Ancaman Taktik ‘Adu Domba’ Trump di Balik Pengumuman Genjatan Senjata di Lebanon

DEMOCRAZY.ID – Pengumuman mendadak mengenai genjatan senjata di Lebanon oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dicurigai sebagai manuver manipulatif untuk menutupi keberhasilan tekanan diplomatik luar biasa dari Republik Islam Iran.

Menyitat media Iran, Tasnim News, mereka menilai langkah sepihak Washington ini dianggap sebagai upaya licik untuk mengaburkan peran Poros Perlawanan yang selama ini menjadi tembok penghalang bagi agresi militer Zionis Israel di kawasan Asia Barat.

Alih-alih mengakui realitas di lapangan, Donald Trump bersama sekutu dekatnya justru mencoba membingkai kesepakatan ini sebagai keberhasilan negosiasi eksklusif dengan pemerintah Beirut guna memicu perpecahan internal di Lebanon.

Upaya Menghapus Jejak Diplomasi Iran

Tekanan serius yang diberikan oleh Republik Islam Iran terhadap pihak Amerika Serikat untuk segera menerapkan genjatan senjata sebenarnya bukan lagi menjadi rahasia bagi publik internasional.

Berbagai sumber media, baik dari kawasan Timur Tengah maupun Barat, telah mengonfirmasi bahwa keteguhan Teheran dalam membela kedaulatan Lebanon menjadi faktor kunci yang memaksa AS mengambil langkah mundur.

Namun, Donald Trump bersama lingkaran pejabat Zionis Israel kini secara aktif berupaya memutus narasi keterlibatan Iran dalam proses tercapainya perdamaian sementara tersebut.

Mereka dengan sengaja menghubungkan pencapaian genjatan senjata ini murni sebagai hasil pembicaraan antara Washington, rezim Zionis, dan pemerintah resmi Lebanon.

“Strategi komunikasi ini dijalankan secara masif untuk meremehkan peran krusial kelompok Perlawanan yang secara fisik memberikan perlawanan paling sengit di garis depan pertempuran,” demikian pernyataan Tasnim News.

Rekam Jejak Kemunafikan Agresi Zionis

Publik perlu mengingat kembali bahwa rezim Zionis Israel telah menyerang wilayah kedaulatan Lebanon lebih dari 400 kali dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir.

Selama periode serangan brutal yang terjadi sebelum meletusnya perang ketiga yang dipaksakan terhadap Iran tersebut, Israel secara konsisten menolak dan mengabaikan segala bentuk seruan genjatan senjata.

Pada saat itu, baik Washington maupun Tel Aviv sama sekali tidak pernah menunjukkan itikad untuk mengundang pemerintah Lebanon dalam meja negosiasi yang setara.

Secara fundamental, para pejabat Amerika Serikat dan Zionis memang tidak pernah memandang pemerintah Lebanon memiliki kekuatan tawar untuk menekan rezim penjajah tersebut.

“Sudut pandang yang tiba-tiba berubah ini menunjukkan bahwa pengakuan terhadap pemerintah Lebanon saat ini hanyalah alat politik demi melayani kepentingan keamanan Israel yang mulai terdesak’ tulis Tasnim News.
Taktik Deceptive untuk Memecah Belah Rakyat

Mengenai cara penyampaian pengumuman genjatan senjata ini, situasi yang berkembang menunjukkan adanya langkah penipuan terstruktur dari pihak Gedung Putih.

Amerika Serikat dan Israel ingin menyajikan gencatan senjata ini sebagai “perjanjian resmi” dengan pemerintah Lebanon demi memisahkan dukungan rakyat terhadap kekuatan Perlawanan.

Dengan mengoperasionalkan tekanan genjatan senjata lewat jalur birokrasi, mereka berharap dapat menciptakan disosiasi atau pemisahan antara kepentingan negara dengan kelompok pejuang.

Tasnim News menyebut, agenda tersembunyi ini juga bertujuan untuk mengeksploitasi sensitivitas politik lokal sebagai bagian dari kebijakan jahat mereka dalam menyebarkan perselisihan internal di Lebanon.

Langkah Donald Trump ini dinilai sebagai upaya untuk menanam benih fitnah agar rakyat Lebanon saling mencurigai satu sama lain di tengah reruntuhan akibat serangan musuh.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya