DEMOCRAZY.ID – Sempat beredar kabar bahwa ijazah Jokowi hanya lulusan D3 Universitas Gadjah Mada (UGM).
Hal itu muncul setelah Polda Metro Jaya menggelar gelar perkara kasus terkait tudingan ijazah palsu Jokowi.
Di bagian layar jumpa pers, ada jurusan sarjana muda yang diambil.
Polri menyatakan bahwa Presiden RI ke-5 Jokow Widodo memiliki ijazah asli dari Fakultas Kehutanan UGM yang lulus tahun 1985.
Penyidik Polda Metro Jaya telah memanggil puluhan saksi, terdiri dari pihak sekolah Jokowi semasa SMA dan akademisi dari UGM.
Terkait dengan foto dokumen Jokowi yang mengambil sarjana muda, pada saat itu memang diberlakukan UGM.
Menurut dosen senior UGM, Prof Bagas Pujilaksono, sebelum tahun 1986, yang lulus sarjana sudah menempuh sarjana muda dulu.
“Sehingga Kalau dia wisuda sebelum tahun 1986, pasti dia punya ijazah sarjana muda dan ijazah sarjana,” kata Prof Bagas Pujilaksono, dikutip Senin, 13 Oktober 2025 di kanal YouTube Balige Academy.
“Sarjana muda itu tidak ada wisuda, itu hanya jenjang akademik,” jelasny a.
Dia menegaskan bahwa UGM saat itu mengantu zero DO dan sangat jarang mengeluarkan mahasiswa.
“Jarang sekali drop out, UGM menganut zero DO, kecuali DO sendiri, karena batas waktu 9 tahun,” jelasnya.
Dia mencontohkan, ketika ada yang teman satu angkatannya, mau bimbingan skripsi.
“Saya bimbing kemudian tidak kembali lagi,” jelasnya.
Dikatakan, dulu ada yang gara-gara 8 SKS yakni skripsi, bisa menghambat kelulusan. Dan bisa menggugurkan hanya 100 lebih SKS.
Pada akhirnya tetap diluluskan meski dengan IP rendah.
“Dengan IP 2,2 segitu kan dia bisa wiraswata dan akhirnya lulus,” jelasnya dosen UGM sejak 1989 ini.
Dia menegaskan bahwa KKN, itu wajib, karena itu ciri UGM sebagai kampus kerakyatan.
Dulu KKN yang mengusulkan lmarhum Prof Kusnadi, dari Fakultas Hukum.
Prof Bagas Pujilaksono berinisiatid menemui Rismon Sianipar, penggungat ijazah Jokowi untuk meluruskan informasi yang tidak benar.
“Motivasi saya menjumpai Rismon Sianipar, ketika hal yang diartikan keliru, secara tidak langsung, terkait dengan UGM, sehingga UGM terbawa dalam pusaran politik,” pungkasnya.
Sumber: SuaraMerdeka