

DEMOCRAZY.ID – Dada Jumariah berdebar kencang saat kakinya melangkah memasuki pelataran Masjidil Haram, Minggu (10/5/2026).
Di bawah terik langit Makkah, perempuan lanjut usia itu berulang kali mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitam yang ia kenakan.
Lalu, momen magis itu tiba. Ketika bangunan kubus terbungkus kain kiswah hitam megah itu tegak berdiri persis di depan matanya, pertahanan Jumariah runtuh. Air matanya tumpah ruah.
Itulah pemandangan yang ia langitkan dalam doa selama puluhan tahun silam.
Sebuah mimpi yang ia rawat dalam kesendirian, sejak ia berpisah dengan sang suami dan menjalani hidup sebatang kara.
“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucapnya lirih saat ditemui di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah, Arab Saudi, tempat menginapnya bersama jemaah haji Embarkasi Makassar Kloter 14 (UPG-14).
Kenangan melihat Baitullah itu kembali membuat matanya berkaca-kaca, sebelum jemari rentanya dengan cepat menyeka air mata itu lagi.
Kisah Jumariah bukan sekadar cerita seorang lansia yang akhirnya berangkat haji.
Di balik tubuh renta dan langkah perlahan itu, tersimpan keteguhan iman, disiplin hidup, serta perjuangan panjang selama puluhan tahun yang kini justru mengantarkannya menjadi ikon global promosi Haji 2026 Kerajaan Arab Saudi.
Jumariah merupakan jamaah haji lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ia bahkan tak lagi mengingat pasti usianya.
Yang ia tahu, dirinya kini berada di kisaran usia 70-an tahun.
Di kampung halamannya, kehidupan Jumariah berlangsung sederhana dan sunyi.
Tidak ada keluarga besar yang menemaninya setiap hari.
Rumah panggung kecil di pelosok Maros menjadi saksi bagaimana ia bertahan hidup seorang diri selama bertahun-tahun.
Namun, kesunyian itu tak pernah membuatnya menyerah.
Setiap pagi selepas Subuh, ia memulai aktivitas dengan memberi makan ayam peliharaan, membersihkan rumah, lalu memasak untuk dirinya sendiri.
Setelah itu, sekitar pukul 09.00 pagi, ia berjalan membawa sabit menuju kebun ubi milik tetangganya.
Tak berhenti di situ, ia masih melanjutkan perjalanan sekitar 50 meter menuju sawah kecil miliknya seluas 15 are untuk membersihkan padi.
“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin,” kenangnya sambil tersenyum.
Bagi Jumariah, kerja keras bukan sekadar cara bertahan hidup. Sawah dan kebun menjadi ruang sunyi tempat ia menitipkan harapan kepada Allah SWT.
Di tengah keterbatasan hidup dan kesendirian, ia percaya selalu ada Tuhan yang menemani.
Keyakinan itulah yang membuat impian berhaji terus hidup di dalam dirinya.
Jumariah tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia tak bisa membaca dan menulis. Namun, keterbatasan itu tak pernah menjadi alasan untuk menyerah pada keadaan.
Dua puluh tahun lalu, ia mulai menyusun strategi sederhana demi mewujudkan cita-cita berhaji. Sedikit demi sedikit uang hasil kerja kerasnya disimpan di dalam ember di rumahnya.
“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember. Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” tuturnya polos.
Tidak ada rekening bank. Tidak ada investasi besar. Ember plastik itulah yang menjadi “tabungan masa depan” seorang perempuan lansia di pelosok Maros.
Tahun 2011 menjadi titik penting dalam hidupnya. Setelah tabungan di ember mencapai Rp25 juta, Jumariah akhirnya memberanikan diri mendaftar haji dengan bantuan kemenakan jauhnya.
Namun, perjuangan belum selesai. Setelah resmi terdaftar, ritme menabungnya justru semakin keras demi melunasi seluruh biaya perjalanan haji.
Penantiannya berlangsung panjang. Bertahun-tahun ia menjaga harapan itu sambil tetap bekerja di sawah dan kebun.
Hingga akhirnya, namanya resmi tercantum sebagai jamaah yang berangkat pada musim Haji 2026.
Semangat Jumariah justru semakin berkobar menjelang keberangkatan. Meski usia tak lagi muda, ia menunjukkan disiplin luar biasa.
Jarak 15 kilometer dari rumah menuju lokasi manasik tidak pernah menjadi alasan baginya untuk menyerah.
Lebih dari 80 kali sesi manasik yang digelar Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) diikutinya tanpa absen.
Ia bahkan selalu duduk di barisan paling depan demi menyimak arahan muthawwif dengan saksama.
Ketekunan dan kesederhanaannya akhirnya menarik perhatian Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros.
Kisah hidupnya kemudian diajukan ke Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sebagai bagian dari dokumenter “Makkah Route”.
“Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” ungkap Ketua Kloter UPG-14, Sitti Hawaisyah.
Tak butuh waktu lama bagi tim dokumenter untuk merekam kehidupan Jumariah.
Hanya sekitar empat jam proses pengambilan gambar dilakukan di Maros.
Namun, siapa sangka, dokumenter sederhana tentang nenek pencari ubi itu kini berubah menjadi materi promosi internasional Kerajaan Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026.
Dari rumah panggung sederhana di pelosok Sulawesi Selatan, nama Jumariah kini dikenal dunia.
Perjalanan menuju Tanah Suci menjadi pengalaman pertama Jumariah naik pesawat terbang. Rasa takut sempat muncul ketika pesawat mulai lepas landas.
“Sempat ada rasa takut waktu naik (pesawat), tapi setelah itu nyaman,” katanya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi tuanya.
Namun, sesampainya di Madinah, semangat ibadahnya justru membuat banyak orang kagum. Ia mampu beriktikaf di Masjid Nabawi sejak azan Asar hingga selesai salat Isya berjamaah.
Dengan bantuan rombongan kloter yang sigap mendampinginya, Jumariah juga berhasil masuk ke Raudhah.
Ketangguhan itu terus berlanjut saat berada di Makkah.
Sejak tiba pada Sabtu (9/5/2026), ia telah menuntaskan tiga kali umrah, terdiri dari satu umrah wajib dan dua umrah sunnah.
Hebatnya lagi, ia hampir tidak pernah mengeluh sakit.
“Di tanda pengenal saya ini ada tanda merah, artinya saya punya riwayat sakit. Tapi di gelang Nenek Jumariah bersih, dia sehat total,” puji Sitti Hawaisyah.
Marwati, tetangga sekaligus rekan sekloternya dari Maros, juga mengaku kagum dengan semangat Jumariah.
“Selama umrah beliau paling semangat. Kita yang muda ini sudah kecapekan, beliau masih mau jalan,” ujarnya.
Ketika ditanya rahasia tubuh sehatnya, Jawaban Jumariah begitu sederhana.
“Ke sawah setiap hari, dan banyak minum air.”
Selain itu, ia mengaku selalu menjaga hati dan pikirannya agar tidak mudah stres.
Ia juga tidak pernah memilih makanan selama di Tanah Suci, terutama jika tersedia udang, makanan favoritnya.
Kini, langkah Jumariah tinggal menunggu satu fase terpenting dalam perjalanan hajinya: wukuf di Padang Arafah.
Kurang dari sepuluh hari lagi, perempuan yang selama puluhan tahun menabung uang di dalam ember itu akan berdiri di hamparan Arafah, berdialog langsung dengan Tuhannya.
Kisah Jumariah menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya tentang kemampuan materi, tetapi juga tentang kesabaran, keteguhan hati, dan keyakinan yang terus dijaga dalam sunyi.
Di tengah dunia yang serba cepat dan gemerlap, perempuan renta dari pelosok Maros itu justru membuktikan bahwa mimpi terbesar kadang lahir dari kehidupan yang paling sederhana.
Sumber: Inilah