

DEMOCRAZY.ID – Iran ternyata telah memulai kembali produksi dronenya, selama gencatan senjata enam minggu di perang dengan Amerika Serikat (AS).
Negeri itu bahkan disebut bisa “dengan cepat membangun kembali kemampuan militernya” yang sebelumnya disebut Presiden AS Donald Trump “sudah dilumpuhkan”.
Hal ini dikatakan dua sumber intelijen, sebagaimana dimuat laporan CNN International, Jumat (22/5/2026). Empat sumber lain juga mengatakan demikian.
“Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan oleh komunitas intelijen untuk pembangunan kembali,” kata pejabat AS tersebut.
Bukan cuma drone, pembangunan kembali kemampuan militer ini termasuk penggantian lokasi rudal, peluncur, dan kapasitas produksi untuk sistem senjata utama yang hancur selama konflik saat ini.
Dikatakan laman itu lagi, dengan pernyataan sumber-sumber tersebut, Iran tetap menjadi ancaman signifikan bagi sekutu regional jika Trump memulai kembali kampanye pengeboman.
Fakta baru ini juga mempertanyakan klaim tentang sejauh mana serangan AS-Israel telah melemahkan militer Iran dalam jangka panjang.
Meskipun waktu untuk memulai kembali produksi berbagai komponen senjata bervariasi, beberapa perkiraan intelijen AS menunjukkan bahwa Iran dapat sepenuhnya membangun kembali kemampuan serangan drone-nya dalam waktu sesingkat enam bulan.
“Sementara itu, Iran juga masih mempertahankan kemampuan rudal balistik, serangan drone, dan pertahanan udara meskipun mengalami kerusakan serius akibat serangan AS-Israel, menurut penilaian intelijen AS baru-baru ini, yang berarti pembangunan kembali kapasitas produksi militer dengan cepat tidak dimulai dari nol,” tulis CNN International masih merujuk sumber.
“Secara keseluruhan, laporan intelijen AS baru-baru ini secara umum menunjukkan bahwa perang telah menurunkan kemampuan militer Iran, tetapi tidak menghancurkannya, dengan Iran menunjukkan bahwa mereka dapat secara efektif membatasi dampak jangka panjang perang dengan cepat membangun kembali kekuatan mereka setelah serangan tersebut,” tambahnya.
Di sisi lain, muncul tuduhan adanya bantuan China dalam hal ini. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada CBS pekan lalu bahwa China memberi Iran “komponen pembuatan rudal” tetapi menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun membantah tuduhan tersebut selama konferensi pers. Ia menyebut tuduhan itu “tidak berdasarkan fakta”.
Sementara itu, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa militer Amerika adalah yang terkuat di dunia.
AS memiliki semua yang dibutuhkan untuk mengeksekusi pada waktu dan tempat.
“Kami telah melaksanakan beberapa operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang lengkap untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami,” tambah Parnell.
Sumber: CNBC