Berani Bener! Tantang Netizen Cek LHKPN, Ternyata Segini Kekayaan Juri LCC 4 Pilar MPR RI

DEMOCRAZY.ID – Dua juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI menjadi sorotan usai diduga tidak adil dalam memberikan nilai terhadap peserta lomba.

Video LCC 4 Pilar MPR RI di Kalimantan Barat itu viral dan menuai kecaman setelah dua juri memberikan nilai berbeda untuk jawaban dua kelompok yang sama.

Terlebih kedua juri yang ternyata Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pejabat MPR RI itu menolak dikritik oleh para siswa yang protes dengan pemberian nilai yang tidak adil.

Diduga status whatsapp seorang juri pun viral dan menantang untuk laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) nya untuk diculik oleh publik.

Kedua juri tersebut ternyata memiliki nominal harta yang berbeda jauh.

Untuk juri wanita Indri Wahyuni yang menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI memiliki harta total Rp3.986.628.752

Sementara itu juri lainnya Dyastasita Widya Budi yang menjabat sebagai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi MPR RI memiliki harta Rp581.220.940.

Adapun rincian harta Indri Wahyuni terdiri dari rumah dan bangunan hasil warisan di Palembang senilai Rp3.500.000.000 dan Rp850.000.000.

Kemudian juga harta bergerak senilai Rp525.000.000, kas setara kas Rp110.000.000 serta utang Rp998.371.248.

Sehingga total harta kekayaan Indri Wahyuni Rp3.986.628.752.

Sementara itu harta Dyastasita Widya Budi lebih kecil yakni Rp581.220.940 terdiri dari tanah dan bangunan di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat senilai Rp697.120.000.

Kas dan setara kas senilai Rp 1.675.031 dan utang Rp117.574.091.

Baik Dyastasita dan Indri mengaku tidak memiliki harta transportasi pribadi.

Sebelumnya viral seorang siswa di kegiatan Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mengkritik dewan juri saat acara siaran langsung di Youtube.

Pasalnya dewan juri tersebut dianggap tidak adil dalam memberikan penilaian terhadap peserta.

Di mana dalam kegiatan itu, juri memberikan nilai berbeda terhadap jawaban yang sama.

Awalnya, pembawa acara memberi pertanyaan bantahan untuk tiga grup yang berlomba. Pertanyaan itu terkait proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun untuk menjadi anggota BPK, keterkaitan dengan perwakilan daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?” tanya pembawa acara dikutip dari YouTube MPR, Senin (11/5/2026).

Grup C dari SMAN 1 Pontianak kemudian menekan bel terlebih dahulu dan dipersilahkan untuk menjawab.

Salah satu peserta menjawab anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.

“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” kata peserta dari Grup C.

Salah satu dewan juri yakni Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita memberi nilai -5 terhadap jawaban Grup C itu.

Pertanyaan lalu dibacakan kembali dan Grup B dari SMAN 1 Sambas menjawab pertanyaan itu. Jawaban dari Grup B sama dengan Grup C.

“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” kata peserta dari Grup B.

Dewan juri yang sama lalu memberi nilai 10 terhadap jawaban itu.

“Iya, inti penjelasannya sudah benar. Nilai 10,” kata Dyastasita

Mendengar jawaban yang sama namun nilai berbeda, seorang peserta pun melayangkan protes.

Namun, Dyastasita tetap kukuh dengan penilaiannya sambil mengatakan keputusan mutlak ada di dewan juri.

Video tersebut memantik reaksi netizen. Netizen kecewa dengan lomba cerdas cermat Empat Pilar MPR RI yang ternyata dianggap tidak mencerminkan nilai empat pilar.

Terlebih keputusan juri disebut janggal lantaran memberikan nilai berbeda untuk jawaban yang sama.

Ditambah Dewan Juri juga menutup perdebatan tersebut dengan menyebut bahwa keputusan mutlak ada di dewan juri tanpa alasan yang logis.

“Miris ya di lomba cerdas cermat pun kebenaran harus dibungkam,” komentar netizen.

“Bukannya perlombaan tingkat nasional gitu harus bisa banding dengan melihat tayangan rekaman saat itu juga ya, sehingga juri bisa langsung menganulir putusannya dan memberikan nilai yang adil,” komentar netizen lainnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya