DEMOCRAZY.ID – Sebuah pertemuan tak biasa terjadi di kediaman pribadi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sumber, Solo.
Sosok hakim senior yang dikenal publik lewat ketegasannya dalam kasus “Kopi Sianida”, Binsar Gultom, mendadak muncul dan memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan.
Bukan membahas soal vonis hukum atau perkara masa lalu, Binsar justru melontarkan pesan yang terasa “pedas” sekaligus menjadi tamparan bagi kondisi sosial masyarakat saat ini. Ada apa sebenarnya?
Usai bertemu dengan Presiden Jokowi, Binsar Gultom tidak banyak bicara mengenai agenda kedatangannya.
Namun, satu hal yang ia garis bawahi dengan sangat tajam adalah soal etika dan perilaku publik di ruang siber maupun nyata.
Jangan menjelek-jelekan orang lain,” ujar Binsar Gultom dengan nada serius
Pesan ini dianggap “pedas” karena terlontar di saat atmosfer media sosial sering kali dipenuhi dengan hujatan, fitnah, dan upaya saling menjatuhkan antar-kelompok.
Binsar seolah ingin mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat bukan berarti bebas menghancurkan martabat sesama.
Munculnya pesan ini tepat setelah pertemuan dengan Presiden memicu spekulasi di kalangan publik.
Banyak yang menilai ini adalah sinyal kekhawatiran dari pihak yudikatif terhadap degradasi moral dan kesantunan bangsa.
Sebagai seorang hakim yang terbiasa menangani konflik manusia, Binsar Gultom nampaknya melihat bahwa akar dari banyak persoalan hukum dimulai dari lisan yang tidak terjaga.
Pertemuan dengan Jokowi di Solo pun seolah menjadi panggung yang tepat untuk menyuarakan keresahan tersebut.
Pernyataan “jangan menjelekkan” ini langsung viral di media sosial.
Sebagian netizen menganggap ini sebagai pengingat agar masyarakat tetap menjaga adab, namun sebagian lain melihatnya sebagai teguran bagi siapa pun yang hobi menebar kebencian demi kepentingan tertentu.
Kedekatan Binsar dengan Presiden Jokowi dalam momen santai di Solo ini mempertegas bahwa urusan etika bangsa adalah tanggung jawab besar yang harus dipikul bersama, melampaui urusan politik praktis.
Pertemuan ini meninggalkan satu tanda tanya besar bagi publik: Seberapa parahkah tingkat “saling menjelekkan” di negeri ini hingga seorang hakim sekaliber Binsar Gultom merasa perlu bersuara usai bertemu Presiden?
Yang pasti, pesan “pedas” dari Solo ini kini menjadi bola panas yang menantang kita semua untuk lebih bijak dalam bertutur kata.
Sumber: Akurat