DEMOCRAZY.ID – Potongan video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla yang beredar di media sosial menuai polemik setelah disertai narasi yang menuduhnya menistakan ajaran Kekristenan.
Video tersebut menampilkan pernyataan JK terkait konflik Poso dan Ambon, khususnya penggunaan istilah “mati syahid” oleh pihak-pihak yang bertikai.
Namun, juru bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan tuduhan tersebut tidak tepat karena berasal dari pemotongan konteks ceramah.
Menurut Husain, pernyataan JK disampaikan dalam ceramah di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada pada Kamis (5/3/2026) dan merujuk pada realitas konflik sosial bernuansa agama di masa lalu.
“Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun kelompok Kristen sama-sama menyerukan ‘perang suci’ dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid. Itu fakta sejarah, karena itu baik konflik Poso maupun Ambon disebut bernuansa SARA. Konflik yang saat itu menewaskan ribuan orang, bukan pendapat pribadi Pak JK,” ujar Husain di Jakarta, Sabtu (10/4).
Husain menegaskan, JK tidak sedang menyampaikan ajaran teologi, melainkan menjelaskan konteks konflik yang terjadi saat itu.
Ia juga menyebut tujuan utama ceramah tersebut adalah meluruskan pemahaman yang keliru di tengah konflik.
Menurut Husain, pada banyak kesempatan Pak JK selalu menjelaskan tentang pernyataannya yang saat itu bagaimana mengubah pemahaman kedua pihak, bahwa yang mereka lakukan bukan perang suci, tidak akan masuk surga, melainkan neraka bagi mereka yang membunuh tanpa alasan yang jelas.
“Karena apa yang dilakukan pihak pihak yang bertikai sudah melampaui batas kemanusiaan. Membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua. Perbuatan yang jelas melanggar nilai-nilai cinta kasih. Artinya, Pak JK justru meluruskan pemahaman keliru ini,” tegas Husain.
Menurut dia, kritik JK terhadap klaim syahid dalam konflik tersebut turut mendorong kedua pihak untuk menempuh jalur damai melalui perundingan di Malino, Sulawesi Selatan.
Konflik Poso dan Ambon yang terjadi sekitar 27 tahun lalu menewaskan ribuan orang.
Konflik tersebut kemudian diselesaikan melalui Perundingan Malino I (2001) dan Malino II (2002) yang dimediasi oleh Jusuf Kalla, menghasilkan kesepakatan damai yang dikenal sebagai Deklarasi Malino.
Sumber: Liputan6