikasikan pada Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Berdasarkan jadwal yang tercantum, sidang perdana praperadilan Roy Suryo direncanakan berlangsung pada 29 Juni 2026 mendatang.
Sidang tersebut diperkirakan akan menjadi perhatian publik karena berkaitan dengan proses hukum yang menjerat mantan Menteri Pemuda dan Olahraga tersebut.
Sumber: Akurat