DEMOCRAZY.ID – Keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105.000 unit kendaraan komersial dari India untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) ternyata menyimpan cacat teknis yang fatal.
Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyebut pengadaan ini berpotensi menjadi “bom waktu” operasional di lapangan.
Kritik tajam Yannes bukan tanpa alasan. Ia menyoroti spesifikasi mesin kendaraan asal India yang rata-rata sudah menganut standar emisi BS-VI (Bharat Stage 6) atau setara dengan Euro 6.
Mesin modern yang sangat presisi ini membutuhkan bahan bakar diesel (solar) murni berkualitas tinggi.
Sementara itu, ketersediaan bahan bakar di pelosok Indonesia didominasi oleh Biodiesel B40 yang memiliki karakteristik jauh berbeda.
“Setahu saya, mesin India itu memiliki spesifikasi Euro 6 yang sangat presisi dan butuh solar murni, sehingga berpotensi tidak kompatibel dengan Biodiesel B40 Indonesia yang tinggi air dan asam lemak,” tegas Yannes di Jakarta, dalam keterangannya, dikutip Jumat (27/2).
Jika dipaksakan beroperasi tanpa adanya penyesuaian (downgrade) mesin dan komponen jalur bahan bakar secara menyeluruh, kendaraan-kendaraan ini rawan mengalami kerusakan fatal dalam waktu singkat.
elain masalah bahan bakar, Yannes juga memperingatkan krisis layanan purnajual (aftersales).
Diler dan ketersediaan suku cadang merek asal India tidak tersebar merata di seluruh pelosok Nusantara.
Padahal, mobil-mobil ini ditujukan untuk operasional tingkat desa.
Kondisi ini mematahkan narasi “penghematan anggaran” yang dibanggakan oleh pihak pengimpor.
“Jika situasi ini benar-benar terjadi, maka efisiensi harga beli (CAPEX) yang dibanggakan Agrinas akan habis tertelan oleh tingginya biaya perawatan (OPEX) dan lumpuhnya distribusi pangan nasional,” papar Yannes.
Meski melontarkan kritik keras, Yannes tetap memberikan catatan objektif.
Secara hitung-hitungan korporasi di atas kertas, langkah direksi Agrinas ini memang terlihat seperti sebuah “prestasi”.
Mereka dinilai mampu menekan biaya belanja modal (CAPEX) hingga 20-50 persen dengan memanfaatkan skema ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA).
Langkah instan ini diambil demi mengejar target Asta Cita ke-2 terkait swasembada pangan, sekaligus memangkas waktu penyiapan rantai pasok.
“Namun, dari sisi spesifikasi kendaraan, jika tidak ada penyesuaian mesin dan parts-nya, pengadaan ini bakal jadi bom waktu operasional,” pungkasnya memperingatkan.
Sumber: Inilah