Gak Terima Prabowo Disenggol, Idrus Marham Julidin Narasi Ekonomi Anies: Jangan Bikin Rakyat Cemas!

DEMOCRAZY.ID – Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mengajak seluruh elite politik, termasuk eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, untuk membangun narasi optimisme di tengah tekanan ekonomi global yang sedang dihadapi Indonesia.

Menurut Idrus, kritik terhadap pemerintah merupakan hal wajar dalam sistem demokrasi.

Namun, kritik sebaiknya tetap menghadirkan solusi dan tidak memperbesar kecemasan masyarakat.

“Bangsa ini jangan terus-menerus disuguhi narasi kegelapan. Kritik boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Tapi kritik juga harus menghadirkan optimisme, solusi, dan semangat persatuan. Jangan sampai rakyat dibuat makin cemas menghadapi keadaan,” kata Idrus kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan Idrus menanggapi video yang diunggah Anies melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu (20/5/2026), yang menyoroti kondisi ekonomi nasional.

Dalam video tersebut, Anies menyebut masyarakat tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah, naiknya harga kebutuhan pokok, hingga turunnya daya beli masyarakat.

Tekanan Ekonomi Global Dinilai Wajar

Menanggapi hal itu, Idrus menilai kondisi ekonomi penuh tantangan saat ini bukan hanya dialami Indonesia.

Ia menyebut hampir seluruh negara menghadapi tekanan serupa akibat dinamika geopolitik global, penguatan dolar Amerika Serikat, hingga ancaman perlambatan ekonomi dunia.

“Hatta Amerika pun mengalami kondisi yang sama!” ujar Idrus.

Menurut dia, tantangan ekonomi global harus dipahami sebagai bagian dari dinamika yang wajar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Semua pasti berada dalam skema yang dinamis-fluktuatif. Kadang naik, kadang turun, itu biasa. Jangan dicemaskan menjadi narasi yang menciutkan nyali,” paparnya.

Jangan Bangun Narasi Pesimistis

Idrus menilai yang dibutuhkan saat ini adalah narasi mengenai ketangguhan dan soliditas bangsa.

Sebab, apabila elite politik terus membangun suasana pesimistis, hal itu dikhawatirkan dapat memengaruhi psikologis masyarakat hingga kepercayaan pasar.

“Kalau elite politik terus berbicara seakan-akan negeri ini runtuh, pasar bisa terganggu dan rakyat kehilangan kepercayaan diri. Padahal bangsa ini sudah berkali-kali membuktikan mampu bertahan menghadapi krisis besar,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang menenangkan di tengah situasi global yang belum menentu.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mengajak seluruh elite politik, termasuk eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, untuk membangun narasi optimisme di tengah tekanan ekonomi global yang sedang dihadapi Indonesia.

Menurut Idrus, kritik terhadap pemerintah merupakan hal wajar dalam sistem demokrasi. Namun, kritik sebaiknya tetap menghadirkan solusi dan tidak memperbesar kecemasan masyarakat.

“Bangsa ini jangan terus-menerus disuguhi narasi kegelapan. Kritik boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Tapi kritik juga harus menghadirkan optimisme, solusi, dan semangat persatuan. Jangan sampai rakyat dibuat makin cemas menghadapi keadaan,” kata Idrus kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan Idrus menanggapi video yang diunggah Anies melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu (20/5/2026), yang menyoroti kondisi ekonomi nasional.

Dalam video tersebut, Anies menyebut masyarakat tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah, naiknya harga kebutuhan pokok, hingga turunnya daya beli masyarakat.

Tekanan Ekonomi Global Dinilai Wajar

Menanggapi hal itu, Idrus menilai kondisi ekonomi penuh tantangan saat ini bukan hanya dialami Indonesia.

Ia menyebut hampir seluruh negara menghadapi tekanan serupa akibat dinamika geopolitik global, penguatan dolar Amerika Serikat, hingga ancaman perlambatan ekonomi dunia.

“Hatta Amerika pun mengalami kondisi yang sama!” ujar Idrus.

Menurut dia, tantangan ekonomi global harus dipahami sebagai bagian dari dinamika yang wajar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Semua pasti berada dalam skema yang dinamis-fluktuatif. Kadang naik, kadang turun, itu biasa. Jangan dicemaskan menjadi narasi yang menciutkan nyali,” paparnya.

Jangan Bangun Narasi Pesimistis

Idrus menilai yang dibutuhkan saat ini adalah narasi mengenai ketangguhan dan soliditas bangsa.

Sebab, apabila elite politik terus membangun suasana pesimistis, hal itu dikhawatirkan dapat memengaruhi psikologis masyarakat hingga kepercayaan pasar.

“Kalau elite politik terus berbicara seakan-akan negeri ini runtuh, pasar bisa terganggu dan rakyat kehilangan kepercayaan diri. Padahal bangsa ini sudah berkali-kali membuktikan mampu bertahan menghadapi krisis besar,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang menenangkan di tengah situasi global yang belum menentu.

“Rakyat butuh energi positif, bukan ketakutan yang diproduksi terus-menerus. Jangan sedikit-sedikit menggambarkan Indonesia gelap. Kita harus serius menghadapi masalah, tapi juga harus yakin bangsa ini punya kekuatan untuk bangkit,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Idrus turut mengapresiasi pidato Presiden RI Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR sehari sebelumnya.

Menurut Idrus, Prabowo menunjukkan tradisi politik baru dengan menyampaikan kondisi ekonomi nasional secara terbuka kepada publik.

“Beliau datang secara terbuka dan blak-blakan menjelaskan bagaimana potret riil ekonomi Indonesia hari ini. Itu artinya beliau mengajak kita memahami persoalan dan merespons tantangan dengan positif dan optimisme,” tuturnya.

Idrus menilai keterbukaan Presiden menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap arah pembangunan.

Anies: Rupiah Melemah, Ekonomi Makin Berat

Sebelumnya, dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Anies menyebut masyarakat saat ini merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat.

“Nilai tukar rupiah melemah, harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat menurun, dan banyak keluarga merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi realitas yang dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Anies.

Ia menegaskan pernyataannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai ajakan agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan bekerja lebih serius.

“Saya menyampaikan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai ajakan agar kita semua lebih peka terhadap keadaan,” ujar Anies.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya