Iran Seret 5 Negara Arab ke PBB, Tuntut Bayar ‘Ganti Rugi’ Atas Serangan AS-Israel!

DEMOCRAZY.ID – Pemerintah Iran secara resmi menuntut ganti rugi ke lima negara Arab yang dituduh terlibat dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Kelima negara tersebut adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Yordania.

Dalam surat tuntutan yang telah ditandatangani oleh Utusan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani dan dikirimkan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, serta Presiden Dewan Keamanan PBB, Jamal Fares Alrowaiei Iran menilai lima negara Arab tersebut telah melanggar kewajiban internasional.

Bukan tanpa alasan, kelima negara tersebut diduga memberikan dukungan terhadap operasi militer AS-Israel.

Iran menyebut dukungan tersebut tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga mencakup berbagai bentuk keterlibatan yang dinilai berkontribusi langsung terhadap serangan.

Bentuk dukungan yang dimaksud antara lain penyediaan fasilitas militer, bantuan logistik, serta pemberian izin penggunaan wilayah udara bagi AS dan Israel untuk menyerang Iran sejak 28 Februari 2026.

Menurut Teheran, tindakan tersebut melanggar prinsip dasar hukum internasional, khususnya terkait kedaulatan negara dan larangan membantu agresi militer terhadap negara lain.

Iran menilai, negara-negara yang terlibat seharusnya menjaga netralitas dan tidak memfasilitasi serangan yang dapat memperburuk konflik.

Terlebih serangan yang terjadi dilaporkan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dalam skala besar di wilayah Iran.

Oleh sebab itu, negara-negara arab harus memberikan ganti rugi penuh, termasuk kompensasi atas semua kerusakan materiil yang terjadi.

“Dengan tindakan mereka yang melanggar hukum internasional, mereka telah melanggar kewajiban internasional mereka kepada Republik Islam Iran berdasarkan hukum internasional, sehingga menimbulkan tanggung jawab internasional mereka,” kata Iravani, dikutip dari Anadolu.

Iran Tanggung Kerugian Besar akibat Serangan AS-Israel
Adapun serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 menimbulkan kerugian besar, baik dari sisi korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah negara tersebut.

Berdasarkan laporan sejumlah lembaga internasional dan media kredibel, jumlah korban jiwa di Iran terus meningkat seiring berjalannya konflik.

Data terbaru menyebutkan lebih dari 3.000 orang tewas selama perang berlangsung, sementara puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka.

Sebelumnya, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) juga melaporkan sedikitnya 1.900 orang tewas dan lebih dari 20.000 orang terluka sejak awal serangan.

Selain korban jiwa, kerugian material yang dialami Iran juga sangat signifikan.

Otoritas kemanusiaan Iran mencatat lebih dari 85.000 fasilitas sipil mengalami kerusakan, termasuk infrastruktur penting seperti permukiman, layanan publik, dan fasilitas umum.

Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga memicu gangguan sosial dan ekonomi secara luas.

Namun dikhawatirkan dapat menghambat distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, serta aktivitas masyarakat sehari-hari.

Tuntutan Iran Picu Konflik Lanjutan

Sejauh ini Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Yordania belum memberikan respon apapun, tuntutan Iran terhadap lima negara Arab menjadi babak baru dalam konflik Timur Tengah yang semakin kompleks.

Sejumlah analis menilai, tuntutan tersebut digunakan Iran untuk menekan negara-negara Arab yang dianggap berpihak dalam konflik.

Dengan membawa isu ini ke ranah global, Iran berupaya memperkuat posisinya di forum internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Selain itu, langkah ini juga dinilai sebagai upaya mendorong investigasi internasional terhadap dugaan keterlibatan pihak-pihak lain dalam serangan militer yang terjadi.

Iran ingin memastikan bahwa konflik tersebut mendapat perhatian dunia dan diproses melalui mekanisme hukum internasional.

Namun demikian, langkah tersebut dinilai memiliki risiko besar terhadap stabilitas kawasan.

Tuntutan terbuka terhadap beberapa negara Arab berpotensi memperburuk hubungan diplomatik yang selama ini sudah tegang.

Pengamat menilai, jika situasi ini tidak dikelola melalui jalur diplomasi yang efektif, ketegangan dapat berkembang menjadi konflik lanjutan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini dikhawatirkan tidak hanya melibatkan negara-negara yang bersengketa saat ini, tetapi juga menarik lebih banyak pihak ke dalam konflik.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya