Ir. Sutami: Menteri Indonesia Termiskin Sepanjang Masa yang Enggan Serok Duit Negara

DEMOCRAZY.ID – Bayangkan seorang menteri yang delapan kali dipercaya memimpin proyek besar negara, tapi tetap menjalani hidup sangat sederhana tanpa harta berlebih.

Siapakah sosok yang memilih integritas dan tanggung jawab di atas kekayaan pribadi ini?

Bayangkan, seseorang yang delapan kali dipercaya menjabat sebagai menteri, memimpin proyek-proyek besar berskala nasional, namun menteri ini memilih hidup sederhana hingga akhir hayat.

Bukan karena tidak mempunyai kesempatan untuk kaya, namun karena ia sadar bahwa kekuasaan bukan alat untuk memperkaya diri, melainkan tanggung jawab besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Dialah Ir. Sutami, sosok menteri yang dikenal karena kejujuran dan integritasnya.

Di saat banyak pejabat menggunakan jabatan sebagai jalan pintas menuju kemewahan, Ir. Sutami justru menjauh dari gaya hidup itu.

Ia lebih memilih amanah daripada kemapanan duniawi.

Lalu, apa yang membuat Ir. Sutami begitu berbeda dari pejabat-pejabat lain di masanya?

Bagaimana bisa seorang menteri justru dijuluki sebagai menteri termiskin dalam sejarah Indonesia?

Mengenal Ir. Sutami

Ir. Sutami, lahir di Surakarta pada 19 Oktober 1928, adalah seorang insinyur sipil yang namanya tercatat dalam sejarah pembangunan Indonesia.

Karier pemerintahan Ir. Sutami dimulai pada era Presiden Soekarno, ketika ia dipercaya sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Dwikora I tahun 1964.

Ia kembali dipercaya mengisi posisi serupa di Kabinet Dwikora II tahun 1966.

Kemampuannya yang mumpuni dan integritas tinggi membuatnya tetap bertahan hingga era Presiden Soeharto, di mana ia menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum selama empat periode, dari tahun 1965 hingga 1978.

Perjalanan panjang di pemerintahan itu tidak menjadikannya kaya secara materi, namun membuatnya sangat kaya secara moral dan keteladanan.

Selama menjabat, Ir. Sutami tak hanya duduk di balik meja. Ia benar-benar berperan langsung dalam pembangunan infrastruktur.

Di bawah pengawasannya, berbagai proyek berskala nasional dibangun dan masih kokoh hingga kini, antara lain:

  • Gedung DPR/MPR RI
  • Jembatan Semanggi
  • Waduk Jatiluhur
  • Bandara Ngurah Rai Bali
  • Jembatan Musi di Palembang

Meski berjasa besar bagi bangsa, Sutami tetap hidup sederhana dan rendah hati.

Ia sempat menyampaikan keinginannya untuk tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata karena merasa belum pantas menyandang gelar pahlawan.

Akhirnya, Ir. Sutami dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Apa yang Membuat Ir. Sutami Jadi Menteri Termiskin Indonesia Sepanjang Masa?

Sebagai menteri yang menangani proyek-proyek besar nasional, Ir. Sutami jelas punya akses pada kekuasaan dan anggaran yang sangat besar.

Tapi, justru di situlah keteguhan karakternya terlihat. Ir. Sutami tak pernah sekalipun menggunakan jabatan untuk memperkaya diri.

Rumah pribadi Ir. Sutami yang terletak di Solo sangat sederhana, bahkan saat banyak tamu datang bersilaturahmi saat Lebaran, mereka mendapati atap rumah yang bocor dan perabotan tua.

Kondisi itu bukan karena ia tak mampu memperbaiki, namun karena ia memilih hidup bersahaja dan tidak mau menyentuh fasilitas negara untuk keperluan pribadi.

Ketika masa jabatannya berakhir, semua fasilitas negara ia kembalikan, termasuk mobil dinas.

Seorang pengusaha bahkan sempat menawarkan mobil sebagai hadiah, tapi Ir. Sutami menolaknya.

Ia hanya minta sedikit potongan harga, lalu membeli mobil itu dengan uang sendiri.

Ir. Sutami juga dikenal sangat rajin turun langsung ke lapangan. Ia rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk meninjau proyek di daerah-daerah terpencil.

Karena kedisiplinannya yang luar biasa, wartawan sampai menjulukinya “menteri yang tidak punya udel”, seolah tak kenal lelah dan tak kenal istirahat.

Di tengah gaya hidup mewah banyak pejabat, Ir. Sutami justru menjauh dari semua itu.

Ia sadar betul bahwa jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di akhirat. Ia tidak tertarik mengejar simbol status, tak terpikat fasilitas, dan tak silau oleh kekayaan.

Inilah yang membuat Ir. Sutami dikenang bukan hanya karena prestasi teknisnya dalam pembangunan, tetapi karena integritasnya yang utuh.

Ia bukan menteri biasa, Ir. Sutami adalah simbol bahwa kejujuran dan kesederhanaan bisa berjalan seiring dengan jabatan tinggi.

Fakta-Fakta Menarik Mengenai Ir. Sutami

1. Hidup Sederhana Meski 14 Tahun Jadi Menteri

Selama lebih dari satu dekade menjabat sebagai menteri, Ir. Sutami tetap hidup dalam kesederhanaan.

Rumah pribadinya jauh dari kata layak untuk ukuran pejabat, atapnya bocor, penghasilannya pas-pasan, dan ia tak pernah mengambil keuntungan dari jabatan yang diembannya.

Kesaksian mengenai kehidupan pribadi Ir. Sutami ini disampaikan oleh Hendropranoto Suselo, yang saat itu menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum.

Cerita tersebut dimuat dalam edisi khusus Majalah Prisma, terbitan LP3ES tahun 1991, yang diterbitkan dalam rangka memperingati 20 tahun perjalanan majalah tersebut di Jakarta.

2. Rumah Gelap karena Listrik Diputus

Suatu kali, PLN memutus aliran listrik di rumah Ir. Sutami karena tunggakan tagihan. Ironisnya, saat itu ia masih menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik.

3. Takut ke Rumah Sakit karena Tak Punya Biaya

Ketika sakit parah akibat penyakit liver, Ir. Sutami enggan dirawat di rumah sakit.

Alasannya sederhana namun menyayat, yaitu ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya pengobatan.

Pemerintah akhirnya turun tangan, dan Presiden Soeharto sendiri menjenguk.

Namun sayang, penanganan terlambat, Ir. Sutami wafat pada 13 November 1980, di usia 52 tahun.

4. Menolak Korupsi, Mengembalikan Segala Fasilitas

Setelah purna tugas, Sutami tak hanya menyerahkan kembali mobil dinas dan rumah negara, tetapi juga menolak segala bentuk hadiah atau fasilitas dari pihak manapun.

Bahkan, rumah yang ia tinggali di Jakarta dibeli dengan cara mencicil, dan baru lunas menjelang pensiun.

5. Prestasi Besar yang Tak Banyak Dipublikasikan

Meskipun hidup sederhana, Ir. Sutami mencetak prestasi luar biasa dalam dunia infrastruktur.

Di bawah kepemimpinannya, berdiri proyek-proyek vital, seperti Gedung DPR, Waduk Jatiluhur, Jembatan Semanggi, hingga Bandara Ngurah Rai.

Sebagai penghargaan, Bendungan Karangkates di Malang diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan nama Bendungan Sutami, yang mana ini sebuah bentuk penghormatan atas jasa dan dedikasi Ir. Sutami yang tulus.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya