DEMOCRAZY.ID – Pakar otomotif, Fitra Eri, memberikan pandangan berbeda terkait kebijakan pemerintah yang mewajibkan penggunaan bahan bakar campuran etanol mulai 2026.
Jika sebelumnya Politikus PDIP, Ferdinand Hutahaean, menilai kebijakan tersebut aman dan sudah lazim di dunia internasional, Fitra justru mengingatkan bahwa penggunaan etanol tidak sesederhana itu.
Dikatakan Fitea, etanol memang memiliki sejumlah kelebihan.
Salah satunya dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta meningkatkan angka oktan dengan mudah.
“Kelebihannya yang pertama, mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. Kedua, bisa meningkatkan oktan dengan mudah,” ujar Fitra di trheads (9/10/2025).
Namun, Fitra menegaskan bahwa di balik kelebihannya, etanol juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu diwaspadai.
Salah satunya, nilai energi etanol yang lebih rendah dibanding bahan bakar fosil.
“Nilai energinya tidak sebanyak bahan bakar fosil. Sehingga dengan volume yang sama, tenaga sedikit berkurang, konsumsi bahan bakar lebih boros,” jelasnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa sifat dasar etanol yang mudah menyerap air dari udara dapat menimbulkan risiko korosi pada mesin, terutama di negara beriklim lembap seperti Indonesia.
“Etanol itu menyerap air dari atmosfer. Kita tahu bahwa air itu korosif, makanya etanol juga memiliki korosif ke mesin,” imbuhnya.
Meski begitu, Fitra menegaskan bahwa penggunaan etanol tetap aman asalkan kendaraan yang digunakan memang dirancang untuk itu.
“Ya aman asal mesin yang kita pakai memang sudah dirancang untuk menggunakan etanol. Artinya, mesin itu sudah memiliki metal, jalur bahan bakarnya tahan karat, serta bahan bakar yang digunakan sudah memiliki aditif yang dirancang dari awal untuk dicampur dengan etanol,” tandasnya.
Sebelumnya, Politikus PDI Perjuangan, Ferdinand Hutahaean, menyebut langkah Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang mewajibkan pencampuran BBM dengan etanol bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.
Dikatakan Ferdinand, kebijakan tersebut sudah lazim diterapkan di berbagai negara.
Ferdinand menjelaskan bahwa pencampuran etanol ke dalam bensin merupakan praktik umum dalam industri energi global.
Ia menekankan, Indonesia bahkan telah lebih dulu menerapkan konsep serupa melalui campuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) pada bahan bakar solar.
“Campuran etanol terhadap BBM itu adalah hal yang biasa di seluruh dunia. Tidak bermasalah. Bahkan kita itu sudah melakukan campuran FAME terhadap solar,” ujar Ferdinand kepada fajar.co.id, Kamis (9/10/2025).
Ferdinand menambahkan bahwa saat ini Indonesia sudah mencapai 40 persen campuran FAME ke dalam solar.
Sementara etanol, kata dia, merupakan campuran untuk bensin yang memiliki prinsip serupa.
“FAME itu campuran untuk solar, etanol itu campuran untuk bensin. Jadi tidak ada bedanya,” tegasnya.
Ia menilai kebijakan Bahlil tidak menimbulkan persoalan teknis maupun risiko terhadap kendaraan bermotor.
“Jadi yang disampaikan Bahlil itu sebetulnya tidak ada masalah. Aman-aman saja kok,” Ferdinand menuturkan.
“Apalagi mobil produk-produk terbaru sekarang itu sudah kompatibel dengan BBM campuran etanol sampai dengan 10 persen,” tambahnya.
Ferdinand juga menegaskan bahwa kebijakan pencampuran BBM dengan etanol bukan hal baru, karena sudah lama diterapkan di berbagai negara besar.
“Di seluruh dunia juga ini sudah berlangsung kok. Di Amerika, di Eropa, Brazil bahkan sampai 30 persen tidak ada masalah,” ucapnya.
Kata Ferdinand, kebijakan ini justru merupakan langkah positif dalam mendukung energi terbarukan dan upaya global menekan pemanasan bumi.
“Dan ini adalah bagian dari upaya dunia untuk mengurangi pemanasan global dengan menggunakan bioenergi. Energi terbarukan kategorinya,” imbuhnya.
Sumber: Fajar