Keterlaluan! Eks Kabais Sebut Teror Air Keras Hanya ‘Kenakalan’, GMNI Meradang: Logika Macam Apa Ini?

DEMOCRAZY.ID – Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B. Ponto mengatakan tindakan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus oleh empat prajurit TNI bukan merupakan operasi intelijen.

Soleman menilai jika hal yang dilakukan bisa disebut kenakalan dari prajurit yang sudah dilatih.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) Amir Mahfud mengutuk keras pernyataan tersebut.

“Lucu sekali. Menyiram aktivis dengan air keras kok disebut ‘kenakalan’. Kalau begini, besok kalau ada yang ditembak mati atau diculik, pasti juga akan disebut ‘kenakalan anak muda’ atau ‘salah tembak’. Peradilan militer ini bukan pengadilan, tapi panggung sandiwara untuk memutihkan dosa dan melindungi pelaku,” kata Amir Mahfud, Selasa (12/5/2026).

Amir Mahfud mengatakan peradilan militer ini semakin menjadi lelucon publik.

Pelaku diadili oleh sesama institusi, saksi dikontrol, fakta dikerdilkan, dan ujung-ujungnya ingin mengatakan bahwa kejahatan negara hanyalah ‘ulah nakal’ oknum.

“Ini bukan keadilan, ini badut-badut hukum yang sedang berusaha mengelabui rakyat,” kata dia.

GMNI mendesak Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) segera membuka secara transparan seluruh proses penyidikan kasus ini kepada publik.

Tidak boleh ada lagi ruang gelap, tidak boleh ada saksi yang disembunyikan, dan tidak boleh ada upaya membatasi penyelidikan hanya pada pelaku lapangan.

TGPF harus mengungkap jika ada dugaan rantai komando hingga level tertinggi.

“Impunitas adalah racun bagi demokrasi. Kalau kejahatan seberat ini masih bisa dikemas menjadi ‘kenakalan’, maka demokrasi Indonesia ini hanya demokrasi pura-pura,” tegas Amir Mahfud.

GMNI akan terus mengawal kasus ini hingga keadilan substantif ditegakkan, bukan keadilan sandiwara militer.

Organisasi berdiri teguh bersama Andrie Yunus dan seluruh korban pelanggaran HAM.

Pernyataan Ponto

Soleman B. Ponto menegaskan tindakan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus oleh empat prajurit TNI bukan merupakan operasi intelijen.

Hal itu dikatakan Soleman saat dihadirkan menjadi ahli dalam sidang lanjutan perkara penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada Kamis (7/5/2026).

Pernyataan itu muncul berawal dari tim penasehat hukum 4 terdakwa yang bertanya soal apakah yang dilakukan kliennya merupakan tindakan operasi intelijen atau bukan.

Soleman menilai jika hal yang dilakukan bisa disebut kenakalan dari prajurit yang sudah dilatih.

“Karena dari segi perencanaan, kemudian motifnya, itu tidak terpenuhi dari operasi intelijen. Jadi menurut ahli apa yang dilakukan oleh terdakwa, apakah itu masuk kategori operasi intelijen atau itu bukan operasi intelijen? Yang selama ini yang sudah saksi ketahui dan lihat,” kata penasihat hukum.

“Jadi kalau dilihat ini, itu sama sekali tidak masuk operasi intelijen. Kalau saya sebagai Kabais saat itu, atau sekarang misalkan saya atasannya, hanya (cek) melihat itu kenakalan. Kita akan melihat itu kenakalan. Itulah kenakalan orang-orang yang terpilih, terdidik, terlatih,” jawab Soleman.

Ia mengutip keterangan ahli lainnya yang dihadirkan dalam persidangan yakni Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri soal tidak diketahuinya isi hati dari para terdakwa saat itu.

“Tetapi ketika menemukan pemicu, maka munculah ide-ide kenakalan seperti ini,” ucapnya.

Soleman membantah jika ada yang mengaitkan masalah ini dengan operasi intelijen. Hal tersebut karena tidak sesuai dengan syarat-syarat yang berlaku.

“Karena bagi kita operasi intelijen itu, tadi saya ulangi lagi, tidak meninggalkan jejak. Itu dilatih, orang-orangnya dipilih, dilatih. Enam bulan sekali kita latihan itu. Karena apa? Tujuannya strategis negara. Tadi sudah ditulis, tujuannya strategis untuk negara,” tuturnya.

“Tetapi, jangan lupa, walaupun untuk itu negara, pelaksanaanya adalah tetap manusia. Manusia yang masih punya hati, yang punya masalah sendiri-sendiri, yang kalau terpicu dia akan menghasilkan tindakan yang akan menggunakan kapabilitas yang dia miliki,” jelasnya.

Ia mengatakan kepribadian prajurit juga bisa dibedakan dari tingkatan jenis pangkat. Menurutnya, prajurit dengan latar belakang Bintara, akan cepat terprovokasi atau sumbu pendek.

“Para Pama ini dia akan menjaga bagaimana kontrol saya terhadap Bintara ini. Itu kontradiksi, kalau dia tidak ikut, ‘Ah kau ngapain? Di mana beranimu?’ Nah, si Bintara, ‘Ini negeri ini sudah diinjak-injak masa saya tidak berbuat? Saya harus berbuat.’ Nah ketika dia berbuat, ‘Tapi saya punya apa? Alat saya ada apa?’ Dia sudah tidak lihat lagi resikonya. Karena tadi, sampainya hanya di tingkat kenakalan-kenakalan akhirnya,” jelasnya.

Sehingga, jika kasus ini merupakan operasi intelijen, kata Soleman, maka kasus penyiraman air keras itu tidak akan menguak ke publik.

“Buktinya apa? Dia tidak lihat resiko. Orang nakal kan tidak lihat resiko. Ah itu buktinya. Tidak lihat resiko. Tapi kalau itu memang dirancang, ya kita tidak akan ada di sidang ini. Tidak ada jejak itu,” jelasnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya