Oleh: Edy Mulyadi | Wartawan Senior
“Kalau saya harus minta maaf dan menarik semua, betapa hinanya Rismon Hasiholan Sianipar. Lebih baik mati. Jangankan ancaman penjara, hei Joko Widodo, ancaman mati pun saya hadapi.”
Kalimat-kalimat terdengar gagah itu masih terngiang. Kini diputar berulang. Kalimat yang keras. Heroik. Tapi sayang, kalimat yang akhirnya berbalik menghantam dirinya si pelontarnya sendiri.
Sejarah kemudian mencatat, si pemilik kalimat, Rismon Hasiholan Sianipar, memilih menghinakan diri. Bukan kata publik. Tapi kata dirinya sendiri. Dia minta maaf kepada Jokowi. Juga kepada keluarga bekas tukang mebel asal Solo itu.
Ya, Rismon meminta maaf. Padahal sebelumnya ia sendiri berkata: “Betapa hinanya.” Nama Joko Widodo dia ucapkan dengan penuh hormat: Bapak Joko Widodo. Nama Gibran Rakabuming Raka pun disebut: Bapak Gibran dengan takzim.
Lalu dia datang ke Solo. Bertemu Jokowi. Kemudian mendatangi kantor wakil presiden. Bercengkrama. Saling lempar senyum. Berpelukan di depan kamera. Plus pulang menenteng hadiah hampers.
Drama politik yang tragis. Bukan karena seseorang meminta maaf. Meminta maaf bukan aib. Dalam banyak keadaan, justru itu kemuliaan. Tapi karena kontras yang terlalu tajam antara kata dan tindakan.
Publik masih ingat bagaimana Rismon Hasiholan Sianipar berbicara dengan nada penuh keyakinan. Ia menyatakan temuan digital forensic tentang ijazah presiden.
Ia menyebut angka kelewat fantastis. 11.000 triliun persen ijazah Jokowi palsu. Dia menantang sidang terbuka. Rismon juga menyatakan siap menghadapi ancaman penjara, bahkan ancaman nyawa.
Itu bukan kalimat biasa. Ini deklarasi perang. Sayangnya, perang itu cepat berakhir, bahkan sebelum peluru pertama dilepaskan.
Di titik inilah tragedi itu terjadi. Bukan sekadar perubahan sikap. Yang terjadi adalah perubahan yang teramat total.
Dari menantang pengadilan menjadi meminta restorative justice. Dari menuduh menjadi siap menarik buku. Dari perlawanan menjadi permohonan maaf.
Tak pelak lagi, media sosial dibanjiri ejekan. Hinaan, cercaan, makian. Potongan video lama diputar ulang. Kalimat “lebih baik mati” menjadi bumerang. Jejak digital memang kejam.
Begitu seseorang berbicara terlalu jauh, publik akan menyimpan semuanya. Screenshot. Rekaman. Arsip. Tidak ada yang benar-benar hilang.
Di sinilah sejumlah pelajaran besar dari drama Rismon. Pertama, jangan pernah jumawa. Sombong. Merasa hebat, gagah, tak kenal takut. Berkoar siap menghadapi apa pun risiko.
Termasuk penjara. Bahkan kematian. Di jagat politik Indonesia kata-kata yang terlalu arogan sering kali berubah menjadi jerat.
Kedua, jangan pernah meremehkan kekuasaan. Selama sepuluh tahun Jokowi jadi presiden, kita melihat bagaimana kekuasaan bekerja di negeri ini. Para pengkritik dipanggil. Diperiksa. Dilaporkan. Diproses hukum. Sebagian dipenjara.
Nama-nama itu masih diingat publik. Ada ulama. Ada aktivis. Ada penulis, akademisi.
Kekuasaan memiliki perangkat yang lengkap: aparat, birokrasi, jaringan politik, dan tentu saja sumber daya finansial yang nyaris tak terbatas.
Dan seperti yang selalu terjadi dalam politik Indonesia, kekuasaan tidak pernah menyia-nyiakan momentum seperti itu. Jokowi sangat piawai dan doyan memainkan langgam ini. Jerat dipasang.
Lawan disodori iming-iming. Juga ancaman, sekaligus. Begitu seseorang menyerah, panggung segera diubah jadi arena penghinaan.
Dalam logika Rismon sendiri, semua itu adalah kehinaan. Meminta maaf. Menyebut Jokowi dengan takzim.
Datang ke Solo. Bahkan menyambangi Gibran di istana. Dia sendiri yang mendefinisikan semuanya sebagai kehinaan.
Belum lagi “bonus” dari publik. Cercaan, hujatan dan makian yang bagai tak berkesudahan. Dan, Jokowi amat menikmati semua kehinaan yang harus ditelan (bekas) lawannya.
Sejarah mencatat para pejuang. Mereka tegak berdiri melawan kezaliman. Sampai titik akhir. Tapi, sejarah juga menulis para pecundang. Keras di awal, lunak di tengah jalan.
Garang di depan, lunglai belakangan. Gagah di hulu, bersimpuh di bawah sepatu penguasa, bahkan yang telah pensiun.
Pelajaran pentingnya, jika seseorang sudah memilih posisi sebagai penantang kekuasaan, maka satu hal harus dipahami sejak awal: harga yang harus dibayar sangat mahal. Lebih mahal dari sekadar reputasi. Dan, faktanya, tidak semua orang sanggup membayar harga itu.
Di sinilah publik mengambil peran dengan ganas. Bukan cuma kritik. Ceritanya, hujatan, makian, hinaan bertubi-tubi. Tanpa ampun. Tanpa jeda. Pada titik ini, si pelaku benar-benar panen kehinaan.
Salahkah publik? Iya. Tapi, apa boleh buat, begitulah kejamnya jejak digital. Karena pada akhirnya, drama ini bukan hanya tentang satu orang bernama Rismon.
Ini adalah cermin dari politik Indonesia hari ini. Sebuah politik yang bukan cuma keras terhadap lawan, tetapi juga gemar mempermalukan mereka yang sudah menyerah. Kekuasaan bengis sering kali tidak puas hanya dengan kemenangan.
Ia ingin melihat lawannya berlutut. Lalu dipaksa menghinakan diri. Kemudian dihinakan di hadapan semua orang.
Maka pelajaran terbesarnya sederhana.
Jika tidak siap menghadapi ombak, jangan berumah di tepi pantai. Bila tak siap menanggung konsekuensi, jangan menantang kekuasaan.
Istiqomah. Ini kunci. Konsisten dalam perjuangan. Jangan pernah jumawa. Jangan pernah mengandalkan kemampuan diri. Setiap kita pada dasarnya lemah. Karenanya, mintalah selalu kepada Yang Maha Kuat.
Rasulullah SAW mengajarkan agar kita bermohon kepada Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, untuk tetap dalam iman dan istiqomah. Doa yang menyadari، bahwa hati manusia mudah berubah. Lelah. Kalah. Takluk. Doa berisi pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu meneguhkannya.
Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik wath thoatik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu dan ketaatan kepadaMu. Aamiin ya robbalalamiin… ***