DEMOCRAZY.ID – Tragedi kebakaran kantor Terra Drone Indonesia di Kemayoran yang menelan korban jiwa hingga 22 orang tak hanya menyisakan duka.
Tetapi juga membuka kembali perhatian publik terhadap rekam jejak perusahaan teknologi ini.
Di balik citranya sebagai penyedia layanan pemetaan udara berbasis drone, Terra Drone ternyata memiliki peran besar dalam survei lahan skala luas, termasuk sektor perkebunan sawit di berbagai wilayah Sumatera.
Selama lima tahun terakhir, perusahaan ini tercatat aktif melakukan pemetaan udara untuk ratusan ribu hektare lahan, mulai dari survei area konsesi perkebunan hingga pemetaan detail untuk optimalisasi produksi.
Teknologi yang mereka gunakan memungkinkan identifikasi batas wilayah, kualitas tanaman, hingga potensi ekspansi lahan secara presisi.
Peran tersebut menjadikan Terra Drone sebagai salah satu pemain utama di balik survei udara berbagai perusahaan besar di Indonesia, meskipun selama ini jarang terekspos ke publik.
Kebakaran yang terjadi diduga dipicu oleh korsleting baterai litium drone yang tengah diisi daya.
Komponen baterai jenis ini memang sensitif terhadap panas dan kerusakan fisik, serta memerlukan prosedur pengisian yang ketat.
Di industri drone global, peristiwa serupa bukan hal baru, namun insiden fatal sebesar ini memunculkan pertanyaan tentang standar keselamatan yang diterapkan di kantor Terra Drone.
Sejumlah pihak mulai menyoroti apakah prosedur keamanan penyimpanan baterai telah memenuhi standar operasional.
Terlebih, kantor yang menjadi pusat kegiatan teknis penyimpanan perangkat dan baterai dipenuhi aktivitas pengisian secara simultan risiko yang memerlukan pengawasan ekstra.
Namun hingga kini, investigasi lengkap masih menunggu hasil resmi dari pihak kepolisian dan tim forensik.
Di sisi lain, muncul pula perhatian terhadap skala proyek pemetaan yang ditangani Terra Drone selama ini.
Dengan luas survei mencapai ratusan ribu hektare, perusahaan ini memiliki pengaruh signifikan dalam proses pemetaan konsesi yang sering dikaitkan dengan tata kelola lahan dan isu antropogenik lain, terutama di Sumatera.
Meski tidak terkait langsung dengan kebakaran, catatan tersebut menambah sorotan terhadap bagaimana perusahaan teknologi berbasis drone bekerja di balik industri perkebunan skala besar.
Publik mempertanyakan mengapa rekam jejak sebesar ini baru diketahui secara luas setelah terjadinya tragedi.
Sebagian analis menilai bahwa industri drone memang bekerja di balik layar, menjadikan perusahaan seperti Terra Drone jarang disorot dibanding sektor hilirnya.
Namun dengan insiden besar ini, transparansi dan akuntabilitas perusahaan teknologi dipastikan akan menjadi topik yang makin berkembang.
Meski investigasi penyebab kebakaran masih berjalan, kehilangan puluhan nyawa telah menjadi pengingat keras bahwa standar keselamatan di balik teknologi maju harus menjadi prioritas utama.
Tragedi ini sekaligus membuka tabir peran besar Terra Drone di industri pemetaan lahan Indonesia sebuah jejak panjang yang kini turut menjadi perhatian publik.
Sumber: PojokSatu