DEMOCRAZY.ID – Pemerintah Iran mengecam keras aksi penistaan dan penodaan Masjid Al Aqsa yang dilakukan ekstremis Zionis yang dipimpin Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir.
Teheran menyebut tindakan provokatif Itamar Ben-Gvir di Al Aqsa sebagai bagian dari rangkaian pelanggaran yang terus terjadi di wilayah Palestina.
Juru bicara pemerintah Iran, Esmaeil Baqaei menegaskan posisi Masjid Al-Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam dan situs suci yang memiliki nilai historis tinggi.
Menurutnya, tindakan tersebut merupakan upaya untuk mengubah identitas Islam dan sejarah kota suci Al-Quds serta memicu kemarahan umat Muslim dunia.
Itamar Ben-Gvir melakukan tindakan provokasi dengan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.
Ben-Gvir memasuki area masjid dengan pengawalan ketat aparat Israel dan didampingi para pemukim.
Ben-Gvir bahkan melakukan doa Yahudi di lokasi yang secara kesepakatan sejak 1967 hanya diperuntukkan bagi ibadah umat Muslim, meski non-Muslim diizinkan berkunjung.
Aksi ini memicu kecaman keras dari Palestina dan negara-negara kawasan karena dinilai melanggar status quo tempat suci tersebut.
Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius.
“Ini adalah penodaan kesucian Al-Aqsa, eskalasi yang tercela dan provokasi yang tidak dapat diterima,” demikian pernyataan resmi Kemenlu Yordania seperti dilansir dari Aljazeera.
Berikut 5 fakta kontroversial politisi 49 tahun tersebut.
Ben-Gvir menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional sejak 2022.
Dikutip dari Haaretz, pemikiran dan tindak tanduk Ben-Gvir sebagai pejabat publik didasari tradisi Kahanisme, ideologi ultra-nasionalis yang dianggap rasis dan anti-Arab.
Pemikiran kahanisme yang dianut oleh Ben-Gvir menurut sejumlah media Israel membangkitkan pemikiran rasis zionis kelompok sayap kanan.
Ben-Gvir menjadi salah satu pejabat di pemerintahan Benjamin Netanyahu yang paling keras bersuara untuk mengusir dan membinaskan warga Palestina.
Ben-Gvir mendukung penuh gerakan-gerakan sayap kanan zionis yang melakukan pengusiran dan tindakan barbar kepada warga Palestina.
Media Israel menyebut kontroversi Ben-Gvir bukan baru muncul setelah ia jadi menteri.
Ben-Gvir menghadapi puluhan dakwaan terkait hasutan dan ekstremisme sejak muda.
Ia bahkan pernah mengancam PM Israel Yitzhak Rabin di TV sebelum pembunuhannya.
Sejumlah jurnalis terkemuka Israel memberikan kritik tajam soal gaya, pernyataan dan sikap Ben-Gvir.
Analis militer Haaretz, Amos Harel, secara konsisten memperingatkan bahwa figur seperti Ben-Gvir dapat memicu eskalasi konflik dan instabilitas di Israel.
Kolumnis Haaretz menyebut perannya sebagai bagian dari pergeseran Israel menuju politik ultra-nasionalis
Sebagai menteri, ia mendorong pelonggaran kepemilikan senjata dan kebijakan keamanan yang lebih tegas.
Ben-Gvir juga mendukung hukuman mati bagi pelaku terorisme, yang menuai perdebatan luas baik di dalam maupun luar negeri.
Sumber: Suara