DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Vatikan setelah pertemuan Paus Leo dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, yang menyebut keduanya berjanji meningkatkan hubungan bilateral, dinilai sebagai pengakuan adanya ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut sejumlah orang dalam dan analis.
Dilansir Reuters, pertemuan Rubio dengan Leo pada Kamis (7/5/2026), paus pertama asal AS, menarik perhatian luas setelah Presiden Donald Trump berulang kali menyerang pemimpin Gereja Katolik tersebut terkait perang Iran.
Pernyataan Vatikan usai pertemuan selama 45 menit itu, yang merupakan pertemuan pertama antara paus dan pejabat kabinet Trump dalam hampir satu tahun, menyebut kedua pemimpin “memperbarui komitmen bersama untuk membangun hubungan bilateral yang baik.”
“Pernyataan itu dengan jelas menunjukkan bahwa saat ini masih ada pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Peter Martin, mantan diplomat Kedutaan Besar AS untuk Tahta Suci yang pernah bertugas di bawah pemerintahan Demokrat maupun Republik, kepada Reuters.
Austen Ivereigh, pakar Vatikan yang ikut menulis buku bersama mendiang Paus Fransiskus, mengatakan fokus pernyataan tersebut pada perlunya membangun hubungan bilateral menunjukkan bahwa “hubungan mereka saat ini memang tidak baik.”
Kedutaan Besar AS untuk Tahta Suci menulis di X setelah pertemuan bahwa Leo dan Rubio membahas “topik-topik kepentingan bersama di Belahan Barat.”
“Kemitraan Amerika Serikat dan Tahta Suci dalam memajukan kebebasan beragama tetap kuat,” tulis Rubio di X, merujuk pada pertemuan lanjutan dengan pejabat senior Vatikan pada Kamis.
Namun, pernyataan Vatikan yang mencakup pertemuan Leo-Rubio dan agenda lanjutan Rubio tidak menyebut Belahan Barat maupun kebebasan beragama.
Vatikan hanya mengatakan ada “pertukaran pandangan” mengenai situasi dunia, tanpa menyebut area kesepakatan konkret selain upaya membangun hubungan bilateral yang lebih baik.
Kenneth Hackett, yang memimpin badan bantuan luar negeri Gereja Katolik AS selama 18 tahun sebelum menjadi Duta Besar untuk Tahta Suci di era mantan Presiden Barack Obama, mengatakan pernyataan Vatikan mengindikasikan “tidak ada kesepakatan substantif.”
Sangat tidak biasa bagi Vatikan memberi kesan bahwa mereka tidak memiliki hubungan baik dengan suatu negara asing.
Setelah pertemuan terpisah antara Leo dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk pada hari yang sama, Vatikan justru menyatakan pejabat diplomatiknya “menyampaikan kepuasan atas hubungan baik” antara Polandia dan Vatikan.
Martin, yang bekerja di Kedutaan AS saat Trump bertemu mendiang Paus Fransiskus pada 2017, mencatat bahwa pernyataan Vatikan kala itu juga menggunakan frasa serupa: “menyampaikan kepuasan atas hubungan baik” antara AS dan Vatikan.
“Dalam dunia diplomasi—terutama diplomasi Vatikan—setiap kata memiliki arti,” ujar Martin, yang kini mengajar di Boston College, Massachusetts.
Leo memicu kemarahan Trump setelah menjadi kritikus perang AS-Israel terhadap Iran serta kebijakan imigrasi keras pemerintahan Trump.
Trump dalam beberapa pekan terakhir melancarkan serangkaian serangan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap paus tersebut, memicu reaksi keras dari para pemimpin Kristen lintas spektrum politik.
Trump dan Leo, yang menjadi paus setahun lalu, belum pernah bertemu secara langsung.
Pernyataan Vatikan pada Kamis juga dinilai tidak biasa karena mengungkap isi pembahasan dalam pertemuan paus dengan Rubio.
Biasanya, rilis seperti itu ditulis sangat hati-hati dan hanya mengungkap topik yang dibahas dalam pertemuan pejabat tamu dengan diplomat senior Vatikan, bukan isi pertemuan dengan paus.
Ivereigh mengatakan Vatikan perlu mengeluarkan pernyataan karena tingginya perhatian media serta “mengantisipasi kemungkinan narasi versi Gedung Putih.”
Terakhir kali Vatikan mengungkap detail isi pertemuan paus terjadi pada September lalu setelah Leo bertemu Presiden Israel Isaac Herzog, ketika disebut paus mengangkat “situasi tragis di Gaza.”
Sumber: Tribun